Sebab, Perempuan Bukanlah Pelayan

7 , , , Permalink 0

Bahkan sebagian iklan pun menganggap perempuan sebagai pelayan.

Perhatian terhadap iklan yang bias gender dengan menempatkan perempuan sebagai pelayan ini makin aku perhatikan akhir-akhir ini. Sambil duduk memangku anak kedua kami, Satori Nawalapatra, aku biasa nonton iklan tersebut di televisi.

Salah satu iklan ini sebenarnya amat menggemaskan, Bebelac. Ini termasuk iklan di televisi yang aku sukai. Benar, deh. Gemes banget lihat anak-anak balita tersebut menyanyi, menari, dan memeluk ibunya.

Cuma ya itu, kenapa hanya ibu. Tak ada ayah sama sekali di iklan tersebut.

Sebagai ayah yang hampir tiap hari memandikan, momong, plus puk-puk Satori kalau nangis, aku jadi nelangsa. Mbok ya Bebelac ini masukin ayah juga di iklannya. ๐Ÿ™‚

Ada pula iklan lain yang bagiku tak sensitif gender, teh celup Sariwangi. Seri iklan ini banyak. Tapi yang terbaru adalah seorang suami sedang ngetik malam-malam. Pas istrinya mau tidur, si suami berujar kurang lebih begini, โ€œJangan tidur dulu, dong. Kan belum dibuatkan teh..โ€

Lalu, dengan patuhnya si istri pun membuatkan teh untuk suaminya. Aduh ini suami malas banget, sih. Masak buat segelas teh saja harus dibuatin istri..

Aku cek beberapa iklan Sariwangi lainnya juga kurang lebih sama, si ibu yang membuatkan teh untuk si ayah dan atau anak-anaknya.

Iklan lain yang tak sensitif gender adalah iklan pewangi pakaian Molto. Dalam iklan tersebut, istri mencuci dengan pakai pewangi untuk suaminya. Ya, si suami yang pemalas ini lagi-lagi tinggal terima beres lalu memuji istrinya.

Tiga iklan di atas hanya contoh. Banyak contoh iklan yang menempatkan perempuan sebagai pelayan atau pekerja rumah tangga. Bisa saja iklan sabun mandi, bumbu penyedap, dan lain-lain. Seolah-olah, menurut iklan-iklan tersebut, perempuanlah yang HARUS menyelesaikan pekerjaan dalam rumah tangga. Inilah kekeliruan yang terus dipelihara tersebut.

Keliru
Anggapan bahwa perempuan atau ibu adalah orang yang bertanggung jawab untuk urusan rumah tangga ini jelas keliru. Pekerjaan rumah tangga itu tak cuma urusan perempuan. Itu tanggung jawab bersama, suami dan istri, ayah dan ibu.

Namun, anggapan tersebut terus dipelihara sejak kecil. Anak perempuanlah yang harus cuci baju ketika anak laki-laki bebas main layangan. Anak perempuanlah yang harus menyapu rumah ketika anak laki-laki sedang main gundu. Dan seterusnya..

Aku ingat ketika masih SD dan tinggal sama orang tua. Teman-teman yang cowok pada suka komentar sinis kalau lihat aku ikut cuci peralatan dapur, cuci pakaian, atau menyapu halaman rumah bareng kakak perempuanku. โ€œWong lanang kok umbah-umbah,โ€ kata mereka.

Aku cuek saja. Tak tahu kenapa sejak SD pun aku sudah berpikir bahwa pekerjaan domestik pun urusan laki-laki, tak cuma perempuan. Karena itu, sampai sekarang pun aku terbiasa melakukan semua pekerjaan dalam rumah tangga itu dengan suka rela tanpa harus diminta istri.

Sayangnya, kebiasaan-kebiasaan perempuan yang menyelesaikan pekerjaan rumah tangga itu kemudian berlanjut jadi serupa dogma. Seolah-olah tak bisa dibantah. Maka, laki-laki pun malas menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti cuci baju, membersihkan rumah, dan semacamnya.

Parahnya, bahkan untuk keperluannya sendiri pun, seperti menyeduh teh atau kopi sendiri. Tentu saja tak semua. Tapi aku yakin banyak laki-laki begitu.

Padahal, anggapan-anggapan semacam itu adalah kekeliruan. Laki-laki dan perempuan tak bisa dibedakan hanya karena pekerjaan. Kalau yang bersifat kodrati sih iya. Misalnya, hanya perempuan yang bisa hamil dan menyusui. Tapi, untuk memandikan bayi, laki-laki pun bisa. Begitu pula dengan mencuci baju, menyetrika, memasak, dan urusan domestik lainnya.

Masalahnya tinggal apakah laki-laki atau suami mau atau tidak. Itu saja!

7 Comments
  • slaksmi
    April 17, 2012

    Jiaaah, jelas bukan! ๐Ÿ™‚
    Tapi ya, mas Anton, sekarang sebenarnya pembagian tugas di beberapa pasangan di Jakarta sudah mulai sangat pragmatis –mungkin bukan gara-gara pemahaman gender. Pengalaman saya dan suami, para pasangan muda tinggal di (sedikit luar) Jakarta yang bukan anak orang kaya, pembagian tugas itu praktis saja: siapa yang sempat dan pembagian pakai kartu kredit siapa atau pakai budget yang mana. Hehehe.

    ReplyReply

    [Reply]

  • putri astiti
    April 22, 2012

    semogaaa smogaaa suamiku nanti mau nyuci2 dan nyikat kamar mandi giliran sama aku. amiinnn ๐Ÿ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ifa
    April 24, 2012

    setuju banget mas, bener tuh, alhamdulillah suamiku juga gak nuntut istrinya bikiin kopi buat dia, justru kadang tetiba dia ambil minum buat aku hehehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • Helda
    April 30, 2012

    Helda senyum-senyum bacanya, Pak. ๐Ÿ˜€
    Cowo yg ngga gengsi mengerjakan kerjaan rumah tangga itu seksi. Mungkin ada ayah-ayah lain atau pria-pria yg ngga sempat ngaluin pekerjaan rumah tangga krn begitu sibuk mencari nafkah. Tapi kalu krn gengsi itu yang Helda ngga terima. ^^

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agus Lenyot
    May 7, 2012

    Hahaha. Susah mas mengubah kultur macam begini. Sebagian besar lelaki dan perempuan secara tidak sadar sudah menempatkan posisi dilayani dan melayani :))

    ReplyReply

    [Reply]

  • .gungws
    May 10, 2012

    setujuh mas ๐Ÿ˜€
    eh, tapi..baru beberapa hari yang lalu ngobrol sama @NHaryati, dia bilang ada kesenangan tersendiri ketika melayani lelaki…
    melayani dalam arti luas ya… dan diiringi anggukan oleh @du_NIA_sih, misalnya menyiapkan makanan, atau sekedar buatin teh…
    sekian laporan,komendan!
    #serius

    ReplyReply

    [Reply]

  • Efi
    May 10, 2012

    ah…Love this post mas. Kang masku wajib baca post ini ๐Ÿ˜‰

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *