Tak Bisa Bagan, Bago pun Jadi

0 , Permalink 0

Pagoda in Bago, Myanmar

Pemandangan itu terlihat begitu menggoda.

Ratusan pagoda berbaris rapi di tengah hamparan tanah datar dan rimbun pepohonan. Ada aura masa lalu terpancar dari puncak-puncak emas pagoda itu. Mistis..

Bagan terlihat begitu indah lewat foto-fotonya. Pantas saja beberapa teman menyarankan agar aku ke sana. Mumpung sedang di Myanmar.

Tapi, apa daya. Kali ini tak mungkin ke sana. Lokasinya jauh, sekitar 8 jam dari Yangon. Perlu waktu setidaknya dua hari termasuk jalan-jalan di sana. Padahal tiket balik sudah dibeli. Pekerjaan di Bali sudah menanti.

Jadi mari mengeluas dada saja dulu. Mari menikmati keindahan Bagan dari dunia maya saja.

Sebagai gantinya, mari menikmati Bago saja. Namanya saja sudah mirip. Ada beberapa tempat menarik yang kami kunjungi selama setengah hari di antara lima hari kegiatan di sini.

Berikut beberapa tempat menarik untuk dikunjungi di Bago.

Patung Budha Shwethalyaung
Lokasi ini berupa patung raksasa Budha sedang leyeh-leyeh. Ukuran patung Budha ini memang besar. Tingginya 16 meter. Panjangnya hampir 55 meter.

Patung ini dibangun pada 994 M namun baru ditemukan lagi di tengah hutan pada 1881. Lebih detail, silakan nyontek di Wikipedia saja.

Hingga saat ini, Patung Budha Shwethalyaung masih ramai dikunjungi umat Budha yang bersembahyang atau turis yang sekadar jalan-jalan seperti kami. Untuk masuk tempat ini, turis asing harus membayar. Tapi, aku lupa berapa harus membayar karena aku nyelonong saja sebagai penyamar warga lokal. Hehehe..

Di sekeliling patung Budha leyeh-leyeh ini terdapat beragam tulisan nama-nama mereka yang menyumbang pembangunan kembali atau perawatan. Aku lihat sekilas banyak banget nama-nama dari Thailand.

Di bagian belakangnya ada diorama tentang sejarah patung ini. Tulisannya dalam huruf latin dan bahasa Inggris, bukan huruf Myanmar, sehingga bisa dimengerti.

Aturan khusus ke sini adalah harus mengenakan pakaian sopan. Pengunjung cewek, misalnya, harus menutupi bagian di atas lutut. Pengunjung juga harus melepaskan sandal kalau mau masuk.

Di sekitar bangunan utama di mana Patung Budha berada terdapat toko-toko menjajakan aneka suvenir. Sarung khas Myanmar atau Lonji bisa jadi pilihan asyik.

Shwemawdaw Pagoda
Tak mungkin ke Myanmar tanpa mengunjungi Pagoda. Karena itu, mampir ke Shwemawdaw Pagoda pun wajib hukumnya.

Inilah pagoda paling terkenal di Bago. Tingginya mencapai 114 meter dengan kubah emas. Sebenarnya, pagoda ini yang paling tinggi di Myanmar. Tapi dia kalah terkenal dengan Pagoda Shwedagon di Yangon.

Pengunjung bisa mengelilingi pagoda di lahan seluas kira-kira dua hektar ini. Warga juga bisa berdoa di beberapa tempat persembahan yang mengelilingi pagoda dengan warna keemasan ini.

Secara struktur, pagoda ini mirip stupa. Serupa Borobudur atau Bajra Sandhi di Bali. Tapi pengunjung tak bisa masuk sembarangan ke bagian dalam atau naik ke stupa ini.

Kami pun cukup mengelingi selama kira-kira 30 menit.

Hal menarik dari pagoda ini, menurutku, pada detail ornamen-ornamen di dindingnya. Patung-patung kecil maupun raksasa seperti singa dan harimau juga asyik dijepret.

Warna emas, seperti juga sebagian besar pagoda di Myanmar, tentu saja amat menarik mata.

Kami mengunjungi dua pagoda lain di Bago. Satunya berupa pagoda di mana ada ular raksasa berukuran sampai 30an meter. Pagoda lainnya di mana kami berniat menikmati sunset dari atasnya.

Aku lupa nama keduanya. Tidak terlalu penting. Hehehe…

Kanbawzathadi Palace
Ini lokasi keempat yang kami kunjungi. Menariknya karena berupa istana, bukan pagoda.

Ketika melihatnya pertama kali, aku langsung ingat rumah gadang di Padang. Bentuknya mirip. Simetris di kanan kiri. Bagian tengahnya menjulang tinggi dengan menara serupa meru kalau di Bali.

Warnanya tetap serupa pagoda, kuning keemasan. Warna khas Myanmar.

Ketika kami berkunjung, istana yang dibangun pada abad ke-16 ini sedang direnovasi. Tapi pengunjung tetap bisa masuk. Gratis. Ada kotak sumbangan suka rela.

Di dalam istana ini kami melihat peninggalan, seperti kayu, lukisan, patung, dan benda bersejarah lain. Salah satu bagian penting adalah lukisan tentang sejarah Myanmar. Menarik melihat bagaimana negara ini sudah terbiasa berpindah istana sejak zaman baheula.

Istana Kanbawzathadi bisa jadi tempat paling cocok bagi pecinta sejarah dan konflik di Myanmar.

Bago Street Food

Bago Street Food

Street Food
Dan, apalah artinya jalan-jalan tanpa makanan. Kami pun mengakhiri jalan-jalan santai Minggu sore dengan menu khas jalanan Bago.

Hari sudah petang ketika kami tiba di sana. Sudah agak gelap. Tapi, jalanan di Bago terlihat makin ramai dengan aneka makanan khas.

Umumnya pedagang di sini serupa pedagang kaki lima di Indonesia. Mereka pakai tenda dan berdagang di bawahnya. Pengunjung duduk di kursi plastik amat pendek, serupa lesehan.

Menunya ada yang berkuah maupun gorengan. Untuk menu berkuah, ada bihun dengan tahu. Namanya kyar san hinn khar. Rasanya lembut dan gurih. Mirip banget sama soto sih.

Untuk menu gorengan, lebih banyak lagi pilihan. Ada aneka gorengan ditusuk serupa sate: ikan laut, ayam, tahu, telur sampai burung. Paling enak di antara semua itu adalah burung puyuh goreng. Burung mungil ini digoreng garing gurih kriuk kriuk. Enyak..

Tapi, namanya gorengan ya tetap aja tak terlalu sehat meskipun nikmat. Jadi tak usah berlebihan. Ingat kesehatan..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.