Belajarnya Sudah. Tinggal Bikin Risetnya

0 , , Permalink 0

Setahun kemudian, niat bikin riset (semoga) terwujud.

Lima hari pada 27 Februari hingga 2 Maret kemarin aku akhirnya ikut belajar membuat riset, khususnya tentang media. Materi pelatihan tak hanya riset tapi juga globalisasi, media, hak asasi manusia, dan seterusnya.

Pelatihan ini diadakan Centre for Innovation, Policy, and Governance (CIPG). Pesertanya penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Riau, Jakarta, Bali, Kalimantan, Lombok, Solo, dan Makassar. Aku ikut mewakili Sloka Institute.

Sebenarnya, niat untuk melakukan riset kecil tentang media tersebut sudah sejak tahun lalu. Aku bahkan menjadikannya sebagai salah satu resolusi tahun 2011. Tapi, tak banyak upaya. Aku memang sempat main ke rumah Pak Nyoman Darma Putra, dosen dan wartawan yang rajin berbagi ilmu. Namun, meski sudah mendapat sedikit “pembekalan” dan dorongan dari Pak Darma, nyatanya aku tak ngapai-ngapain juga. Niat tinggal niat.

Karena itu, aku senang banget ketika mendapat tawaran kerja sama dari CIPG untuk ikut di pelatihan riset merek, Critical Research Methodology Training (CREAME). Tujuannya agar para penggiat LSM ini bisa membuat riset sesuai standar akademis.

Pelatihan dipandu Yanuar Nugroho (Pengajar Manchester Institute of Innovation Research) dan Shita Laksmi (Program Officer, HIVOS Asia Tenggara). Ada pula B. Hery-Priyono, dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta dan Ignatius Haryanto, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta yang mengisi sesi tentang globalisasi dan media.

Salah satu proses dalam pelatihan ini adalah tinggal bersama warga (live in). Aku memilih di Serangan, Denpasar Selatan karena sambil siap siaga untuk kelahiran istri. Peserta lainnya di Gianyar, Tabanan, dan Badung. Pengalaman selama live in ini jadi bahan diskusi pada hari-hari selanjutnya.

Materi selama pelatihan ini hal-hal baru bagiku. Dengan keterbatasan pencernaan otak, aku harus belajar tentang dasar-dasar riset, metode riset, hingga kemudian menuangkan dalam bentuk rencana riset.

Istilah-istilah yang selama ini biasa aku dengar dan baca kini aku pelajari agar lebih paham. Misalnya, hermeneutika, ontologis, epistemologis, aksiologis, dan kata-kata ruwet lainnya. Ya, kini bisalah menerangkan sedikit-sedikit.

Tak cuma belajar teori-teori, seluruh peserta kemudian belajar membuat rencana riset media ini. Tiap kelompok, didampingi satu peneliti CIPG, membuat rencana riset ini sesuai bidang kegiatan selama ini. Sloka Institute, misalnya, akan membuat riset tentang jurnalisme warga. Atau Jaringan Radio Komunitas (JRK) Lombok riset tentang radio komunitas.

Lima hari untuk materi yang amat berat, menurutku, memang tak cukup. Lha yang kuliah bertahun-tahun saja tak pernah cukup kok. Tapi ya lumayan. Sekarang jadi tahu bagaiamana sebuah riset direncanakan, diturunkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, hingga aksinya di tingkat lapangan.

Meski singkat dan berat, pelatihan ini sudah memberikan dasar pemahaman. Kini, tak ada lagi alasan untuk menunda bikin riset tentang media di Bali. Mari mengerjakannya..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.