Bersembahyang Sambil Jalan-jalan ke Menjangan

Pulau Menjangan

Seekor menjangan berdiri di pasir menyambut kami ketika baru berlabuh di dermaga selatan Pulau Menjangan Rabu (14/10) kemarin. Hewan seukuran anjing besar itu sepertinya masih muda. Sebab selain wajahnya yang masih imut-imut juga karena dia belum bertanduk sama sekali.

Menjangan itu berdiri di atas pasir putih. Dia sesekali melihat ke arah kami. Dia terlihat mencari air untuk minum karena berkali-kali memasukkan mulutnya ke air laut. Hewan pemakan rumput itu terlihat agak aneh di antara pasir, karang, dan air membiru di pulau yang sedang kering kerontang karena enam bulan tanpa hujan tersebut.

Continue reading “Bersembahyang Sambil Jalan-jalan ke Menjangan”

Karena Warga Berhak Bertanya

Ini sering terjadi. Ketika saya minta data dari sebuah kantor pemerintah, maka hasilnya pasti mengecewakan. Tidak semua lembaga pemerintah, memang. Tapi sebagian besar tidak bagus dalam memberikan informasi pada warga, termasuk wartawan.

Dua contoh yang saya ingat sekali adalah ketika meminta data ke Dinas Cipta Karya Badung di daerah Lumintang, Denpasar serta Badan Lingkungan Hidup Bali sekitar enam bulan lalu. Saat itu saya hendak menulis tentang maraknya pembangunan vila tak berizin di Bali. Saya hanya minta data tentang berapa banyak sih jumlah vila liar di Bali.

Continue reading “Karena Warga Berhak Bertanya”

Ketika Gurami Serasa McD

Gurami Goreng Tepung Warung Mina

Setelah mencoba menu yang sama di dua warung lain, saya tidak ragu menyebut menu ikan gurami goreng Warung Mina adalah yang terbaik di antara warung lainnya. Ikan gurami goreng di warung ini disajikan lebih enak. Keringnya lebih renyah, dagingnya lebih empuk, gurihnya lebih mantap, dan porsinya lebih tepat untuk perut.

Berbeda dengan restoran sejenis di daerah Renon yang menyediakan menu gurami goreng ini dalam gorengan yang tak terlalu renyah. Warung lainnya, menyajikan menu ini dalam porsi yang lebih kecil dan rasa terlalu asin. Tak tepat di lidah saya. Ini mungkin soal selera pribadi. Tapi beberapa teman makan di restoran lain mengiyakan pendapat saya.

Continue reading “Ketika Gurami Serasa McD”

Bertemu Pejuang Bali Keturunan Israel

Ashram Landih, Kintamani

Makan siang Selasa kemarin benar-benar sempurna. Menunya nasi putih dengan lauk ikan mujahir goreng dan kuah basa genep berisi daging ayam kampung. Sayurnya plecing kacang panjang. Ikan mujahir gorengnya yang gurih dan kriuk-kriuk benar-benar dahsyat. Aku sampai makan tiga potong ikan mujahir berwarna kecoklatan karena dugoreng kering ini.

Namun bagian paling enak dari menu kemarin adalah suasana dan lokasinya. Suhu dingin, berkisar belasan derajat, dengan kabut tipis membuat makanan yang tersaji hangat itu terasa sangat nikmat. Lalu kami menikmati menu itu di tepi tebing. Ada ngarai di bawah kami dan tebing lain di seberang ngarai tersebut. Pohon dan perdu menghijau di sekeliling.

Continue reading “Bertemu Pejuang Bali Keturunan Israel”

Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden

Prince William Tall Ship

Bulan Oktober selalu mengingatkanku pada Daniel Braden, pemuda asal London, Inggris. Kami tidak pernah bertemu secara fisik. Aku hanya membaca namanya di monumen Bom Bali di jalan Legian Kuta. Braden adalah salah satu dari 202 korban peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 lalu.

Namun kematian Braden melahirkan semangat baru bagi pacarnya, Jun Hirst, tentang perlunya membuat dialog lintas budaya antar-remaja. Menurut Jun, yang juga lahir dari keragaman Jepang – Inggris, peledakan bom di Kuta lahir dari fanatisme pada identitas diri dan kebencian pada identitas orang lain.

Continue reading “Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden”

Belajar Islam Saat Odalan

Sembahyang saat Odalan di Bali

Menjadi menantu orang Hindu Bali membuat saya juga harus bertoleransi pada upacara-upacara yang diadakan keluarga. Bukan hanya keluarga kecil seperti mertua atau saudara ipar tapi juga keluarga besar. Salah satu ciri khas Bali kan karena kuatnya ikatan di antara keluarga besar terutama saat upacara agama.

Saya tidak terlalu sering ikut upacara seperti pawiwahan (pernikahan), mepandes (potong gigi), atau odalan (perayaan enam bulanan pura keluarga atau desa). Biasanya sih alasannya karena sok sibuk atau karena memang agak malas juga. Bayangkan saja kalau odalan itu diadakan tiap enam bulan sekali di masing-masing keluarga. Kalau ada enam saudara yang mengadakan odalan, berarti bisa tiap bulan saya ikut upcara.

Continue reading “Belajar Islam Saat Odalan”

Menata Alur Penerbitan Media Kampus

Oleh Anton Muhajir

APA?
Kalau diibaratkan tubuh, Tim Redaksi adalah otak untuk sebuah tim pengelola majalah kampus. Tim Redaksi ini yang mengatur bagaimana sebuah tim bisa berjalan dengan baik. Tim Redaksi ini yang mengendalikan kapan anggota tim harus membuat perencanaan, melakukan peliputan, membuat tulisan, mengedit materi, mendesain majalah, dan seterusnya. Proses tentang pengaturan kerja untuk menerbitkan medai inilah yang disebut dengan Manajemen Redaksi.

Di dalam sebuah organisasi pengelola media kampus, Tim Redaksi ini akan bekerja dengan tim lain yaitu Tim Organisasi, Tim Penelitian dan Pengembangan, serta Tim Iklan. Tidak ada satu yang lebih penting dibanding yang lain. Semua punya peran sama, terutama di media umum (mainstream).

Continue reading “Menata Alur Penerbitan Media Kampus”

Karena Bukan Pencuri, Maka Aku Pergi

Memenuhi permintaan tulisan kuliner dari sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta, saya pun berkunjung ke kafe di jalan Pulau Kawe ini. Kafe ini khusus menjual mie dalam aneka olahan yang memang menggiurkan.

Saya sudah pernah menulisnya sekitar setahun lalu untuk majalah kuliner yang lain. Karena itu ketika ada permintaan menulis kembali kafe ini, saya menerimanya dengan senang hati. Sebab selain menunya yang khusus, berbagai olahan mie, itu disajikan dalam olahan enak, kafe ini juga bagus karena suasananya yang asik. Kafe ini memang layak direkomendasikan sebagai tempat bersantap.

Continue reading “Karena Bukan Pencuri, Maka Aku Pergi”

Dunia Tanpa Kemiskinan Bukanlah Impian

Muhammad Yunus

Perdagangan global itu seperti ratusan jalan tol. Perlu ada yang mengatur: batas kecepatan, lampu merah, batas ukuran kendaraan, dan seterusnya. Tanpa aturan, maka truk-truk besar dengan kecepatan tinggi saja yang bisa melewatinya. Aturan tidak hanya akan membuat kendaraan-kendaraan kecil punya kesempatan menggunakan jalan tapi juga disejajarkan dengan kendaraan yang lebih besar.

Tapi bagi Muhammad Yunus, peraih hadiah Nobel Perdamaian 2006, aturan saja tidak cukup. Kendaraan-kendaraan kecil itu harus diberikan jalan yang lebih baik. Sebab dalam praktik selama ini, jalan besar bebas hambatan itu tak hanya menghilangkan kesempatan tapi juga menyingkirkan kendaraan-kendaraan kecil tersebut.

Continue reading “Dunia Tanpa Kemiskinan Bukanlah Impian”