Menata Kota untuk Menyenangkan Warga

0 , , Permalink 0
Sumber foto http://lirikkanankiri.blogspot.com/

Sumber foto lirikkanankiri.blogspot.com

“Bagaimana perubahan Bandung setelah punya wali kota baru, Kang?” tanyaku pada sopir taksi.

Kami dalam perjalanan dari Bandara Husein Sastranegara menuju hotel tempatku menginap pekan lalu. Aku membuka pembicaraan dengan basa-basi. Pengen juga tahu bagaimana kesan warga Bandung terhadap kota mereka sendiri.

Jawaban sopir taksi bandara itu mengejutkan.

“Wah, Pak Ridwan Kamil sih bagus di media saja. Kalau bagi saya sendiri mah masih belum kerja apa-apa,” jawab Pak Sopir.

Sambil menyetir di antara lalu lintas Bandung yang kemarin sore tidak terlalu padat, si akang memperjelas pernyataannya. Dia menyebut nama jalan yang masih banyak pedagang kaki limanya. Dia juga tentang masih banyaknya preman di kota ini.

Bagiku ini mengejutkan karena selama ini yang tergambar di kepalaku adalah warga Bandung pasti senang dengan perubahan kotanya saat ini. Apalagi aku baca di beberapa media maupun di media sosial, banyak sekali program-program Wali Kota Bandung saat ini, Ridwan Kamil.

Tapi, pendapat bapak sopir ada benarnya. Dalam perjalanan dari bandara ke Hotel Horison, Bandung aku lihat pedagang kaki lima masih banyak di beberapa ruas jalan. Baliho dengan nama-nama organisasi massa (ormas), sering kali hanya kamuflase kelompok preman seperti juga di Bali, terlihat menghiasi pinggir jalan.

Meskipun demikian, menurutku, Bandung tetap terlihat berubah dibandingkan tiga kali perjalananku ke sini sebelumnya. Sekilas aku lihat taman-taman kota memang makin banyak. Jalanan makin rapi.

Di bawah salah satu jalan layang terlihat taman yang disertai tempat duduk. Aku pernah baca pula ada Taman Jomblo yang dibuat Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung yang juga arsitek tersebut.

Meskipun, menurut Pak Sopir, masih punya banyak pekerjaan rumah, kota ini terlihat makin rapi.

Mas Yos, teman dari Denpasar yang kini tinggal di Bandung, amat antusias menceritakan perubahan kotanya saat ini. Dia tak setuju pendapat Pak Sopir.

“Kau lihat sendiri itu betapa bersih dan rapinya trotoar-trotoar di Bandung sekarang,” katanya bersemangat.

Pada hari ketiga di Bandung, kami jalan-jalan di kota ini dengan mobilnya dan melihat beberapa tempat tersebut pada malam hari. Lapangan Gasibu di depan Gedung Sate, seingatku ketika ke sini tiga tahun lalu, dipenuhi pedagang kaki lima. Tapi, saat ini sudah tidak ada satu pun pedagang kaki lima di sana.

Di hari lain, aku melihat petugas Satpol PP menggembok mobil yang parkir di kawasan tidak boleh parkir.

Ini pandangan umum saja. Bukan hasil observasi detail. Hanya hasil lihat-lihat sambil naik mobil atau jalan kaki.

Bagiku, Bandung memang belum serapi Surabaya atau Solo. Tapi, Bandung jelas makin menuju kota yang menyenangkan bagi warganya. Jalan-jalan makin rapi. Trotoar tersedia bagi pengguna jalan. Taman makin banyak. Bersama Surabaya dan Solo, Bandung terlihat makin menata wajah kotanya.

Kota makin segar dan nyaman. Tak hanya untuk turis atau pengunjung tapi tentu saja untuk warganya sendiri yang paling utama.

Lalu, aku bandingkan dengan Denpasar. Apa aku saja yang terlalu pesimis atau memang tata kotanya tidak jelas. Makin hari aku lihat kota ini makin tak jelas tata kotanya.

Trotoar jalan makin tak terurus, rusak atau dipakai pedagang. Baliho-baliho atau spanduk iklan bertebaran seperti tanpa aturan. Kendaraan parkir di mana saja sesukanya.

Iri rasanya melihat kota-kota lain yang kian ramah bagi warganya. Denpasar kapan ya bisa seperti mereka?

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.