Kami setengah putus asa. Hampir saja membatalkannya.
Bani menangis sampai meronta-ronta. Padahal dia sudah telentang di kasur serta membuka sarung dan celana. Dia siap disunat.
Continue reading “Merayakan Sunatnya Bani dan Aqiqah Satori”
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Kami setengah putus asa. Hampir saja membatalkannya.
Bani menangis sampai meronta-ronta. Padahal dia sudah telentang di kasur serta membuka sarung dan celana. Dia siap disunat.
Continue reading “Merayakan Sunatnya Bani dan Aqiqah Satori”
Tak perlu antre sama sekali.
Kami bisa langsung mendapatkan pelayanan dari bidan Ni Wayan Darsini ketika sampai di rumahnya Kamis sore lalu. Padahal, kalau di dokter anak, kami harus antre setidaknya satu jam.
Sepucuk surat protes menyambutku begitu sampai rumah.
Bani memberikan surat itu begitu aku membuka pintu rumah sekitar pukul 8.30 malam pas baru pulang kerja. Hari ini tak hanya jam kerja seperti biasa, pukul 8 pagi sampai 5 sore, aku juga ada wawancara untuk riset soal jurnalisme warga di Bali.
Semula, narasumber dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Bali tersebut bilang bisa wawancara pukul 4.30 Wita. Eh, ndilalah ternyata dia molor sampai sekitar pukul 6 petang baru bisa. Apa boleh buat. Daripada batal.
Bahkan sebagian iklan pun menganggap perempuan sebagai pelayan.
Perhatian terhadap iklan yang bias gender dengan menempatkan perempuan sebagai pelayan ini makin aku perhatikan akhir-akhir ini. Sambil duduk memangku anak kedua kami, Satori Nawalapatra, aku biasa nonton iklan tersebut di televisi.
Puncak tumpeng menandai penyerahan tongkat estafet di Sloka Institute.
Aku memotongnya setelah memberikan basa-basi tentang lembaga ini. Potongan tumpeng ulang tahun itu kemudian aku serahkan pada Gus Tulank. Puncak tumpeng ini hanya simbol. Di baliknya adalah tanggung jawab untuk membawa Sloka.
Begitulah. Perayaan ultah Sloka kelima kemarin adalah perayaan kami yang pertama. Kami belum pernah merayakan ultah sama sekali sebelumnya. Kali ini agak istimewa karena selain perayaan ultah kelima juga sekaligus pergantian direktur.

Kami memulainya lima tahun lalu hanya bermodal iri.
Ketika di kota-kota lain ada lembaga di bidang media, kenapa di Bali tidak ada. Di Jakarta ada Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). Di Yogyakarta ada Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y). Di Makassar ada Lembaga Studi Informasi dan Media Massa (Elsim), dan seterusnya.
Mendadak jantungku berdegup lebih kencang karena takut.
Ketakutan berlebihan itu justru datang ketika dokter bilang bayi kami sudah sepertiga keluar. Aku tak tahu persis apa maksud sepertiga ini. Tapi, aku bayangkan bayi kami sudah keluar kepalanya sementara dua pertiga badannya masih dalam rahim.
Ini pengalaman pertama ikut live in dalam rangka pelatihan riset.
Kalau tinggal bersama (live in), dalam bentuk berbeda sih sudah biasa. Misalnya pas di Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pengabdian pada masyarakat saat mahasiswa. Nah, kalau live in untuk keperluan pelatihan riset ya ini pertama kalinya.