It’s All About Money, Honey..

Maka, kami pun bertemu malam itu, di antara ramai halaman depan Robinson, Denpasar. Teman itu tidak jauh berbeda. Terlihat lebih gemuk saja. Aku tidak ingat jelas kebiasaan berpakaian dia sebelumnya. Tapi sekarang terlihat lebih rapi dengan kemeja meski masih celan jeans. Kami lalu ngobrol sebentar sambil nyeruput kopi hangat dan Coca Cola dingin di sana.

“Orang Komunis itu ada di mana-mana,” katanya sambil menghisap Marlboro Menthol. Ehm! Dia merujuk pada dirinya sendiri, mantan aktivis PRD dan kini bekerja sama dengan beberapa jenderal dan tokoh penting negeri ini yang dulu mengejar-ngejar mereka pada zaman Orde Baru.

Continue reading “It’s All About Money, Honey..”

How Long Can U Fight?

“Begitu aku masuk dunia ini, aku tau semua orang memang anjing. Dan aku sadar, aku harus menjadi anjing juga,” kata seorang teman lewat telepon kemarin malam. Seperti biasa, teman itu berkata tegas. Teman itu pernah jadi salah satu tokoh penting gerakan jalanan pada 1998. Dia tinggal di Jakarta, di pusat kekuasaan, mungkin juga lambang kemapanan.

Aku tertawa. Antara geli dan miris. Geli dengan perumpamaan teman yang memang suka bercanda itu. Miris karena mikir, kok bisa ya seseorang berubah begitu terbalik? Tapi, mungkin, pada satu waktu, aku juga akan berada pada posisi itu. Mungkin itu hanya soal waktu: berubah pada posisi yang sebelumnya selalu kita anggap sebagai musuh, tidak hanya sebagai lawan.

Continue reading “How Long Can U Fight?”

Tak Perlu Bayar Karena Teman

Kami sudah bersiap memulai diskusi tentang tampilan intranet di tempatku kerja paruh waktu. Tapi, ternyata ada yang tidak beres. LCD kantor dibawa keluar kota. Dan, kami hanya punya satu alat untuk menayangkan tampilan dari komputer ke layar tersebut. Padahal, agak aneh kalau diskusi tentang tampilan intranet tanpa melihatnya langsung ke layar.

Maka, salah satu teman mencoba menghubungi salah satu lembaga internasional lain di Bali. Karena sama-sama lembaga internasional, biasanya kan mudah tuh untuk pinjam alat-alat. Eh, ternyata staf di lembaga itu juga tidak bisa meminjamkan dengan segera karena bosnya masih rapat.

Continue reading “Tak Perlu Bayar Karena Teman”

Membantu Produsen, Mengingatkan Konsumen

Setelah produksi pertanian sudah terpenuhi, VECO Indonesia kini mendorong konsumen agar lebih peduli produk pertanian sehat. Tulisan ini adalah bagian ketiga dari tulisanku untuk LONTAR, media internal VECO Indonesia, LSM tempat aku kerja part time.

Setelah divonis oleh dokter bahwa dirinya terkena penyakit diabetes 16 tahun lalu Nuraini pun mulai mengonsumsi beras organik. “Saya ingin menjaga kesehatan saya tanpa mengonsumsi beras yang sudah tercemar pestisida,” kata ibu dua anak ini. Nuraini, pegawai di Fakultas Pertanian Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo ini yakin bahwa beras organik lebih sehat dan bagus untuk mencegah dampak lebih buruk diabetes. “Sejauh ini saya bisa menjaga berat badan tetap sehat dan stabil,” katanya.

Continue reading “Membantu Produsen, Mengingatkan Konsumen”

Dari Rebutan Lahan ke Pengolahan Hasil Pertanian

VECO Indonesia memfasilitasi petani mempertahankan tanah ulayatnya dan mengolah hasil pertanian untuk menaikkan harga jual. Tulisan berikut adalah artikel untuk LONTAR, media internal VECO Indonesia, LSM tempat aku kerja part time.

Advokasi Tanah di Kawasan Watuata
Sejak sebelum Indonesia merdeka, warga adat di tepi hutan Watuata, Kabupaten Ngada sudah hidup dari hasil pertanian mereka termasuk kopi. “Kami sudah di sini sejak zaman Belanda,” kata Vinsensius Loki, petani di kawasan sekitar 10 km barat kota Ngada itu. Secara turun temurun, petani menanam, merawat, dan memanen kopi di tepi maupun di dalam hutan yang mereka anggap milik sendiri. Hasil pertanian mereka dieskpor hingga Amerika Serikat.

