Pak Walikota, Buatlah Tempat Nongkrong di Denpasar

Salah satu hal menarik yang saya temui ketika numpang lewat di Mataram, Jumat pekan lalu adalah adanya tempat nongkrong di kota ini. Di Jalan Udayana, sekitar Bandara Selaparang, ada lokasi yang memang diperuntukkan untuk warga kota duduk santai di sini. Tak hanya bersantai-santai tapi juga bersantap enak dan murah.

Rizal Hakam, sopir taksi yang mengantar saya ke sini menyebut tempat ini kawasan jalan Udayana. Begitu pula dengan pedagang kaki lima yang saya ajak ngobrol malam itu. Jadi memang tidak ada nama khusus untuk menyebut lokasi ini. Saya sebut saja tempat ini pusat lesehan Udayana. Agak unik saja sih. Udayana tapi ada di Mataram. 🙂

Continue reading “Pak Walikota, Buatlah Tempat Nongkrong di Denpasar”

Suara Mengaji di Cafe Senggigi

Berkunjung ke Senggigi, kawasan wisata paling tersohor di Lombok, pada bulan Puasa ternyata memiliki keunikan tersendiri. Suara orang tadarus di antara dentuman musik cafe atau lalu lalang orang usai tarawih di depan turis-turis menenggak bir jadi hal lumrah. Bagiku, kebersamaan dua sisi yang sering kali diposisikan berseberangan itu, adalah hal unik.

Kenikmatan duniawi, yang bagi sebagian orang adalah terlarang, nyatanya bisa berdampingan dengan kenikmatan rohani, yang bagi sebagian orang lain adalah ilusi.

Continue reading “Suara Mengaji di Cafe Senggigi”

Lomba Blog BBC untuk Kuta Karnival

Memeriahkan Kuta Karnival 2009 sekaligus menghidupkan kembali semangat ngeblog yang makin redup, Bali Blogger Communty (BBC) mengadakan Lomba Ngeblog untuk Umum. Lomba ini bertujuan untuk mengembangkan citizen journalism (jurnalisme warga) sebagai media informasi alternatif. Tulisan harus disertai foto, karena foto juga akan dinilai. Lomba terbuka bagi siapa saja yang berminat menulis . Adapun tema tulisan adalah tentang Kuta Karnival 2009.

Untuk mengikuti lomba blog kali ini, Peserta cukup mengirimkan link tulisan atau bisa mengirimkan tulisan melalui email : lombablogbbc2009@gmail.com.

Continue reading “Lomba Blog BBC untuk Kuta Karnival”

Sudah Bayar Dibentak Pula

Petugas berbaju batik putih biru itu menghalangi jalanku keluar dari gerbang Bandara Ngurah Rai Rabu pukul 9.30 Wita pagi ini. Dia berhenti dengan sepeda motornya di tengah satu-satunya jalur untuk keluar bandara tersebut.

Aku tekan bel. Dia lalu mundur dengan tatapan tak bersalah, apalagi minta maaf. Tidak apa-apa. Bukan masalah besar.

Continue reading “Sudah Bayar Dibentak Pula”

Makanan Mak Nyus Sekitar Kampus

Ketika masih jadi mahasiswa harga hemat adalah syarat utama untuk memilih warung tempat makan bagiku. Rasa nikmat dan nyamannya tempat itu urusan nomor kedua atau ketiga atau malah tidak penting sama sekali. Sebab kadang-kadang urutan pertama justru, apakah warung-warung itu menerima bon. Hehe..

Dengan alasan hemat itu pula, aku memilih warung-warung yang berada di daerah Sanglah Denpasar berikut. Warung-warung ini berada di sekitar kampus Universitas Udayana (Unud), universitas negeri terbesar di Bali.

Continue reading “Makanan Mak Nyus Sekitar Kampus”

Aksen “a” Para Penunggang Kuda

Bahasa Jawa itu punya banyak dialek atau logat. Satu tempat berbeda dialek dengan tempat lain. Karena beda dialek ini, dua orang yang berbicara pun kadang bingung pada makna kata lawan bicaranya satu sama lain meski sama-sama ngomong Bahasa Jawa.

