Kejarlah Inspirasi sampai Sekartaji

0 , , Permalink 0

Niatnya sih sok menginspirasi. Eh, malah sebaliknya.

Aku yang justru nemu ide-ide baru bagaimana menjelaskan pekerjaan sebagai wartawan ke anak-anak SD itu ketika ikut Kelas Inspirasi di Nusa Penida, Bali.

. Ini kegiatan ketiga di Bali setelah sebelumnya di Bangli pada 2013 dan 2014. Aku sih baru ikut yang pertama kalinya. Pengen saja punya pengalaman baru.

Kelas Inspirasi bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak SD tentang pekerjaan kita sehari-hari.

Ternyata tidak mudah juga. Lebih mudah menjelaskan pekerjaan-pekerjaan semacam dokter atau guru pada anak-anak. Mereka sudah biasa melihatnya sehari-hari atau bahkan terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan itu.

Tapi, bagaimana menjelaskan pekerjaan wartawan kepada anak-anak? Apalagi wartawan lepas seperti aku.

Sejumlah ide pun muncul begitu aku selesai ikut pembekalan pengajar Kelas Inspirasi ini di Denpasar tiga hari lalu. Di kepalaku sudah tergambar sejumlah rencana. Siang hari setelah pembekalan itu, aku pun menyiapkan peralatann

Rencana di kepala, aku akan mengajak anak-anak bermain atau simulasi dengan kegiatan yang menggambarkan pekerjaan wartawan. Misalnya saling mewawancarai, membuat rantai informasi, dan semacamnya.

Praktik di lapangan, ternyata susaaaaaaah. Hehehe..

Senin pagi ketika matahari pun belum terbit, aku dan Nandang, teman wartawan yang meliput Kelas Inspirasi, berangkat dari rumah Wayan Sukadana, teman di Nusa Penida. Dari sisi timur pulau, kami naik motor menuju ujung barat daya.

Perjalanan selama sekitar 1 jam dengan medan berat naik turun melewati jalan rusak. Tapi enak karena sepi. Udara segar. Pemandangan keren.

Sampai di SDN Sekartaji 1, belum ada satu pun pengajar lain. Padahal, kami mengira kami paling terlambat. Eh, kami ternyata bahkan tiba lebih pagi dari sebagian besar murid dan guru di sekolah itu.

Setelah perkenalan dengan para guru dan upacara bendera, giliran kami pun tiba untuk menjadi pengajar. Aku kebagian mengajar jam pertama di Kelas VI dan jam ketiga di Kelas IV. Aku bayangkan saja akan mengajar untuk Bani, anakku sendiri yang Kelas V.

Eh, ternyata tetap jantung tetap dagdigdugder juga ketika akhirnya berdiri di depan mereka.

Semua rencana pun mendadak terasa tak berjalan seperti yang ada di kepala. Ide-ide di kepala ternyata tak berjalan semulus apa yang sudah aku bayangkan sebelumnya. Banyak alasannya. Misalnya, tidak semua anak paham apa yang kita maksud. Kita tidak cukup bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana ke anak-anak.

Pada materi kedua barulah aku menemukan cara lebih bagus, setidaknya menurutku. Dengan bantuan si Nandang, aku ajak anak-anak itu langsung melakukan kegiatan sebagai wartawan. Dengan membawa kamera dan video perekam, mereka bisa datang ke ruangan lain, merekam kegiatan teman-temannya, memotret, lalu wawancara.

Ternyata seru juga. Anak-anak jadi tahu bagaimana melakukan pekerjaan ini sambil ketawa ketiwi.

Pada penutupan Kelas Inspirasi, anak-anak itu diminta menuliskan cita-cita mereka. Eh, ternyata tetap tak ada satu pun yang ingin jadi wartawan. Mengenaskan. Hihihi..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.