Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi

Wajah para calon anggota legislatif (caleg) itu terasa sangat memuakkan bagiku. Selama ini wajah mereka di baliho dan spanduk yang kutemui sudah cukup memuakkan. Sebab mereka malah membuat kotor wajah kota.

Tapi ini jauh lebih parah. Wajah para caleg yang kutemui sepanjang jalan antara Polewali dan Mamasa, Sulawesi Barat itu sampai membuatku harus menahan marah. Geram.

Continue reading “Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi”

Candidates take their campaigns online

Anton Muhajir,  The Jakarta Post,  Denpasar | Mon, 02/02/2009 4:06 PM | Bali

Rather than displaying their faces on billboards and banners, several Bali legislative candidates have decided to take their campaigns online.

I Gusti Agung Putri Astrid Kartika is one of them. For the past six months, the candidate from the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) has been counting on her two Facebook profiles and her blog page to promote her candidacy.

“One person left a comment, saying that a legislative candidate shouldn’t be drinking,” she said, referring to her recent Facebook profile update that she was “enjoying a beer”.

Continue reading “Candidates take their campaigns online”

Berebut Suara di Dunia Maya

Ketika sebagian besar calon anggota legislatif (caleg) merusak pemandangan kota dengan baliho dan spanduk, sebagian kecil di antaranya memilih menggunakan jalur lain untuk mencari calon pemilih: dunia maya. Selain tidak ingin merusak wajah kota dengan media kampanye, mereka juga ingin mengenalkan wajah politik yang lebih gaul pada pemilih. Caleg-caleg itu menggunakan media seperti blog dan social networking seperti Facebook dan Friendster.

I Gusti Agung Putri Astrid Kartika adalah salah satunya. Caleg perempuan dengan nomor urut 6 untuk DPR RI dari PDI Perjuangan daerah pemilihan Bali ini aktif menggunakan dua media sekaligus, blog dan social networking.

Continue reading “Berebut Suara di Dunia Maya”

Banyak Cara Membantu Palestina

Sudah lebih dari seminggu pasukan Israel menyerbu jalur Gaza di Palestina. Lebih dari 400 orang jadi korban konflik yak seimbang ini. Tak sedikit pula anak-anak yang mati, padahal mereka mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini cerita usang yang terus berulang. Perang. Gencatan senjata. Perang lagi. Korban lagi. Terus begitu saja. Mungkin inilah konflik terlama yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia.

Indonesia kecipratan. Menggunakan sentimen agama, ribuan orang berunjuk rasa menentang penyerbuan tentara Israel ke Palestina. Partai Keadilan Sejahtera berdemo besar-besaran ke kantor Kedutaan Amerika Serikat dengan membawa bendera partainya. Bukannya bendera Palestina yang dibawa tapi bendera PKS yang diusung tinggi-tinggi. Solidaritas Palestina ternyata bisa juga jadi waktu untuk berkampanye.

Continue reading “Banyak Cara Membantu Palestina”

Ubud Village outlaws unsightly political banners

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Gianyar | Mon, 01/05/2009 11:06 AM | Bali

Amid failed attempts by election officials to protect Bali’s beauty by limiting certain campaigning techniques, one village has managed to preserve its natural look by outlawing banners.

Lodtunduh village in Ubud, Gianyar, is all but free of the huge political campaign banners and flags so common in Denpasar.

The village chief refused to sacrifice the village’s beauty for political campaigning.

Continue reading “Ubud Village outlaws unsightly political banners”

Rights groups face classic problems

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Wed, 12/17/2008 11:12 AM | Bali

Bali’s human rights organizations were still embroiled by classical, internal problems diminishing their capability to implement their agendas, an activist said during a civil society gathering last week.

“Efforts to implement human rights agenda in Bali are still hampered by a lack of coordination among the human rights organizations,” chairwoman of the Indonesian Legal Aid Association’s (PBHI) Bali Chapter Nyoman Sri Widiyanthi said.

Continue reading “Rights groups face classic problems”

Mengenal Program, Bukan Tampang

Pemilu masih lima bulan lagi. Namun gegap gempitanya sudah terasa sejak dua atau tiga bulan lalu. Atribut kampanye seperti bendera dan baliho memenuhi berbagai tempat di Denpasar. Nyaris tidak ada tempat yang bersih dari atribut yang sangat tidak sedap dipandang mata ini.

Begitu banyak calon anggota DPR (caleg) yang menjual muka di baliho-baliho itu. Namun sangat sedikit yang aku kenal. Padahal perasaan aku juga lumayan rajin baca koran, nonton TV, atau selancar di internet deh. Tapi kok aku tidak kenal hampir seluruh caleg itu ya? Lalu bagaimana mereka yang jarang mengonsumsi media?

Continue reading “Mengenal Program, Bukan Tampang”

Super Toy ala Super Boy

Peristiwa pembakaran padi Super Toy oleh petani di Purworejo jadi peristiwa paling menarik bagiku pekan lalu. Berita itu pertama kali aku lihat di TV Kamis pekan lalu. Puluhan petani di Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu membakar tumpukan padi mereka yang mengalami gagal panen.

Mereka juga menuntut ganti rugi kegagalan itu pada investor proyek, PT Sarana Harapan Indopangan (SHI). Besarnya sekitar Rp 1,6 milyar. Petani menuntut ganti rugi karena mereka merasa ditipu oleh investor tersebut. Ketika mengenalkan padi itu pada petani lalu menanam pada Desember 2007, PT SHI mengatakan kalau padi itu bisa panen hingga 10 ton per hektar. Juga padi itu bisa panen sampai tiga kali untuk satu kali musim tanam.

Continue reading “Super Toy ala Super Boy”

Menang Kalah Tidak Masalah

Yap, akhirnya aku pun milih hari ini. Pilihanku pasangan Gede Winasa – Alit Putra. Ini sebagai bagian dari keterbukaan. Kenapa juga harus malu-malu dengan pilihan kita. Toh, tiap pilihan selalu ada risikonya. Begitu juga dengan Pilgub Bali kali ini.

Pilihanku sebenarnya antara Winasa dan Pastika. Sebab kalau CBS sudah jelas tidak jelas programnya. Dalam beberapa kali debat, aku tidak pernah nemu hal menarik dari apa yang disampaikan CBS – Suweta.

Continue reading “Menang Kalah Tidak Masalah”

Ironi Berkali-kali Anggota DPR

Di antara sekian peristiwa nasional yang terjadi minggu lalu, penangkapan anggota DPR adalah cerita paling menarik perhatian. Setidaknya bagiku. Soalnya memang cerita ini banyak ironinya.

Informasi pertama soal penangkapan Al Amin Nasution itu datang dari teman baru di dunia maya, Ngurah Beni Setiawan, juga teman di Bali Blogger Community (BBC). Melalui YM, Beni mengabarkan peristiwa lucu tersebut. Lalu aku cek Kompas Online. Dan benar. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Al Amin Nasution tersebut ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Ritz Carlton dini hari, sekitar pukul 2 pagi.

Suami penyanyi dangdut Kristina itu ditangkap bersama empat pejabat dari Kabupaten Bintan, Riau dan barang bukti Rp 67 juta di mobilnya. Uang itu, menurut KPK, diduga suap dalam kasus tindak pidana korupsi alih fungsi lahan. Oya, lupa. Ada satu pula pekerja seks komersial (PSK) yang menurut detik.com adalah bonus untuk Al Amin agar melicinkan kasus korupsi tersebut. Di milis Pembaca Kompas, PSK itu katanya masih ABG. Aduh..

Continue reading “Ironi Berkali-kali Anggota DPR”