Pospera yang Menggali Kuburan untuk Jokowi

0 , , Permalink 0

Pospera Lapor ke Polda Bali

Februari lalu saya menemani tim sebuah kantor dari Jakarta.

Kantor langsung di bawah presiden ini melakukan kajian lapangan untuk melihat bagaimana respon warga Bali terhadap isu reklamasi Teluk Benoa.

Kami bekerja tidak terbuka. Hanya mengaku sebagai turis biasa. Meskipun ikut menolak reklamasi, saya berusaha untuk tidak bertendensi mengajak tim ini hanya ke warga yang menolak.

Saya berusaha “senetral” mungkin meski tentu tidak mudah.

Ada enam lokasi utama yang kami kunjungi. Semuanya mengelilingi Tanjung Benoa, lokasi yang akan direklamasi PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI).

Kami mulai dari Pulau Serangan untuk melihat bagaimana reklamasi pada 1994-1996 berdampak pada warga. Dari sana, kami lanjut ke Suwung, Tuban, Kedonganan, Tanjung Benoa, dan terakhir di Pulau Pudut.

Kami bertemu warga secara acak. Masyarakat adat, pemilik usaha pariwisata, turis, pemandu lokal, dan pedagang kecil. Kami juga ngobrol dengan aktivis Bali Tolak Reklamasi.

Ada tiga hal penting yang saya catat dari penjajakan di lapangan atau bahasa kerennya (field assessment) itu.

Pertama, dari enam lokasi yang kami kunjungi, cuma di satu tempat kami menemukan orang yang setuju dengan reklamasi Teluk Benoa. Warga lainnya menolak dengan berbagai alasan, terutama lingkungan dan budaya.

Kedua, isu tolak reklamasi jelas menaikkan tingkat keterpilihan (elektabilitas) Jokowi di Bali. Hampir semua penggerak gerakan Bali tolak reklamasi Teluk Benoa mengaku atau bahkan mengajak untuk memilih pasangan Jokowi – Jusuf Kalla (JK). Mereka percaya bahwa Jokowi – JK lebih bisa dipercaya untuk membatalkan rencana reklamasi dibanding pasangan calon lain.

Ketiga, warga masih berharap Jokowi akan membatalkan rencana reklamasi. Mereka masih percaya pada Jokowi sebagai orang yang mereka pilih pada pemilihan presiden tahun lalu. Karena itu, jika ternyata kemudian Jokowi nantinya tidak membatalkan, mereka mengaku tidak akan memilih lagi.

Sebagai tambahan informasi, orang yang mendukung reklamasi Teluk Benoa ternyata adalah pemilih Prabowo – Hatta.

Ingatan tentang penjajakan itu datang setelah Pospera ini bawa-bawa nama Jokowi sebagai Pelindung Pospera. Geng bekas aktivis 98 ini bangga mengaku sebagai relawan pendukung Jokowi, termasuk di Bali. Seolah-olah merekalah yang berjasa mengantarkan Jokowi ke kursi presiden dan mereka pula yang akan mempertahankan Jokowi pada Pemilu mendatang.

Padahal ya omong kosong.

Dalam gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa, anak-anak Pospera ini justru jelas bersikap melawan aspirasi warga Bali yang menolak reklamasi. Dalam kasus terakhir, mereka bahkan melaporkan Wayan Gendo Suardana ke polisi dengan tuduhan telah menyebarkan kebencian terkait suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).

Dari awal, anak-anak Pospera mengaku laporan ke polisi itu tidak ada hubungannya dengan gerakan Bali Tolak Reklamasi. Ini ibarat anak kecil yang tiba-tiba berteriak bahwa bukan dia yang mencuri uang ketika ada orang kehilangan uang padahal tidak pernah ada yang menuduh si anak kecil itu.

Penyangkalan Pospera sejak awal justru membuka pikiran orang lain bahwa laporan mereka memang terkait dengan isu tolak reklamasi. Penyangkalan itu pula yang justru membuka mata orang lain bahwa Pospera adalah bagian dari pelaku reklamasi Teluk Benoa.

Maka, jika Pospera ini tetap saja bawa-bawa nama Jokowi, jelaslah bahwa mereka justru telah menggali kuburan untuk Jokowi. Sebab, siapa yang mau mendukung Jokowi lagi jika dia justru dikampanyekan oportunis yang melawan aspirasi rakyat Bali?

Foto Pospera Bali saat melaporkan Gendo ke polisi dicomot dari KabarNusa.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.