Mengunjungi Myanmar yang Mulai Bersinar

0 , Permalink 0

pagoda-di-bago-myanmar

Agak menyesal juga sih.

Terlalu sedikit tempat yang kami kunjungi selama di Myanmar. Padatnya agenda lima hari pelatihan membuat kami tak bisa ke mana-mana. Sedih.

Ketika baru sampai di Myanmar pada 15 September 2016 lalu, kami langsung dibawa ke Bago, sekitar dua jam perjalanan ke utara dari Yangon, bekas ibu kota negara Myanmar. Lokasinya di tengah hutan.

Selama lima hari itu, kami terus berada di kawasan tegalan tersebut. Hanya serangga, ayam, dan sesekali suara orang berdoa di pagi atau petang hari yang terdengar. Selebihnya, sepi.

Pada hari ketiga pelatihan, kami cuma punya waktu setengah hari menikmati “peradaban”. Kami jalan-jalan ke pusat kota Bago sampe jam makan malam. Hanya sebentar tapi lumayan buat mengenal sebagian dari negara ini.

Pada hari terakhir, 21 September, aku dan beberapa teman sempat mampir di Yangon. Itu pun kurang dari sepuluh jam karena hanya untuk transit sebelum kembali ke Bali.

Pukul 10 malam kami sampai Yangon. Jalan-jalan sekitar tiga jam di pusat kota saat tengah malam tentu saja. Pukul 6 pagi, kami harus sudah cabut lari-lari dari hotel menuju bandara.

Dengan waktu amat terbatas, amat sedikit yang bisa kami kunjungi.

Membuka Diri

Tapi, banyak teman baru untuk ngobrol. Aktivis-aktivis di Myanmar ini asyik diajak berdiskusi. Mereka terbuka tentang situasi negaranya. Serupa negara mereka yang pelan-pelan mulai membuka diri.

Myanmar memang baru menggeliat. Secara politik, pemerintah militer negara ini baru membuka diri secara resmi terhadap dunia internasional sejak 2011. Baru lima tahun lalu.

Selama 60 tahun, sebelum melakukan reformasi, Junta Militer menguasai semua sektor: politik, ekonomi, media, dan seterusnya. Tahun lalu, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin Aung Sang Suu Kyi memenangkan pemilu yang dikritik tetap belum sepenuhnya jujur dan adil.

Hadirnya NLD sebagai penguasa di pemerintahan membawa harapan lebih cerah untuk negara ini. Tapi, Junta Militer tetap saja menguasai secara nyata di banyak sektor. Mereka secara otomatis dapat 25 persen jatah di legislatif.

Myanmar termasuk negara paling miskin di Asia Tenggara. Karena tertutup, dia tak memiliki banyak hubungan politik ekonomi secara bilateral ataupun multilateral.

Secara fisik, belum banyak pembangunan. Dari Yangon menuju Bago sudah terhubung dengan jalan tol baru. Tapi, cuma sebagian kecil sih. Masuk sedikit dari jalan utama sudah berupa tanah berkubang air saat musim hujan.

Bus-bus umum terlihat terlalu tua dan berkarat, pelan-pelan menyeret penuh penumpang. Mobil-mobil baru masih sangat sedikit.

Minggu lalu, Amerika Serikat sang adi daya baru mencabut sanksi ekonomi bagi Myanmar. Ini peluang bagus bagi Myanmar. Sebab, mau tak mau, Amerika memang berpengaruh besar pada ekonomi banyak negara, termasuk Myanmar.

Contoh sederhana ada penggunaan telepon seluler pintar (smartphone) plus aplikasinya. Akibat sanksi ekonomi, warga Myanmar tak bisa denga mudah membeli ataupun memasang aplikasi di ponsel pintar mereka. Beberapa teman bercerita mereka tak bisa membeli aplikasi di Apps Store atau Google Playstore jika pakai akun dari Myanmar.

Penyebabnya, perusahaan digital seperti Google dan Apple memang tak bisa menjual produk mereka di Myanmar.

Tapi, situasi itu masih lebih baik dibanding, katakanlah, sepuluh tahun lalu. Ketika negara mereka masih tertutup, warga Myanmar merasa penggunaan ponsel itu sesuatu yang jauh tak terjangkau. Bayangkan, harga kartu perdana saja sampai $ 5.000. Lebih dari Rp 50 juta!

Di luar isu politik ekonomi, Myanmar juga masih bergulat dengan persoalan identitas terutama etnis. Aku menangkap kesan betapa sensitifnya isu etnis ini di Myanmar.

Dari namanya saja, Myanmar masih memperdebatkan apakah pakai Burma, mengacu pada mayoritas etnis di negara ini, atau pakai Myanmar, nama yang diberikan junta militer. Seorang teman yang bekerja di isu rekonsiliasi bilang, isu etnis menjadi masalah berkepanjangan di Myanmar.

Termasuk di dalamnya adalah sikap mereka terhadap etnis minoritas seperti Rohingnya. Isu ini menjadi isu pelanggaran hak asasi manusia di Maynmar.

Banyak isu dan tangan lain negara berjuluk Tanah Emas ini. Perjalanan negara ini masih panjang. Kubah-kubah emas ribuan pagoda di negara ini mungkin masih terhalang banyak mendung. Tapi, mereka sepertinya sudah mencoba membuka tirai agar sinar negaranya lebih terang dan mempesona.

Mari lihat bagaimana nanti hasilnya.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.