Tak Ada Lagi Rumah Kedua Kami
Hampa rasanya melihat bangunan itu.
Tidak ada lagi ruangan kumuh penuh tumpukan koran dengan pintu kusam tempat kami pernah membangun masa-masa penuh gairah sebagai mahasiswa. Tidak ada lagi tempat di mana kami selalu merasa kembali ke 10 atau 15 tahun silam.
Catatan Pelayanan Rumah Sakit Medika Tuban
Bukannya menjawab, perawat itu malah nyolot.
“Lha itu kan memang obat yang harus diminum sama ibunya,” jawabnya dengan nada tinggi. Tak ada senyum di wajahnya sama sekali. Sebaliknya malah. Mrengut seperti marah.
Continue reading “Catatan Pelayanan Rumah Sakit Medika Tuban”
Ketika Agama Cuma Kedok Semata
Pelajaran ketika masih kuliah: berpura-puralah.
Pura-pura itu biasanya jadi pilihan kami, sebagian mahasiswa yang ingin nebeng sepeda motor teman tapi tak bawa helm. Kami kuliah di Kampus Bukit Universitas Udayana di Jimbaran. Continue reading “Ketika Agama Cuma Kedok Semata”
Citilink, Sudah Tertukar Molor Pula
Citilink kali ini benar-benar aneh. Menyebalkan.
Pertama pada saat check in. Berdasarkan pemesanan secara dalam jaringan (online) sehari sebelumnya, penerbanganku kemarin seharusnya bernomor QG 643. Namun, pada saat check in di Bandara Ngurah Rai, Bali, konter menuliskan QG 645.
Kenapa Kami Akhirnya Membuka Iklan
Mereka yang Terancam Gula Pariwisata
Masalah mungkin sudah jadi jodoh kami.
Jauh-jauh ke pantai Amed di ujung timur Bali dan Pantai Bias Putih yang tersembunyi, kami kok ya ketemunya dengan masalah-masalah karena pariwisata.
Continue reading “Mereka yang Terancam Gula Pariwisata”
Akhirnya Bisa Ngeblog Bergerak Juga
Diketik dari Android, Samsung Galaxy S. Biasanya sih kalo ngeblog suka dari komputer jinjing.
Karena ini pertama kali pakai, jadi belum ngerti banyak. Kalau melihat sekilas sih bisa ngetik seperti biasa kalau di laptop. Fasilitas olah tulisan seperti bold, italic, garis bawah, atau potong teks juga ada.
Aneh Rasanya Jongkok Tanpa Ponsel
Padahal dulu-dulu juga biasa saja.
Tapi, ya begitulah. Malam ini, ketika jongkok di toilet tanpa memegang telepon seluler (ponsel), aku tiba-tiba merasa tak lengkap. Aku merasa ada sesuatu yang kurang.
Kemudian, setelah mikir lebih serius lagi, ternyata ponsel itu begitu melekat denganku. Tak cuma ketika, misalnya, jongkok di toilet tapi juga dari awal hingga akhir hari. Dari pagi hingga pagi lagi. Dia seolah-olah menjadi sesuatu yang tak bisa aku lepaskan sama sekali.







