Padahal dulu-dulu juga biasa saja.
Tapi, ya begitulah. Malam ini, ketika jongkok di toilet tanpa memegang telepon seluler (ponsel), aku tiba-tiba merasa tak lengkap. Aku merasa ada sesuatu yang kurang.
Kemudian, setelah mikir lebih serius lagi, ternyata ponsel itu begitu melekat denganku. Tak cuma ketika, misalnya, jongkok di toilet tapi juga dari awal hingga akhir hari. Dari pagi hingga pagi lagi. Dia seolah-olah menjadi sesuatu yang tak bisa aku lepaskan sama sekali.
Masalahnya, ketika ponsel itu begitu dekat dan melekat, pada saat yang sama aku juga pelan-pelan melepas dan menjaga jarak dengan hal lain, bacaan, buku ataupun koran.
Contohnya soal kebiasaan saat jongkok di toilet itu. Dulu, sebelum kemudian kecanduan ponsel pintar, aku biasanya masuk toilet sambil baca koran. Asyik saja sambil jongkok baca-baca berita.
Begitu pula ketika mau tidur. Paling asyik biasanya nunggu mata dan hati merem (tsaaah) sambil baca buku. Tidur berbantal buku itu biasa. Ini sudah kebiasaan sejak bisa baca zaman bahuela.
Tapi, datanglah makhluk bernama ponsel pintar ini. Dengan kemudahan teknologinya, dia membawa semua kesenangan dalam satu genggaman. Hanya lewat barang kecil ini aku bisa terhubung dunia tanpa batas, internet.
Lalu, sambil jongkok kemudian buka Twitter. Membaca linimasa meskipun isunya begitu-begitu saja, tak penting. Atau, kalau toh isinya penting, sebenarnya juga tidak harus baca saat itu juga. Bisa saja baca nanti begitu sudah keluar dari toliet atau bahkan ketika sudah duduk manis di depan laptop.
Tanpa aku sadari, barang kecil bernama ponsel itu kemudian menyita semua waktu, termasuk saat-saat intim bersama keluarga. Ketika lagi main sama anak, tiba-tiba ambil ponsel untuk memeriksa apakah ada mention atau DM terbaru, apakah ada Whatsaap, apakah ada SMS.
Pun juga ketika baru bangun tidur. Bukannya cari istri atau anak, hal pertama yang dicari adalah ponsel ini. Alasan pertama untuk lihat waktu. Begitu sudah memegang ponsel malah lupa waktu. Tiba-tiba asyik membuka linimasa padahal belum cuci muka.
Lalu, diam-diam hampa ketika baru bangun tidur, cek linimasa, dan tak ada mention ataupun DM. Parahnya, ketika tidak ada mention atau DM baru, hampa rasanya.
Ironis tingkat dewa. Barang bernama ponsel ini ternyata mengubah kebiasaan-kebiasaan (baik) kita. Dia membawa kita pada kebiasaan-kebiasaan baru yang sebenarnya lebih dangkal. Dia juga pelan-pelan menjauhkan kita dari orang-orang terdekat kita.
Ponsel ini tak cuma menjajah hingga ruang-ruang privat kita tapi juga seolah-olah menentukan ada tidaknya kita. Inilah tanda-tanda bahaya..
Leave a Reply