Ngeblog dan Hal-hal Tak Pernah Terbayangkan

Banyak hal tak pernah aku bayangkan terjadi gara-gara blog.

Ingatan tentang itu muncul kembali setelah sepupuku, Jauhar Ridloni Marzuq, bertanya tentang apa enaknya pakai blog dibanding majalah cetak. Pertanyaan sepupu yang lagi kuliah di Al-Azhar, Mesir itu muncul setelah ada diskusi di antara kami tentang perlunya membuat majalah keluarga.

Continue reading “Ngeblog dan Hal-hal Tak Pernah Terbayangkan”

Menyembuhkan Infeksi dengan Informasi

Tantangan sekarang bukan lagi bagaimana mengakses, tapi memilih dan memilah informasi.

Sebab, ketika saluran informasi sudah dibuka, maka informasi tak lagi elitis. Dia bisa datang dari mana saja dan diakses siapa. Dia mengalir terus. Ke mana saja. Lewat apa saja.

Seperti air. Tak ada yang bisa membendung aliran informasi ini.

Continue reading “Menyembuhkan Infeksi dengan Informasi”

#UKRiot, Beragam Format di Satu Tempat

Kerusuhan di Inggris menyebar tak hanya di berbagai kota, tapi juga segala format media.

Format pertama, teks, tentu di media konvensional, koran. Dari sini aku tahu pertama kali tentang kerusuhan yang menyebar pertama kali dari Tottenham, daerah pinggiran London Utara itu.

Continue reading “#UKRiot, Beragam Format di Satu Tempat”

Ambil Secukupnya atau Hilang Semua

Tukang sate itu memberikan jawaban tidak jelas. Padahal permintaanku sederhana.

Aku pesan sate ayam Rp 50.000. Terserah dia mau kasih berapa saja jumlahnya. Rencananya sate itu mau kami pakai buat acara buka puasa di rumah. Karena itu, aku minta agar sate itu sudah siap pukul 5 esok harinya.

Continue reading “Ambil Secukupnya atau Hilang Semua”

Refleksi Empat Hari Mbebek Hillary

Setelah empat hari jadi embedded blogger kunjungan Hillary Clinton di Bali, inilah saatnya membuat refleksi.

Pertama, aku jadi tahu bagaimana rasanya jadi embedded journalist. Meskipun Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika mengundangku sebagai embedded blogger, tetap saja tanggung jawabku selama ikut mereka tak jauh beda dengan pekerjaanku selama ini, jurnalis.

Continue reading “Refleksi Empat Hari Mbebek Hillary”

Ketakutan Amerika di Balik Kedigdayaannya

Sepertinya orang Amerika tidak bisa tenang. Apalagi pejabatnya.

Tak heran jika rombongan dari pemerintah Amerika Serikat yang bawaannya paling gawat dibanding rombongan pejabat negara lain. Jika rombongan pejabat dari negara lain hanya dikawal sesama diplomat, maka rombongan Menteri Luar Negeri Amerika, Hillary Clinton selalu dikawal tim pengamaman dipolomatik alias Diplomatic Security (DS).

Continue reading “Ketakutan Amerika di Balik Kedigdayaannya”

Mereka Peduli. Anda Tidak, Pak Menteri..

Ketika Kedutaan Amerika Serikat mengundangku sebagai embedded blogger, diam-diam aku meratap juga.

Kalau Amerika begitu peduli pada warga dunia maya (netizen) khususnya blogger, kenapa justru pemerintah Indonesia begitu ketakutan terhadap kami? Kalau Amerika memberi tempat begitu istimewa pada blogger, kenapa pemerintah tak pernah mengajak kami? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang mengusik kepalaku.

Continue reading “Mereka Peduli. Anda Tidak, Pak Menteri..”

Semakin Berdarah Semakin Meriah

Kenapa media sering sekali menampilkan berita kriminal dibandingkan prestasi sekolah?

Pertanyaan seperti itu kembali muncul ketika aku memberikan pelatihan jurnalistik untuk murid SMP dan SMA. Salah satu siswa menggugat berita yang ada di media arus utama. Tak hanya koran tapi juga TV.

Continue reading “Semakin Berdarah Semakin Meriah”

Kuatnya Perempuan dalam Adat Lamongan

Kalau di tempat lain laki-laki yang memegang kendali dalam tradisi, maka tidak demikian di Lamongan.

Kuatnya posisi perempuan di Lamongan ini mengingatkanku lagi ketika aku pulang kampung pekan lalu. Selain untuk liburan juga sekalian meramaikan pernikahan sepupuku. Pernikahan sepupuku dengan laki-laki dari Betawi ini justru diadakan di rumah mempelai perempuan.

Continue reading “Kuatnya Perempuan dalam Adat Lamongan”