Menikmati Kemilau Yangon di Malam Hari

0 , , Permalink 0

Kali ini, akhirnya bisa menikmati malam di Yangon.

September lalu, ketika pertama kali ke Myanmar, aku hanya singgah tak kurang dari dua jam di ibu kota Negeri Pagoda ini. Sekarang balas dendam.

Kegiatan di Myanmar kali ini semuanya di Yangon. Meskipun agak di pinggir kota, tak masalah. Yang penting masih bisa jalan-jalan menikmati kota ini.

Selama BarCamp Yangon, aku bersama teman blogger dari Kamboja dan tim Tactical Tech, Berlin menginap di Golden Guest Inn. Hotel ini lokasinya persis di pinggir jalan. Dari Bandara Internasional sekitar 40 menit.

Istimewanya hotel ini ada pada layanannya. Hotelnya sih agak tua. Jadul begitulah. Tapi, pemiliknya sangat melayani. Dia selalu sigap membantu. Pas sarapan, tamu bebas minta apa saja. Untungnya sih aku tidak maruk. Jadi tak akan membuat mereka bangkrut gara-gara kebanyakan permintaan. Hehehe..

Dari hotel ke pusat kota sekitar 20 menit dengan taksi. Tarifnya beragam. Hampir semua taksi di Yangon tidak pakai meteran. Jadi pinter-pinter nego. Jika beruntung bisa ketemu sopir yang suka ngomong bahasa Melayu. Umumnya mereka pernah bekerja di Malaysia. Mereka senang ngajak ngomong bahasa Melayu sehingga tarif taksi bisa lebih murah.

Karena agenda BarCamp Yangon sampai petang terus, jadi kami pun baru bisa lanjalan alias melali menikmati Yangon pada malam hari. Setidaknya ada dua tempat asyik.

Pertama, tentu saja Pagoda Shwedagon. Akhirnya aku bisa ke sini juga. September lalu cuma lihat dari jarak jauh tak kurang dari 10 menit. Kali ini akhirnya bisa masuk juga.

Pagoda terbesar di Yangon, sekaligus ikon Myanmar, buka hingga pukul 10 malam. Dan, ternyata lebih asyik rasanya menikmati pagoda ini pada malam hari. Tentang sejarah, arti, dan informasi lain Pagoda Shwedagon silakan baca di Wikipedia saja.

Aku bagian cerita pengalaman ketika di sana.

Untuk masuk Pagoda Shwedagon sebenarnya turis harus bayar. Beruntunglah wajahku pasaran, mirip orang Myanmar. Jadi lolos begitu saja. Gratis. Catatan penting untuk masuk tempat ibadah ini, berpakaianlah yang sopan. Jaga juga perbuatan. Apapun itu, tempat beribadah harus dihormati termasuk dengan melepas sandal atau sepatu sesuai aturan di sini.

Ketika kami tiba di sana, ribuan pengunjung juga melakukan hal sama. Ada yang sekadar jalan-jalan tapi banyak mula yang bersembahyang. Pendar-pendar lilin membuat stupa utama pagoda maupun stupa-stupa kecil lain yang berwarna kuning keemasan makin berkilauan.

Tentu tak seterang pada siang hari, tapi pada malam hari lebih terasa syahdunya.

Dengan bentuk stupa utama melingkar, tiap orang bisa terus berjalan mengelilinginya dari titik awal hingga kembali ke titik semula. Namun, itu lumayan melelahkan bagi kami. Perlu waktu hampir satu jam agar bisa sambil menikmati detailnya.

Ketika pulang, kaki pun terasa gempornya.

Waktunya mengunjungi tempat lain di Yangon, China Town. Begitulah, Cina memang ada di mana-mana.

Ketika kami di sana, Imlek baru saja berlalu sehari. Jadi suasananya masih amat terasa. Lampion-lampion digantung sepanjang jalan. Eh, tapi pada hari biasa juga tetap terasa sekali aura Cinanya. Lha wong memang di China Town.

Enaknya di China Town Yangon adalah… banyak makanan. Umumnya sih makanan laut. Tapi, beberapa teman merekomendasikan sosi babi di sini. Aku sih terima kasih saja. Cukup dengan jalan-jalan menikmati kepadatan dan keriuhan.

Tahun lalu sih aku berombongan dengan teman-teman duduk di salah satu kafe sambil makan minum. Aku suka mojitonya di sini. Seger. Tapi, kali ini sudah kecapekan. Jadi ya kapan-kapan saja nongkrongnya. Kalau bisa ke Myanmar lagi. ?

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *