Ambil Secukupnya atau Hilang Semua

1 , Permalink 0

Tukang sate itu memberikan jawaban tidak jelas. Padahal permintaanku sederhana.

Aku pesan sate ayam Rp 50.000. Terserah dia mau kasih berapa saja jumlahnya. Rencananya sate itu mau kami pakai buat acara buka puasa di rumah. Karena itu, aku minta agar sate itu sudah siap pukul 5 esok harinya.

Tapi, ya begitu, deh. Tukang satu itu tidak menjawabnya dengan jelas. Jawabannya terdengar agak absurd. Begini. “Itu jam 4 kan baru Ashar. Saya baru berangkat. Belum lagi nanti di jalan saya dapat pembeli,” katanya.

“Kan sudah ada pembeli yang pasti, Pak. Lima puluh ribu lagi,” kataku.

“Tapi, nganu. Saya baru berangkat jam 4. Nanti di jalan saya takut ada pembeli,” jawabnya lagi.

Saking gemasnya, aku sampai agak memaksanya dengan pertanyaan tertutup. “Jadi, bisa atau tidak, Pak?” Eh, dia masih saja menjawab ak uk ak uk. Akhirnya, aku putuskan saja. Tak usah deh pesan sate ke bapak tukang sate di dekat rumah tersebut.

Pas pergi, aku sambil mikir, kok aneh banget sih bapak ini. Bukannya semangat ketika ada pelanggan pesan dagangannya dalam jumlah banyak, dia kok malah ragu-ragu memberikan jawaban.

Lalu aku sedikit refleksi. Mungkin itu salah satu penyebab kenapa orang susah maju. Terlalu berharap mendapat yang lebih besar sehingga menolak yang dianggap kurang. Dan, itu tak hanya tukang sate. Bisa saja itu aku. Atau kita.

Ada ilustrasi menarik tentang sifat ini, acara TV Super Deal 2 Milyar di TV. Acara ini bisa jadi salah satu pertunjukan bagaimana manusia pada dasarnya kemaruk dan kurang puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Tak sedikit peserta menolak hadiah yang sudah pasti di depan mata ketika ditawari hadiah belum jelas kepadanya. Katakanlah dia mendapat uang Rp 10 juta, lalu ditawari hadiah tertutup tirai. Selama aku nonton acara ini, peserta cenderung akan memilih hadiah dalam tirai, sesuatu yang belum pasti.

Tapi, ini bukan soal salah benar. Tidak ada hitam putih.

Keinginan mengambil sesuatu yang belum pasti bisa jadi juga sebuah keberanian. Jadi, kalau dia menolak, itu justru keberaniannya untuk mengambil risiko. Kalau gagal, mungkin belum jodohnya. Lha kalau menang dan dapat lebih besar, tentu itu bukan sebuah keberuntungan tapi hasil keberanian pertaruhan.

Jadi, semoga tukang sate memang bisa mendapat pembeli lebih banyak meski menolak melayani pesananku. Kalau tidak, apa boleh, aku cuma bisa bilang, “Kasihan..”

Foto diambil dari website Super Deal 2 Milyar.

No related content found.

1 Comment
  • imadewira
    September 21, 2011

    Bisa-bisanya pak anton mengambil hikmah dari sebuah acara kuis ya, hehe

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *