Jaket sudah kupakai. Tas sudah di punggung. Aku siap berangkat kerja pagi ini. Tapi pas aku cari-cari kunci motor ternyata tidak ada. Padahal aku ingat terakhir kali kunci itu ada di dapur, di tempat biasa.
Aku lalu mencarinya di semua tempat yang mungkin ada. Meja makan yang merangkap meja kerja di ruang depan. Dinding tempat biasa menggantung kunci. Bupet kecil di kamar utama. Meja kecil di kamar itu juga. Lemari. Saku celana. Saku jaket. Tapi nihil. Kunci itu tidak ada di sana.
Bunda, yang lagi mandiin Bani, hanya tersenyum nyindir padaku. Soale memang sudah terlalu sering aku kehilangan kunci seperti ini. Biasanya tidak ada di tempat biasa seperti meja dan gantungan, tapi ada di tempat lain. Ini beda. Aku sudah mencarinya ke semua tempat, bahkan sampai nungging melihat kolong bawah kulkas karena bisa jadi kunci itu jatuh lalu tertendang sampai sana, ternyata tetap tidak ada.
Aku agak putus asa pagi itu. Soale niat berangkat pagi harus tertunda gara-gara kunci. Sampai Bunda selesai mandiin Bani, aku masih cari-cari kunci itu.
Begitu selesai dimandiin, Bani langsung nyaut ke aku, “Unci, unci..”
“Ya, Bani. Ayah lagi cari kunci. Bani lihat gak?” kataku.
Eh, Bani yang masih melalung alias tanpa baju karena abis mandi itu langsung keluar rumah. Dia ke perpustakaan di depan dapur, yang memang sekaligus jadi tempat belajar dan bermain anak-anak gang termasuk Bani. Dia masuk lalu ambil sesuatu yang menempel di lubang kunci pintu. Itu kunci motorku..
Bani anakku yang membawa kunci itu ke sana kemarin sore. Dan dia masih mengingatnya. Ah, anakku. Tak hanya makin pinter, dia kini bertambah profesi, jadi juru kunci. 😀
Leave a Reply