
Asap putih lebih pekat muncul dari puncak Gunung Agung.
“Beda kan awannya? Lebih gelap dan pekat dibanding awan-awan di atasnya. Sepertinya itu awan dari kawah,” kataku percaya diri.
Continue reading “Beratnya Menahan Diri saat Banjir Informasi”
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Asap putih lebih pekat muncul dari puncak Gunung Agung.
“Beda kan awannya? Lebih gelap dan pekat dibanding awan-awan di atasnya. Sepertinya itu awan dari kawah,” kataku percaya diri.
Continue reading “Beratnya Menahan Diri saat Banjir Informasi”
Tifatul Sembiring membuat kontroversi lagi hari ini.
Melalui akun Twitternya, Menteri Komunikasi & Informasi (Menkominfo) Kabinet Indonesia Bersatu II 2009 – 2014 tersebut melemparkan wacana untuk memblokir Twitter di Indonesia.
Continue reading “Karena Twitter Membuat Warga Lebih Pinter”
Ini cerita agak basi tapi masih perlu dituliskan lagi.
Tentang upaya Indonesia untuk membangun pemerintah yang lebih terbuka (open government). Begitu pula dalam diskusi Konferensi Open Government Partnership (OGP) di Bali selama empat hari ini. Continue reading “Mengapresiasi Upaya Menuju Pemerintahan Terbuka”
Masak optimisme saja kita tak punya sih?
Karena itulah aku memilih optimis. Aku memilih yakin bahwa negeri ini akan lebih baik jika serius menerapkan keterbukaan. Meskipun, perjalanan menuju keterbukaan itu masih panjang.
“Gempa” susulan pun terjadi di linimasa.
Begitu gempa 8,5 Richter mengguncang kawasan barat Sumatera, termasuk Daerah Istimewa Aceh dan Sumatera Utara dua hari lalu, informasi di Twitter pun berseliweran. Seperti biasa, gempa di linimasa ini membuat warga lebih panik dibanding gempa sesungguhnya.
Aku sendiri pernah merasakannya ketika ada gempa di Bali selatan Oktober 2011 lalu. Pas aku lagi di Flores, Bali kena gempa. Lalu di Twitter pun informasi berseliweran. Karena hanya baca di Twitter, ketakutanku kok amat terasa. Padahal ya tak segawat yang ada di linimasa.
Continue reading “Bijak Memilih dan Memilah Serakan Informasi”

Tantangan sekarang bukan lagi bagaimana mengakses, tapi memilih dan memilah informasi.
Sebab, ketika saluran informasi sudah dibuka, maka informasi tak lagi elitis. Dia bisa datang dari mana saja dan diakses siapa. Dia mengalir terus. Ke mana saja. Lewat apa saja.
Seperti air. Tak ada yang bisa membendung aliran informasi ini.