Mereka Pekerja, Bukan Pelacur!

Ada yang mengusikku ketika ikut diskusi terbatas sama mantan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika Selasa kemarin. Diskusi terbatas di Sanur itu membahas tentang bagaimana peran industri pariwisata dalam penanggulangan AIDS di Bali. Beberapa petinggi pelaku pariwisata di Bali hadir dalam diskusi sejak pukul 5 sore itu.

Hal yang mengusikku adalah ketika Ardika mengatakan sebaiknya media tidak usah membuat eufemisme, penghalusan, tentang pelacur dengan menyebut mereka sebagai pekerja seks komersial (PSK). “Sebut saja mereka sebagai pelacur. Dengan begitu kita tidak membenarkan mereka karena sudah berbuat salah,” kurang lebih begitu mantan menteri ini menyebut.

Continue reading “Mereka Pekerja, Bukan Pelacur!”

Tiga Tahun Perjalanan yang Menyenangkan

Liputan mendadak sampai pukul 7 malam dan hujan deras ketika pulang membuat rencanaku batal. Maunya sih aku beli bunga untuk Bunda dan Bani. Lama juga tidak melakukannya. Kalo tak salah terakhir kali pas Bunda ulang tahun November lalu. Tapi ya itu tadi. Karena tiba-tiba ada acara pas pulang kerja dna hujan deras setelah itu, jadi batal deh rencananya.

That’s fine. Bani welcomed me when i just opened the door as arrived at home. He said, “Otong ue, Yah. Otong ue..”

Continue reading “Tiga Tahun Perjalanan yang Menyenangkan”

Ketika Denpasar Serasa Amsterdam

Senin pagi ini aku pikir sudah tidak ada masalah akibat hujan yang mengguyur Denpasar empat hari terakhir. Sebab, di Jalan Subak Dalem, di mana aku tinggal sudah tidak ada lagi banjir. Air sungai kecil di dekat rumah memang masih tinggi dan deras arusnya, padahal biasanya kecil dan relatif tenang, namun tidak sampai masuk ke gang.

Maka, pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan santai saja. Maksudnya tidak berpikir bahwa harus mempersiapkan mental untuk menghadapi banjir. Eh, ternyata salah. Banjir masih terjadi di beberapa titik di Denpasar.

Continue reading “Ketika Denpasar Serasa Amsterdam”

Tetap Bekerja dengan Merdeka

Seperti biasa, Kamis sampai Minggu adalah waktu untuk bekerja dari rumah. Kalau bukan karena ada liputan keluar kota, empat hari ini aku lebih banyak bekerja dari rumah. Menulis sambil momong Bani.

Ini sesuatu yang menyenangkan. Dan terus menerus aku syukuri. Di antara padat pekerjaan, aku bisa menemani Bani. Main, belajar, bobo, bercanda, dan melakukan banyak hal bersama Bani di rumah atau sesekali keluar rumah. Tapi kadang juga sekaligus jadi bapak, tidak hanya sebagai teman. Mandiin, nyuapin, cebokin, dan seterusnya.

Continue reading “Tetap Bekerja dengan Merdeka”

In Denpasar, farmers struggle against mounting odds

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Thu, 01/08/2009 10:36 AM | Bali

In the face of rising agriculture costs and the declining value of crops, once prosperous farmers like Rini Suryani are struggling to earn a sufficient income.

Toiling over 45-acres of farmland in Renon, East Denpasar, she spends around Rp 2.1 million in costs to produce a harvest every three to four months valued at between 100,000 per acre and 150,000 per acre, depending on the quality of the season.

Continue reading “In Denpasar, farmers struggle against mounting odds”

Banyak Cara Membantu Palestina

Sudah lebih dari seminggu pasukan Israel menyerbu jalur Gaza di Palestina. Lebih dari 400 orang jadi korban konflik yak seimbang ini. Tak sedikit pula anak-anak yang mati, padahal mereka mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini cerita usang yang terus berulang. Perang. Gencatan senjata. Perang lagi. Korban lagi. Terus begitu saja. Mungkin inilah konflik terlama yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia.

Indonesia kecipratan. Menggunakan sentimen agama, ribuan orang berunjuk rasa menentang penyerbuan tentara Israel ke Palestina. Partai Keadilan Sejahtera berdemo besar-besaran ke kantor Kedutaan Amerika Serikat dengan membawa bendera partainya. Bukannya bendera Palestina yang dibawa tapi bendera PKS yang diusung tinggi-tinggi. Solidaritas Palestina ternyata bisa juga jadi waktu untuk berkampanye.

Continue reading “Banyak Cara Membantu Palestina”

Ubud Village outlaws unsightly political banners

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Gianyar | Mon, 01/05/2009 11:06 AM | Bali

Amid failed attempts by election officials to protect Bali’s beauty by limiting certain campaigning techniques, one village has managed to preserve its natural look by outlawing banners.

Lodtunduh village in Ubud, Gianyar, is all but free of the huge political campaign banners and flags so common in Denpasar.

The village chief refused to sacrifice the village’s beauty for political campaigning.

Continue reading “Ubud Village outlaws unsightly political banners”

Tirulah Kampanye Warga Lodtunduh

Elit politik di Bali, atau bahkan Indonesia, mungkin bisa belajar ke Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar tentang cara berkampanye tanpa harus merusak wajah kota atau desanya. Warga desa ini membuat aturan agar pemasangan atribut kampanye seperti baliho dan bendera parpol hanya dilakukan di tempat tertentu. Jadi rapi dan tertib wajah desa masih terjaga.

Masuk kawasan desa ini, perbedaan itu langsung terasa dibanding desa-desa sekitarnya. Di desa lain, sepanjang jalan dipenuhi wajah para calon anggota legislatif (caleg) dalam baliho atau spanduk dan bendera partai yang berlomba paling tinggi dan paling besar. Begitu pula di tempat lain. Di Denpasar misalnya, baliho, bendera, dan spanduk nyaris memenuhi semua ruas jalan kota. Bukannya membuat orang tertarik, bagiku sih malah merusak wajah kota.

Continue reading “Tirulah Kampanye Warga Lodtunduh”