Membandingkan Dua Ibu Kota Negara Tetangga

0 , , , , Permalink 0

Setelah tingga minggu menjelajah Ekuador dan Peru, akhirnya bisa juga lebih santai.

Minggu terakhir ini kembali ke Ekuador. Tepatnya di Quito, pangkalan awal sejak di Amerika Selatan. Jadwal utama minggu ini untuk diskusi, menulis, dan refleksi tentang tiga minggu perjalanan.

Sambil macul, ngantor seperti biasa, pengen juga membuat perbandingan bagaimana dua negara ini, Peru dan Ekuador terutama ibu kota mereka, Lima dan Quito. As usual, ini hanya dari pengamatan sekilas. Bukan riset serius ala peneliti.

Pertama dari sisi geografi.

Quito dan Lima ini berbeda 180 derajat. Quito berada di ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Lansekap kota ini berupa pegunungan dan perbukitan. Gedung-gedung, pemukiman, dan perkantoran berada di lereng-lereng gunung tersebut.

Indah. Karena di lereng-lereng itu terlihat warna-warni gedung menjulang tinggi. Tapi juga ngeri. Membayangkan bagaimana jika lereng gunung atau bukit itu longsor.

Lima sebaliknya. Dia berada persis di pinggir pantai. Sebagian tempat malah lebih rendah dibanding permukaan laut. Asyiknya, sisi barat kota ini berupa tebing-tebing tinggi serupa di sisi selatan Bali. Mereka jadi dinding penjaga kota.

Di tebing-tebing dinding kota itu kini terdapat ratusan apartemen, kantor, dan gedung lain yang tingginya ratusan meter. Antara takjub dan ngeri juga. Sebab, gedung-gedung tinggi itu terlihat gagah menjulang di atas tebing yang justru sekilas terlihat rapuh.

Kedua dari sisi dinamika.

Kira-kira bagaimana ya melihat dinamika warganya ini? Hmmm, mungkin dari jumlah penduduk dulu. Lima serupa Jakarta. Kota besar dengan jumlah penduduk sekitar 7,5 juta. Luasnya sekitar 2.600 km persegi.

Dengan begitu banyak penduduk dan luas kotanya, Lima terlihat lebih hiruk, riuh, dan dinamis. Tiap pagi menyusuri kota ini dari hotel menuju kantor VECO Andino di Lima, saya merasakan bagaimana kesibukan kota ini. Orang-orang berjalan cepat, mengejar bus, menyeberang jalan, bersepeda.

Lima terasa lebih dinamis. Bagus untuk pekerja keras dan ambisius.

Quito lebih kecil. Dia bukanlah kota terbesar di Ekuador, meskipun menjadi ibu kota negara. Kota terbesar di Ekuador justru Guayaquil, sekitar 30 menit dengan pesawat dari Quito.

Untuk sebuah ibu kota, Quito termasuk adem ayem. Bisa jadi karena saya juga tak terlalu jauh jalan-jalan di kota ini. Jarak dari hotel ke kantor tak lebih dari 100 meter. Tak sampai lima menit jalan kaki.

Jumlah penduduk Quito hanya sekitar 1,7 juta. Makanya kota ini juga terasa lebih tenang selain karena cuacanya juga lebih adem. Karena itu, menurut saya, Quito lebih cocok buat tempat menikmati hidup. Tak heran jika Ekuador jadi salah satu surga bagi para pensiunan.


Ketiga dari sisi tata kota.

Keduanya sama-sama mengesankan. Kota besar dengan tata kota yang bagus dan teratur. Rapi jali. Setidaknya dibandingkan kota-kota besar di Indonesia. Padahal, Peru dan Ekuador juga negara dunia ketiga layaknya Indonesia.

Namun, Quito dan Lima tetap berbeda tata kotanya.

Mungkin paling mudah dilihat dari penampakan luar, sampah-sampah visual di belantara kota. Quito lebih tertib untuk urusan baliho, poster, dan iklan-iklan luar ruangan ini. Memang banyak juga tapi lebih rapi.

Adapun Lima terlihat lebih banyak sampah-sampah visual luar ruangannya. Di kawasan pusat kota seperti Miraflores dan Barranco memang tak terlalu banyak. Namun, di daerah sekitarnya banyak banget. Mereka bertebaran dan seperti tanpa aturan.

Sampah visual lain yang amat mengganggu di Peru, dari kota sampai pelosok desa, adalah kampanye partai politik. Ini gila dan semena-mena. Di Indonesia sih masih mending karena kampanyenya pakai baliho atau poster yang bisa dibuka pas minggu tenang. Di Peru, kampanye-kampanye partai itu dicat di dinding dengan warna ngejreng dan huruf besar-besar.

Selain banyaknya sampah visual dari partai politik, Lima masih punya sisi seni di jalanannya. Grafiti-grafiti bertebaran pula di kota ini. Serupa pula di Quito.

Urusan cita rasa seni jalanan ini, Lima dan Quito sama saja. Mereka memberi tempat pada para seniman jalanan. Mural dan grafiti keren-keren plus warna-warni bertebaran di jalanan dua kota ini.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *