Citilink, Sudah Tertukar Molor Pula

image

Citilink kali ini benar-benar aneh. Menyebalkan.

Pertama pada saat check in. Berdasarkan pemesanan secara dalam jaringan (online) sehari sebelumnya, penerbanganku kemarin seharusnya bernomor QG 643. Namun, pada saat check in di Bandara Ngurah Rai, Bali, konter menuliskan QG 645.

Continue reading “Citilink, Sudah Tertukar Molor Pula”

Akhirnya Bisa Ngeblog Bergerak Juga

Maka, lahirlah tulisan ini.

Diketik dari Android, Samsung Galaxy S. Biasanya sih kalo ngeblog suka dari komputer jinjing.

Karena ini pertama kali pakai, jadi belum ngerti banyak. Kalau melihat sekilas sih bisa ngetik seperti biasa kalau di laptop. Fasilitas olah tulisan seperti bold, italic, garis bawah, atau potong teks juga ada.

Continue reading “Akhirnya Bisa Ngeblog Bergerak Juga”

Aneh Rasanya Jongkok Tanpa Ponsel

Padahal dulu-dulu juga biasa saja.

Tapi, ya begitulah. Malam ini, ketika jongkok di toilet tanpa memegang telepon seluler (ponsel), aku tiba-tiba merasa tak lengkap. Aku merasa ada sesuatu yang kurang.

Kemudian, setelah mikir lebih serius lagi, ternyata ponsel itu begitu melekat denganku. Tak cuma ketika, misalnya, jongkok di toilet tapi juga dari awal hingga akhir hari. Dari pagi hingga pagi lagi. Dia seolah-olah menjadi sesuatu yang tak bisa aku lepaskan sama sekali.

Continue reading “Aneh Rasanya Jongkok Tanpa Ponsel”

Buku-buku yang Tak Selesai di 2012

Tahun lalu sepertinya jadi tahun buruk buat baca dan ngeblog.

Untuk urusan baca buku, aku tak menghitung persisnya berapa buku yang aku selesaikan. Cuma amat yakin kalau makin berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, ada beberapa buku yang tak bisa aku selesaikan. Buku-buku tak selesai itu terutama yang berbahasa Inggris.

Continue reading “Buku-buku yang Tak Selesai di 2012”

Mengembalikan Jurnalisme kepada Publik

Awalnya dari rasa jengah: ke mana perginya jurnalisme berkualitas di Bali saat ini?

Pernyataan di balik pertanyaan tersebut mungkin terlalu dini. Tapi, setidaknya ada beberapa penanda makin hilangnya jurnalisme berkualitas di Bali. Tiga hal yang menandai tersebut adalah tema berita, penyampaian berita, dan etika jurnalis.

Dari sisi tema berita, sebagian besar media di Bali lebih banyak memberikan seputar intrik dan konflik elite politik. Penyampaian berita kemudian lebih banyak hanya bersifat talking news, semata tentang omongan-omongan elite. Dalam bahasa sarkastik, ada yang menyebutnya sebagai jurnalisme ludah, apa pun omongan elite politik akan diberitakan. Tidak perlu verifikasi. Tak ada keberimbangan. Bahkan, berita seringkali malah hanya menjadi alat adu domba.

Continue reading “Mengembalikan Jurnalisme kepada Publik”

Tetaplah Menjadi Matahari Kami, Bani dan Satori

Hari ini mungkin mewakili perjalanan kami.

Pukul 8 pagi Bunda duluan keluar. Dia liputan tentang anak-anak autis di wantilan DPRD Bali. Aku giliran momong Satori, yang kini berumur enam bulan. Karena hari Minggu, maka Bani juga di rumah. Libur sekolah. Pengasuh keduanya tak masuk.

Continue reading “Tetaplah Menjadi Matahari Kami, Bani dan Satori”