Kondom, Dilema antara Nikmat dan Sengsara

Fakta di lapangan dan data di kertas memang membuat prihatin.

Di lapangan, setidaknya di Bali, penularan HIV dan AIDS terus menular ke populasi umum. Jika dulu, virus ini hanya di kalangan populasi kunci, semacam pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik (penasun), gay, dan semacamnya, kini HIV mulai menular ke ibu rumah tangga dan anak-anak.

Continue reading “Kondom, Dilema antara Nikmat dan Sengsara”

Buku-buku yang Tak Selesai di 2012

Tahun lalu sepertinya jadi tahun buruk buat baca dan ngeblog.

Untuk urusan baca buku, aku tak menghitung persisnya berapa buku yang aku selesaikan. Cuma amat yakin kalau makin berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, ada beberapa buku yang tak bisa aku selesaikan. Buku-buku tak selesai itu terutama yang berbahasa Inggris.

Continue reading “Buku-buku yang Tak Selesai di 2012”

ODHA, Saatnya Kalian Ngeblog Juga

Sebenarnya tulisan ini untuk membayar utang. 🙂

Desember lalu, teman-teman orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) Berhak Sehat membuat lomba blog tentang HIV dan AIDS. Aku berniat ikut. Tapi, dasar pemalas dan pelupa, sampai pendaftaran lomba ditutup, aku tak juga membuat tulisan tersebut.

Continue reading “ODHA, Saatnya Kalian Ngeblog Juga”

Kini, Warga pun Lebih Mudah Bersuara

Bosan juga kalau terus cari masalah.

Karena itulah, ketika diajak oleh CIPG untuk membuat riset tentang media di Bali, kami pilih topik ini, bagaimana dampak perkembangan teknologi informasi terhadap partisipasi warga dalam jurnalisme warga.

Biasanya kan orang kalau riset suka mulai dengan mencari masalah. Maka, kami kali ini pilih mencari peluang. Sekalian sambil menyelam bikin riset, kami minum bir untuk melakukan refleksi terhadap apa yang sudah kami kerjakan selama lima tahun ini.

Kami ingin melihat sejauh mana perkembangan internet di Bali berdampak pada partisipasi warga dalam pengelolaan BaleBengong, Continue reading “Kini, Warga pun Lebih Mudah Bersuara”

Karena, Internet Haruslah Tetap Tanpa Batas

Dunia yang bebas dan terbuka bergantung pada Internet yang juga bebas dan terbuka.

Internet memberdayakan semua orang. Siapa pun boleh berbicara, berkarya, belajar, dan berbagi. Internet tidak dikendalikan siapa pun. Bukan organisasi, individu, atau pun pemerintah. Internet menghubungkan dunia. Saat ini, lebih dari dua miliar orang sedang online. Hampir sepertiga jumlah manusia di planet ini.

Continue reading “Karena, Internet Haruslah Tetap Tanpa Batas”

Mengembalikan Jurnalisme kepada Publik

Awalnya dari rasa jengah: ke mana perginya jurnalisme berkualitas di Bali saat ini?

Pernyataan di balik pertanyaan tersebut mungkin terlalu dini. Tapi, setidaknya ada beberapa penanda makin hilangnya jurnalisme berkualitas di Bali. Tiga hal yang menandai tersebut adalah tema berita, penyampaian berita, dan etika jurnalis.

Dari sisi tema berita, sebagian besar media di Bali lebih banyak memberikan seputar intrik dan konflik elite politik. Penyampaian berita kemudian lebih banyak hanya bersifat talking news, semata tentang omongan-omongan elite. Dalam bahasa sarkastik, ada yang menyebutnya sebagai jurnalisme ludah, apa pun omongan elite politik akan diberitakan. Tidak perlu verifikasi. Tak ada keberimbangan. Bahkan, berita seringkali malah hanya menjadi alat adu domba.

Continue reading “Mengembalikan Jurnalisme kepada Publik”

5 Tahun BBC, dari Komunitas menjadi Keluarga

Waktu yang mengubah kami.

Tiba-tiba saja ulang tahun kami, Bali Blogger Community (BBC), yang kelima sudah diisi dengan bayi-bayi. Mereka yang rata-rata berumur sekitar satu tahun tersebut membuat perayaan kali ini lebih meriah.

Continue reading “5 Tahun BBC, dari Komunitas menjadi Keluarga”

Berikan Ruang Dulu, Aturan Belakangan

Ini orang kok ngotot sekali ya?

Berkali-kali mereka bilang kalau netizen, termasuk blogger dan pengguna social media lainnya, harus beretika ketika bersuara di dunia maya. Menurut mereka harus ada aturan agar penggunaan media baru ini tidak kebablasan dan menimbulkan masalah.

Continue reading “Berikan Ruang Dulu, Aturan Belakangan”