Ini aku alami pula ketika di Bromo, Probolinggo. Pembicaraan sesama penunggang kuda yang memandu perjalanan ke puncak Bromo terdengar asing bagiku. Padahal mereka semua berbincang dalam bahasa Jawa, bahasa yang aku akrabi bahkan sejak aku belum lahir.

Continue reading “Aksen “a” Para Penunggang Kuda”

Racun Itu Kita Konsumsi Sehari-hari

Sejak sekitar April lalu, aku dan istri sepakat mengganti menu makanan sehari-hari. Selain kami makin mengurangi makan daging, terutama ayam pedaging yang penggemukannya disuntik testosteron itu, kami juga beralih ke produk organik.

Soal daging, sekali lagi terutama daging ayam broiler, salah satunya karena dipicu tayangan di TV tentang bagaimana peternakan ayam itu berlangsung dengan sangat sadis. Mulai dari pengeraman yang dilakukan mesin, lalu si bayi ayam langsung bertemu besi dan baja ketika lahir, penyuntikan terus menerus dengan testosteron agar ayamnya gemuk, sampai pembunuhan ayam yang lebih tepat disebut pembantaian.

Continue reading “Racun Itu Kita Konsumsi Sehari-hari”

Semburat Jingga dari Atas Awan

Kabut tebal menyambut perjalanan kami pagi pukul 4 pagi itu. Jarak pandang kurang dari 5 meter. Sinar lampu sepeda motor yang kami tumpangi tak berdaya melawan pekatnya kabut pagi itu.

Tebalnya kabut itu sudah terasa sejak aku meninggalkan penginapan di Cemorolawang, Probolinggo, di kawasan Bromo. Kabut itu bercampur dengan asap yang keluar dari mulutku tiap kali menghembuskan nafas.

Continue reading “Semburat Jingga dari Atas Awan”

Sekilas Mengenal Hindu Tengger

Setiap perjalanan adalah upaya untuk berdialog tentang sebuah kebudayaan. Begitu pula perjalanan sepanjang lautan pasir menuju Gunung Bromo. Suko, pemuda 23 tahun yang sudah jadi pemandu kuda selama tujuh tahun, bisa menjadi teman perjalanan sekaligus pemandu yang menyenangkan. Dia fasih menjelaskan tiap hal yang aku tanyakan tentang kebudayaan masyarakat setempat.

Salah satu yang membuatku tertarik ke Bromo, Probolinggo adalah para penunggang kuda dan lautan pasirnya. Maka begitu sampai di Cemorolawang, salah satu desa gerbang menuju Gunung Bromo, aku langsung cari kuda untuk menuju Bromo.

Continue reading “Sekilas Mengenal Hindu Tengger”

Napak Tilas Dian Sastro Ngesot

Jalur Probolinggo – Cemorolawang akhirnya jadi pilihanku untuk menuju Bromo. Jalur ini satu dari setidaknya empat jalur yang bisa ditempuh jika ingin ke Gunung Bromo. Tiga jalur lain ke Bromo Pasuruan – desa Wonokitri, desa Ngadas dari jalur Malang dan desa Burno dari Lumajang. Untuk sampai di Cemorolawang dari terminal Probolinggo perlu waktu 1,5 jam naik angkutan umum dengan jalan menanjak berkelok-kelok sekitar 30 menit terakhir. Tarif angkutan ini Rp 20 ribu – Rp 25 ribu.

Gunung ini secara administratif masuk Kabupaten Probolinggo. Cemorolawang adalah desa terakhir yang aku temui sebeum turun ke lautan pasir menuju Gunung Bromo. Di dusun yang masuk desa Ngadisari, Kecamatan Sukopuro ini ada fasilitas untuk turis seperti hotel, restoran, bahkan ATM BNI.

Continue reading “Napak Tilas Dian Sastro Ngesot”