Tuntas Sudah, Saatnya Berganti Nakhoda

0 , , Permalink 0
Inilah dia tim pengelola BaleBengong yang baru. Foto Anton Muhajir.

Setelah hampir 15 tahun, saatnya undur diri.

Tahun ini secara resmi aku sudah tidak lagi ikut mengurusi BaleBengong. Sudah ada tim baru yang akan mengelola media jurnalisme warga kebanggaan Pulau Dewata (hehehe) ini. Aku cukup membantu sesekali. Itu pun jika diperlukan.

Rasanya campur aduk, sih.

Agak sedih karena harus “melepaskannya” setelah 15 tahun. Ada semacam ragu-ragu dan tidak tega juga karena harus meninggalkannya setelah berjibaku, jatuh bangun merintis dan mengasuhnya hingga usia remaja.

Ada juga semacam kegentaran dalam diri karena merasa kehilangan sesuatu. Maklumlah, sindrom setelah tak punya kekuasaan (post-power syndrome) juga hal yang manusiawi. Perlu diwaspadai.

Namun, perasaan lebih banyak justru senang, sih.

Niat untuk berhenti mengurusi media ini sebenarnya sudah sejak lima tahun lalu, ketika BaleBengong sudah berumur sepuluh tahun. Waktu itu aku merasa sudah sangat jenuh. Sudah merasa mentok. Bosan. Alasan lain, harus sadar diri juga agar media yang konon untuk kepentingan publik ini tidak menjadi milik pribadi.

Sayangnya, niat waktu itu tidak terwujud. Masih harus berjibaku mengurusi media ini.

Kini, meskipun mundur lima tahun kemudian, syukurlah niat itu terwujud juga. Aku kini bisa bernapas lega. Rasanya seperti melepas beban besar yang sekian lama harus dipikul atas nama tanggung jawab moral dan intelektual. Aku bisa melepaskannya dengan bahagia.

Setelah sejak awal merintis dari nol, media nirlaba ini masih bertahan selama hampir 15 tahun perjalanan. Setelah sekitar lima tahun terakhir bolak-balik merasa sudah jenuh dan tak banyak hal baru, kini aku bisa lega melihat darah segar untuk menjalankannya.

Padahal, aku ingat beberapa media yang dulu jadi acuan justru sudah lama tidak terbit lagi. Panyingkul dan Wikimu hanya dua di antaranya. Dua media ini yang seingatku dulu jadi acuan untuk mendirikan BaleBengong, selain juga media jurnalisme warga ternama dunia saat itu, ohmynews.com.

Menurut pengalamanku sendiri, tidak mudah juga membuat sebuah media nirlaba bisa bertahan selama itu. Perlu ada kesungguhan dan kesediaan untuk berjibaku mengelola secara sukarela.

Pada tahap membuat, misalnya, perlu ada keseriusan untuk meminta-minta artikel ke teman-teman sendiri. Aku ingat pada saat itu meminta ke teman-teman aktivis, baik di isu lingkungan maupun HIV dan AIDS, di mana aku juga terlibat di dalamnya.

Sesekali, aku wawancara mereka untuk kemudian artikelnya aku tulis menggunakan nama mereka sebagai penulis. Ya, biar mereka senang juga karena pengalaman dan ceritanya bisa jadi berita juga.

Ketika sudah ada beberapa teman selingkaran yang mulai rajin nulis, tahap selanjutnya adalah menyediakan waktu untuk mengelola. Mengedit tulisan dan mengunggahnya ke situs web itu juga perlu waktu.

Kalau pas banyak kerjaan, biasanya penyuntingan itu harus dilakukan pada pagi dini hari. Atau, jika agak selo, biasanya dikerjakan di antara kerjaan-kerjaan lain. Sambil curi-curi waktu.

Paling susah saat itu jika harus keluar kota dengan koneksi internet susah. Bisa berhari-hari tidak ada artikel baru sama sekali.

Karena itulah mengelola BaleBengong ini juga memerlukan kesabaran. Tak hanya tenaga dan pikiran, tetapi juga modal. Kesabaran mengajak orang untuk ikut menulis, mengoprek tampilan, membenahi ketika ada kerusakan, plus menghadapi jika ada masalah.

Syukurnya banyak teman juga bisa diajak kerja-kerja secara sukarela. Meskipun kadang harus dengan susah payah, masih banyak kok yang mau mengerjakan hal-hal semacam itu, yang bagi banyak orang mungkin dianggap sia-sia.

Mari tetap dukung BaleBengong agar tetap setia melantangkan suara warga, terutama mereka yang selama ini tak terdengar suaranya.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.