Belajarlah tentang Pertanian ke Amerika Selatan

0 , , , , Permalink 0

Setelah 38 jam perjalanan, sampai juga kembali di rumah, Bali Selasa malam lalu.

Saatnya menuliskan apa hal menarik dari perjalanan ke sana. Sebenarnya tujuan utama perjalanan ke sana untuk berbagi pengalaman tentang komunikasi dan publikasi kepada kolega di VECO Andino.

Namun, kami juga sekalian mengunjungi tiga lokasi di Ekuador dan Peru untuk melihat bagaimana anak-anak muda terlibat dalam pertanian berkelanjutan. Tentu saja menyenangkan karena bisa bekerja dan jalan-jalan, terutama di pedalaman kedua negara itu.

Dari Esmeraldas di pantai barat Ekuador, perjalanan kami berakhir di Junin, pedalaman Peru. Di semua tempat itu kami bertemu anak-anak muda yang amat antusias berbagi pengalaman dan harapan mereka terhadap masa depan pertanian di negara mereka.

Bagaimana mereka bisa begitu antusias kembali ke pertanian? Kurang lebih, inilah penyebabnya.

Pertama adanya harapan baru. Anak-anak muda di kedua negara ini suka rela kembali ke pertanian karena mereka menemukan masa depan.

Martine Bautista Sol dan Jairon Quiñonez di Esmeraldas, Ekuador bisa jadi contoh. Setelah merantau di kota, mereka malah kembali ke desa kelahiran masing-masin. Mereka bertani aneka komoditas termasuk kakao.

Penghasilan per bulan sekitar Rp 4,5 juta. Untuk ukuran petani di desa, jumlah itu termasuk besar. Apalagi jika dibandingkan dengan pendapatan petani Indonesia.

Jairon, 24 tahun, bercerita sambil makan siang ketika kami bertemu pekan awal November lalu. Dia merasa di kota terlalu banyak godaan. Narkoba. Alkohol. Pesta. “Kota tidak terlalu bagus buat masa depan saya,” katanya.

Maka, dia pun kembali ke desa. Bertani mengelola 20 hektar lahan milik keluarga. Baginya, harapan itu ada di desa.

Selain harapan, anak-anak muda itu juga bertani karena mereka punya peran baru dalam rantai. Ini hal kedua yang memotivasi mereka.

Ada anak-anak muda semacam Javier di Esmeraldas, Carlos di San Martin, dan Jerry di Junin. Pertanian bagi mereka tak sekadar bercocok tanam tapi juga pengolahan hasil panen menjadi produk siap saji.

Anak-anak muda berumur 20-an tahun itu tak hanya aktif di kebun. Mereka juga berperan dalam rantai lain. Javier, Carlos, dan Jerry menjadi pengawas kualitas produk kakao dan kopi. Ini peran penting yang selama ini tak banyak dilirik anak muda di kedua negara tersebut.

Di Indonesia, peran tersebut umumnya diambil oleh anak-anak muda atau malah orang tua dari kota yang sehari-hari sebenarnya terputus dari rantai pertanian. Beda dengan Ekuador dan Peru, setidaknya dari tempat-tempat yang kami kunjungi.

Mereka mengajarkan bahwa pertanian tak melulu urusan kebun tapi juga laboratorium uji kualitas. Anak-anak muda itu bekerja di ruangan khusus untuk memeriksa cita rasa dan kualitas kedua komoditas tersebut.

Karena itu pula, pekerjaan mereka terasa menyenangkan untuk ukuran anak muda. Inilah motivasi ketiga, pertanian itu ternyata keren.

Tentu saja keren kalau bekerjanya tak hanya di kebun dengan tanah kotor tapi di laboratorium dengan jas putih atau pakaian ala cupping tester. Tak cuma pakaian kumuh ala petani di sawah tapi baju khusus yang tak setiap orang bisa mengenakannya.

Sekali lagi, pertanian tak melulu persoalan budi daya. Anak-anak muda itu membuat pertanian terlihat keren. Gledys yang berjualan bibit kopi selain juga mengelola dua hektar lahannya. Atau Susan dan Felix di San Martin yang juga jadi penguji kualitas kakao.

Mereka tampil berbeda. Bangga dengan pekerjaannya.

Tak kalah pentingnya tentu dukungan orang-orang tua. Mereka tak memaksa anaknya meninggalkan pertanian, pekerjaan yang telah membesarkan anak-anak mereka.

Maka, mereka pun mengajarkan anak-anaknya tata cara bertani. Mereka juga mengajari anak-anak muda itu tentang organisasi, manajemen, hingga bisnis pertanian.

Dengan begitu, pertanian terus diwariskan kepada generasi baru, anak-anak muda dengan harapan dan kemampuan baru.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.