Bosnia Bagian 4: Upaya Merawat Harapan

0 , , Permalink 0
Aktivis di Mostar yang menggunakan musik untuk menyatukan warga. Foto Anton Muhajir.

Sejarah Bosnia adalah cerita panjang penaklukan.

Secara geopolitik, negara ini menjadi medan pertempuran berbagai kepentingan ideologi dan politik selama ratusan tahun. Bosnia Herzegovina berada di titik persimpangan Eropa selatan dan tenggara. Negara lain pernah menguasainya termasuk Kekaisaran Ottoman, Hungaria, dan Yugoslavia.

Hasilnya memang negara ini jadi amat beragam. Namun, dampak lainnya juga terasa hingga saat ini, negara relatif kecil yang bisa pecah kapan saja.

Setelah Uni Soviet runtuh pada 1991, negara-negara tetangganya pun ikut bubar. Begitu pula dengan Republik Sosialis Yugoslavia yang saat itu menguasai Bosnia Herzegovina. Negara ini pecah menjadi lima negara baru. Salah satunya Bosnia Herzegovina. Ironisnya, pemisahan Bosnia Herzegovina sebagai negara sendiri justru membuka kotak pandora di negara ini, perang sudara sesama warga Bosnia.

Sisa Perang Balkan pada 1992-1995 itu masih terasa hingga saat ini. Selain lubang bekas peluru pada bangunan kota, juga ada pada kisah-kisah warganya. Seperti di tulisan-tulisan sebelumnya, nuansa pesimis itu terasa sekali tiap kali berdiskusi dengan warga, terutama aktivisnya.

Meskipun demikian, tak sedikit pula inisiatif dan upaya untuk merekatkan kembali identitas negara mereka.

Local Democracy Mostar (LDM), salah satunya. Dua aktivis LDM datang ke Sarajevo pada hari pertama pertemuan kami. Mereka berbagi cerita tentang peliknya politik identitas di negaranya.

Organisasi non-pemerintah dari Mostar, kota di bagian selatan, ini aktif mengajak warga, terutama anak-anak muda, untuk terlibat dalam pengambilan keputusan terkait kotanya. Mereka membuat pelatihan, kampanye, dan lobi kepada pemerintah setempat.

Menurut Dzenana Dedic, Direktur LDM, upaya itu dilakukan dengan melibatkan warga beragam beda etnis dan agama. Dan itu bukan hal mudah. “Tidak mudah bekerja di Mostar karena ada perbedaan identitas,” katanya. Namun, tantangan terberat mereka justru ketika berhadapan dengan elite politik setempat.

“Demokrasi ada di mana-mana, tetapi tidak ada di Mostar,” lanjutnya.

Karena itu, para aktivis setempat menggunakan berbagai cara untuk menjalin kembali identitas yang tercerai berai. LDM menggunakan musik dan seni sebagai media bagi warga untuk bersuara atau bahkan terlibat.

Hal serupa juga dilakukan OKC Abrasevic, gerakan anak-anak muda untuk menyatukan warga lintas etnis dan agama. Ketika kami berkunjung ke sana pada hari ketiga, Vladimir Coric dan Marin Bago, dua aktivis di Mostar menceritakan hal kurang lebih sama dengan Dzenana, ruwetnya politik identitas di Bosnia dan bagaimana mereka sebagai warga berusaha menjawab persoalan tersebut.

Btw, soal peliknya identitas ini memang terus muncul di mana-mana. Kami, para peserta pun sampai ikut capek mendengar pesimisme mereka.

Begitu pula saat di Mostar. Kami bertemu dua aktivis lokal di sebuah kafe dengan tempat mini konser lebih mirip gudang. Tempat di mana kami bertemu, menurut Vladimir, dulunya zona perang. Namun, saat ini, ruangan dominan hitam itu berubah jadi galeri sekaligus panggung konser.

Diskusi bersama kelompok minoritas di Bosnia. Foto Anton Muhajir.

Upaya lain dilakukan kelompok minoritas Bosnia. Kami bertemu mereka pada hari kedua di Sarajevo. Kelompok minoritas ini, parahnya, tidak sekadar minoritas seperti di Indonesia yang sedikit jumlahnya. Secara hukum, mereka pun benar-benar lian. The others.

Sekali lagi, sistem politik Bosnia hanya mengaku tiga etnis dan agama: Bosnia Muslim, Kroasia Katolik, dan Serbia Ortodoks. Di luar itu sebenarnya ada etnis lain, termasuk Rumania, Albania, Turki, Italia, Montenegro, dan lain-lain. Totalnya 21 etnis minoritas.

Namun, dalam diskusi bersama kelompok minoritas ini, mereka merasa tidak diakui dalam sistem politik. “Kami tidak diterima dalam semua sistem politik. Contohnya, kami tidak mungkin bisa terpilih meskipun menjadi calon dalam pemilu,” kata Džemina Zejnulahu, wakil kelompok minoritas.

Kelompok minoritas ini mendapat tempat di legislatif di mana mereka bisa menyampaikan isu-isu yang mereka hadapi sekaligus harapannya. Namun, karena semua anggota legislatif hanya berasal dari tiga etnis utama, mereka merasa tak cukup mendengarkan apalagi mewakili suara-suara minoritas.

Inilah peliknya persoalan identitas di Bosnia. Sejauh yang aku temukan, memang tak ada identitas tunggal sebagai sebuah bangsa. Bahkan, di antara aktivis mereka pun rasanya masih berkutat pada isu ini. Ironisnya, justru ideologi komunisme yang dulu menyatukan mereka sebelum kemudian komunisme runtuh di Balkan.

Sebagai orang Indonesia yang biasa hidup dengan begitu banyak identitas, tetapi ada satu perasaan sebagai satu bangsa, aku penasaran perihal identitas bangsa ini. “Apakah mungkin untuk membangun identitas lokal sebagai orang Bosnia?” tanyaku dalam sebuah diskusi.

“Tidak mungkin. Mereka akan kembali pada identitas etnis dan agama,” kata Vladimir. Getir.

Tuh, kan. Lagi-lagi kembali ke etnis dan agama. Isu ini hanya relatif bisa “diabaikan” saat bicara tentang dua hal, teknologi dan lingkungan. Mari lanjut di tulisan berikutnya.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.