Continue reading “Dari Rebutan Lahan ke Pengolahan Hasil Pertanian”

Memadukan Rantai Pertanian yang Berserakan

VECO Indonesia merajut rantai pengembangan pertanian berkelanjutan dari produksi hingga pemasaran. Tulisan ini adalah bagian pertama dari tulisan untuk LONTAR, media internal VECO Indonesia, LSM tempatku kerja part time..

Rovinia Jenia, 28 tahun, semangat bercerita. Dia mengangkat tutup lancing (tempat penyimpanan gabah) di gudang lalu menunjukkan gabah di dalamnya. “Di sini kami bisa menyimpan gabah sampai dua bulan,” katanya. Lancing, wadah dari anyaman bambu, itu jadi tempat menyimpan gabah sekaligus harapan.

Continue reading “Memadukan Rantai Pertanian yang Berserakan”

Antem Cang Ngeling Ci

Bondres, tetanggaku di gang, berseru lantang pada William, teman mainnya. “Antem cang ngeling Ci,” teriak Bondres sambil mengepalkan tangan ke arah William. Sore sekitar seminggu lalu dua anak tetangga yang umurnya sekitar tujuh tahun itu sedang main layangan.

William mengambil layangan Bondres lalu membawanya lari. Hanya untuk bercanda. Begitu juga ancaman Bondres ke William dalam bahasa Bali kasar tersebut. Keduanya hanya bercanda.

Teriakan Bondres ke William itu mengingatkanku lagi soal struktur bahasa Bali yang mungkin terdengar aneh di telinga rasa Bahasa Indonesia. “Antem Cang Ngeling Ci” adalah bahasa Bali kasar. Kalau diterjemahkan per kata maka artinya “Pukul Aku Nangis Kamu.” Tentu saja kalima itu sangat aneh terdengar kalau diterjemahkan menurut struktur kalimat bahasa Indonesia.

Continue reading “Antem Cang Ngeling Ci”

Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran

Setelah sempat panas, hari ini suhu badan Bani kembali turun. Meski batuknya masih saja mengganggu, Bani terlihat lebih sehat. Dan, seperti ditulis Bunda, Bani memang lagi seneng-senengnya jadi pengikut setia ayahnya. Hehe..

Mumpung ngomongin Bani, aku jadi pengen nulis soal anakku ini. Lama juga tidak nulis soal Bani. Apalagi kemarin (23/5) adalah persis 20 bulannya Bani.

Memang tidak terasa. Bani Nawalapatra, anak kami sudah berumur 20 tahun bulan. Rasanya baru kemarin dia dibawa keluar dari ruang operasi. Seperti baru kemarin aku menanam ari-arinya yang kubungkus dengan kertas koran berisi bola dunia dan pulpen. Tapi ya begitulah. Anakku pelan-pelan tumbuh sebagaimana dia seharusnya tumbuh.

Continue reading “Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran”

Ketika Bani Sakit Lagi

Sore ini suhu tubuh Bani kembali panas. Padahal tadi pagi panasnya sudah normal. Dia juga sudah main sama aku setengah hari tadi. Bahkan, setelah hampir lima hari tidak mandi, tadi pagi akhirnya Bani mandi juga meski pakai air hangat. Tapi, entah kenapa, sore ini suhu tubuhnya kembali panas.

Aku jadi khawatir. Soalnya sudah sejak Minggu lalu Bani sakit. Tubuhnya panas. Batuk-batuk. Dan sering banget muntah. Bawaannya juga cengeng. Nangis terus.. Parahnya lagi dia malas minum susu, menolak makanan, juga obat.

Continue reading “Ketika Bani Sakit Lagi”

Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu

Hampir sebelas tahun hidup di Bali dan belum pernah sekali pun menonton tari kecak di Uluwatu, ah, betapa menyedihkan hidup saya. Padahal tarian di sana saat sunset sungguh mengesankan..

Tidak hanya tariannya yang spektakuler, tapi lokasinya juga demikian. Rabu dua pekan lalu, saya akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana tarian Bali itu disajikan dengan latar belakang matahari tenggelam. Kami dan para penari itu di atas tebing Uluwatu, setinggi sekitar 20 meter dari permukaan air laut.

Continue reading “Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu”