Prat Prit Prat Prit Nodong Duit

Ini cerita usang yang terus berulang. Aku sudah pernah membacanya di blog Suryawan soal ini. Juga, rasanya buanyak banget orang di Denpasar yang pernah mengalami. Maka dijamin ini isu yang basi banget. Tapi ya daripada hanya disimpan di kepala, lalu jeblug, kepalaku mbledos, jadi ya ditulis saja.

Pemicu tulisan ini adalah perilaku tukang parkir di depan Super Ekonomi (SE) Gatsu Denpasar.

Kemarin aku ambil duit di ATM SE Gatsu, yang memang tidak jauh dari rumahku. Ketika mau cabut, satu tukang parkir segera datang. Tapi bukannya menarik motorku atau sekadar membantu, dia hanya berdiri di belakang dengan peluit di mulutnya. Prit prit. Tanpa basa-basi dia menodongkan tangan. Meminta aku bayar parkir. Lalu, dengan santai dia nyelonong pergi tanpa memberi karcis parkir.

Continue reading “Prat Prit Prat Prit Nodong Duit”

What If

by Coldplay

What if there was no lie
Nothing wrong, nothing right
What if there was no time
And no reason, or rhyme

What if you should decide
That you don’t want me there by your side
That you don’t want me there in your life

What if I got it wrong
And no poem or song
Could put right what I got wrong
Or make you feel I belong

What if you should decide
That you don’t want me there by your side
That you don’t want me there in your life

Ooh ooh-ooh, that’s right
Let’s take a breath, jump over the side
Ooh ooh-ooh, that’s right
How can you know it, if you don’t even try
Ooh ooh-ooh, that’s right

Every step that you take
Could be your biggest mistake
It could bend or it could break
That’s the risk that you take

What if you should decide
That you don’t want me there by your side
That you don’t want me there in your life

Ooh ooh-ooh, that’s right
Let’s take a breath, jump over the side
Ooh ooh-ooh, that’s right
How can you know when you don’t even try
Ooh ooh-ooh, that’s right

Ohhh – Ooh ooh-ooh, that’s right,
Let’s take a breath, jump over the side.
Ooh ooh-ooh, that’s right,
You know that darkness
always turns into light.
Ooh-ooh, that’s right

*song of this week*

Menunggu Godot, Menunggu Kesia-siaan

Putu Satria Kusuma, pemain teater dari Singaraja, memainkan naskah keren hari ini: Waiting for Godot. Selain keren permainannya, Bli Putu dan tiga teman lain (Aji, Eka, dan Wijaya) juga memainkan naskah yang tepat –sangat tepat malah- dengan situasiku saat ini.

Naskah yang disebut The Massachusetts Review (Autumn, 1999) sebagai “The Most Significant English Language Play of the 20th Century” ini dimainkan Bli Putu di sela evaluasi bulanan kantor tempat aku kerja part time. Tiap enam bulan, kami memang membuat evaluasi internal terkait program. Karena ingin sesuatu yang berbeda, maka kami sepakat untuk mengundang pemain teater yang bisa memainkan naskah Waiting for Godot. Sekalian untuk mengkritik kebiasaan kami di kantor, menunggu sesuatu yang tidak jelas.

Continue reading “Menunggu Godot, Menunggu Kesia-siaan”

Just Take The Risk

Aku menulis ini agak emosional. Itu sah saja. Aku toh bukan malaikat yang harus sok suci dan merasa baik-baik saja ketika banyak orang seperti menuding padaku, “KAMU SALAH!” atas sesuatu yang aku lakukan dengan maksud berbuat baik. But, well, tudingan itu anggap saja seperti lagu Coldplay, “That the risk you have to take..”

Sekadar curhat saja. Aku mencoba mengambil inisiatif untuk memfasilitasi kopdar BBC, dan kemudian ada juga pernyataan sikap setelah itu. Di antara tumpukan pekerjaan minggu2 ini yang bikin aku tertekan, aku masih coba sempatkan utk ngurusi kopdar.

Continue reading “Just Take The Risk”

Pekerjaan-pekerjaan yang Menumpuk Itu

Ini memang benar-benar tumben. Biasanya, sebanyak apa pun pekerjaan, aku masih sempat untuk ngeblog. Tapi sekitar tiga minggu ini aku merasa banyak sekali hal yang menarik dan harus aku catat, namun aku tidak sempat melakukannya.

Maka, aku hanya bisa mengeluh.

Inilah pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk itu sekitar tiga minggu terakhir.

– Persiapan international editor meeting (dua pekan lalu)
– International editor meeting (pekan lalu)
– Diskusi tematis majalah dan evaluasi semesteran tempat kerja part time (pekan ini)

Akibatnya, beberapa pekerjaan lain pun belum selesai juga:

– Tulisan untuk Jurnal WACANA (sudah lewat deadline)
– Tulisan Bali Journey dan Travel Lokal untuk Appetite Journey (hampir deadline)

Hapuskan Pasal Pengekang Kebebasan Informasi!


April lalu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Selain mengatur masalah transaksi elektronik, UU No 11 tahun 2008 ini juga mengatur ketentuan tentang informasi di dunia maya. Aturan-aturan itu rentan mengancam kebebasan berekspresi terutama pada Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (2), dan Pasal 31 ayat (3).

Pasal-pasal tersebut pada umumnya memuat aturan-aturan warisan pasal karet (haatzai artikelen), karena bersifat lentur, subjektif, dan sangat tergantung interpretasi pengguna UU ITE ini. Selain itu, materi pada pasal-pasal tersebut juga bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM) terutama tentang kebebasan informasi dan kebebasan berekspresi maupun UUD 1945 tentang kebebasan berpendapat. Sebab setiap pengguna informasi, termasuk blogger di dalamnya, bisa diancam hukuman penjara kapan saja.

Continue reading “Hapuskan Pasal Pengekang Kebebasan Informasi!”

Sambil Menyelam Memulung Besi

Catatan: tulisan ini adalah sebagian tulisan yang dibuat untuk jurnal WACANA Insist.

Di usianya yang makin renta, Ammung, 59 tahun, harus melakukan pekerjaan yang jauh lebih berisiko dibanding sebelumnya. Sejak tiga bulan lalu, nelayan di Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali itu mulai menyelam untuk mencari besi-besi tua di sekitar Serangan. “Mau bagaimana lagi. Keluarga saya tetap butuh makan,” katanya sore pertengahan April lalu di pantai timur Serangan.

Ammung, nelayan dengan pendapatan rata-rata Rp 15.000 per hari, sebelumnya hanya mencari ikan untuk dimakan sendiri dan dijual. Menggunakan pancing atau jala, dia biasa berangkat dari rumahnya di Kampung Bugis, Serangan sekitar pukul 7 pagi dan pulang pukul 5 sore. Stiap hari, Ammo bisa mendapat sekitar 25 kg ikan seperti meong-meong dan tawah.

Continue reading “Sambil Menyelam Memulung Besi”

Salak, Biar Jelek Asal Keren

Meski jelek tampilannya, buah salak ternyata membanggakan. Sebab, buah berkulit kasar ini ternyata merupakan hal baru bagi banyak orang asing. Ini pengalaman baru bagiku ketika makan malam di Restoran Legong Sanur dengan peserta International Editor Meeting.

Usai makan malam kemarin, kami mendapat makan penutup yang tidak terlalu menarik bagiku: buah. Ada nanas, pepaya, semangka, dan salak. Beda dengan buah lain yang sudah dikupas, salak justru disajikan lengkap dengan kulitnya yang mirip kulit ular itu.

Continue reading “Salak, Biar Jelek Asal Keren”