Media Jurnalisme Warga di Ajang Dunia

0 , , Permalink 0
Foto Agung Parameswara

Foto Agung Parameswara

Paris di awal Desember sedang memasuki musim dingin.

Suhu antara 5-10 derajat Celcius. Tidak sampai minus sih. Tapi, sesekali bisa membuat menggigil bagi tubuh yang terbiasa dengan hangatnya tropis.

Tiap tahun setidaknya 22,5 juta turis berkunjung ke ibu kota Perancis ini. Hampir 10 kali lipat dari jumlah penduduknya yang โ€œhanyaโ€ 2,5 juta.

Karena banyaknya jumlah turis itu, maka penambahan sekitar 50 ribu peserta Konferensi Para Pihak atau Conference of Parties 21 (COP 21) selama dua minggu pada awal Desember ini tak terlalu terasa. Kota ini sudah riuh sejak bawaan oroknya.

Keriuhan COP 21 lebih terasa di kawasan Le Bourget, pinggiran timur laut Paris tempat di mana COP 21 diadakan. Selama dua minggu, 50 ribu peserta konferensi perubahan iklim tahunan PBB ini berkumpul di tiga area: pusat konferensi, areal pameran, dan galeri.

Tiap hari, puluhan ribu peserta dan pengunjung hilir mudik di kawasan ini. Aku nyempil di antara para pejabat tertinggi negara, diplomat, aktivis organisasi non-pemerintah, masyarakat adat, dan seterusnya itu. Bolehlah sesekali berbangga, sebagai pewarta media jurnalisme warga, ternyata kami bisa juga mendapatkan kemewahan hadir di COP 21 ini.

Kami memang hadir sebagai pewarta warga di COP 21. Medianya bernama BaleBengong, media jurnalisme warga amatir yang berbasis di Bali. Selain aku, dua teman lain dari BaleBengong adalah Agung Prameswara dan Fadlik Al-Iman.

Kehadiran kami atas nama tim liputan mendalam tentang perubahan iklim. Topik liputan kami tentang dampak perubahan iklim terhadap populasi capung. Nama liputannya The Last Dragonfly. Kami mendapat dukungan dari CFI, lembaga dari Perancis yang mendukung pengembangan media termasuk di Asia Tenggara.

Dari Asia Tenggara, BaleBengong satu-satunya media jurnalisme warga yang mendapat dukungan beasiswa liputan tersebut. Media lain dari Indonesia adalah Suara.com. Adapun dari kawasan Asia Tenggara, media lain yang lolos beasiswa ini adalah media-media bergengsi semacam Bangkok Post, Inquirer Filipina, Rappler, dan CTN Kamboja.

Liputan di COP 21 adalah puncak dari seluruh proses beasiswa liputan sejak Mei 2015 lalu meliputi lokakarya di Kuala Lumpur (Mei 2015), Bangkok (Juni 2015), dan Hanoi (Oktober 2015). Untuk bagian terakhir aku tidak ikut karena pas ada Kongres International Federation of Agricultural Journalist (IFAJ) di Selandia Baru.

Media lain yang meliput COP 21 tentu saja bejibun banyaknya. Semua media besar dunia hadir di sini. Ruang Media di pusat konferensi, di mana hanya jurnalis dan media terakreditasi yang bisa hadir, penuh. Ribuan. Beberapa stasiun televisi bahkan membuat ruangan tersendiri.

Itulah menarik dan bangganya, media jurnalisme warga ternyata bisa juga turut eksis di ajang dunia. Senang dong..

Sebagai media jurnalisme warga, kami tidak terlalu tertarik meliput topik-topik besar, misalnya tarik menarik dalam Paris Agreement, lobi-lobi pejabat tinggi, dan semacamnya. Kami menulis topik yang relevan untuk Bali, seperti anak-anak Green School, tata kota, atau aksi tolak reklamasi.

Di luar itu, kami lebih banyak jalan-jalan sambil pura-pura liputan. Hehehe.. Misalnya ke Pantheon melihat pameran gletser yang meleleh, aksi masyarakat sipil, pameran komunitas, dan jalan-jalan ke museum sains.

Hasilnya, tetap bisa dibaca di BaleBengong media jurnalisme warga tercinta. ๐Ÿ˜‰

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *