Satu Bahasa, Banyak Aksennya

Ketemu banyak orang dari beragam latar belakang memang menyenangkan. Aku bisa belajar banyak hal pula dari mereka. Begitu pula selama International Editor Meeting majalah tempatku kerja part time di hotel Mercure Sanur sejak Minggu lalu. Salah satu yang kupelajari adalah soal bahasa.

Pertemuan selama enam hari ini menggunakan bahasa Inggris, tentu saja. Namun karena sebagian besar bukan penutur asli (native speaker) bahasa Inggris, maka sangat terasa bedanya dibanding penutur asli. Bisa jadi karena si penutur memang tidak sepenuhnya bisa ngomong bahasa ini dengan baik, bisa jadi juga karena aksennya yang memang tidak ramah di telingaku sehingga susah kumengerti. Tapi, kemungkinan besar adalah karena kemampuanku mendengar bahasa Inggris (listening) memang payah. Makanya aku susah mengerti. 🙁

Continue reading “Satu Bahasa, Banyak Aksennya”

Dari Kelender Tema sampai si Cantik Adriana

Setelah pembukaan International Editor Meeting Minggu sore kemarin, salah satu acara yang asik adalah bazar. Tentu saja tidak seperti bazar di Sekaa Teruna Teruni banjar atau bazar cari duit seperti yang pernah aku lakukan. Bazar di ruang Pandu II hotel Mercure Sanur ini lebih pada untuk mengenal majalah regional negara lain. Karena itu masing-masing negara ikut bazar ini.

Sebelum itu, ada baiknya aku nulis latar belakang majalah ini. Biar lebih jelas. Sebab kemarin tidak sempat cerita.

Majalah tempat aku kerja part time adalah bagian dari jaringan global majalah advokasi pertanian berkelanjutan. Induk majalah, namanya LEISA, akronim dari low external input for sustainable agriculture, berpusat di Belanda. Majalah edisi regional terbit di Indonesia, Brazil, Peru, China, India, dan Senegal. Nama majalah di masing-masing negara berbeda-beda. Di Indonesia, misalnya, bernama Salam. Di Senegal bernama Agridape. Dan seterusnya. Tiap tahun, editor majalah ini bertemu untuk mendiskusikan tema dan hal-hal lain terkait pertanian berkelanjutan.

Continue reading “Dari Kelender Tema sampai si Cantik Adriana”

Blogku pun jadi Anak Tiri

Minggu yang (sepertinya) akan melelahkan pun dimulai hari ini. Sore tadi sekitar pukul 5, pertemuan editor internasional majalah pertanian berkelanjutan LEISA dibuka. Ini adalah rapat tahunan majalah global LEISA yang membahas masalah low external input for sustainable agriculture (LESIA). Pertemuan ini dihadiri semua jaringan LEISA dari banyak negara antara lain Senegal, Brazil, Peru, India, China, Indonesia, dan tentu saja para big bos dari kantor pusat di Belanda.

Kegiatannya di hotel Mercure Sanur. Banyak cerita yang ingin aku bagi. Tapi, waduh, ternyata kegiatannya bikin elek. Mulai dari pukul 9 pagi kelar sampai pukul 6.30an petang. Lalu aku sampai di rumah sekitar 9-10 malam karena harus nemenin dinner dulu.

Sepertinya blog pun harus dijadiin anak tiri dulu. 🙁

Factory workers, journalists unite for May Day rally

Jakarta Post – May 2, 2008

Dicky Christanto, Denpasar – Protesters at a May Day rally held in Denpasar on Thursday accused the government of failing to protect Indonesians working longer hours for no extra pay.

The alliance of organizations commemorating the May 1 International Workers’ Day displayed dozens of banners while activists gave speeches about how “unfriendly” government policies had jeopardized workers’ lives.

Continue reading “Factory workers, journalists unite for May Day rally”

May Day dan Cerita Miris tentang Jurnalis

Tiap 1 Mei, kaum buruh sedunia memperingati hari buruh internasional yang akrab disebut May Day. Sejarah May Day berawal dari Amerika Serikat ketika buruh di negara industri itu mulai sadar untuk menolak eksploitasi berlebihan terhadap tenaga mereka. Saat itu, pada 1889, melalui perjuangan heroik dan berdarah-darah, buruh di Amerika bisa memperjuangkan agar mereka bisa bekerja maksimal hanya delapan jam tiap hari.

Hasil perjuangan berdarah ini kemudian adalah diterapkannya delapan jam kerja tiap hari sebagai standar perburuhan internasional. Maka, sejak 1 Mei 1890, kaum buruh sedunia pun menjadikan hari itu sebagai momentum untuk merayakan hasil perjuangan itu. Pada perjalanannya, May Day kemudian juga menjadi waktu untuk meneriakkan tuntutan agar buruh mendapat imbalan yang layak atas jerih payah mereka.

Continue reading “May Day dan Cerita Miris tentang Jurnalis”

Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja

Perjalananku ke Bedugul hari ini membuatku makin yakin: belajarlah dari lapangan, bukan dari balik meja. Sebab ketika kita hanya membacanya dari balik meja, kita hanya menemukan teori. Tapi di lapangan, kita akan menemukan kenyataan bukan hanya cerita.

Hampir setahun bekerja part time di majalah advokasi pertanian berkelanjutan, aku merasa jarang sekali bergaul dengan petani, yang selalu jadi objek tulisan kami tiap edisi. Majalah ini sih memang lebih mirip jurnal daripada karya jurnalistik. Tugasku di sana pun lebih banyak di belakang meja seperti mencari naskah tiap edisi, mengedit tulisan orang, dan mengupload tulisan ke website.

Continue reading “Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja”

Mengunjungi Museum di Bandung

Bandung adalah kota pertama yang ingin kami kunjungi di antara sekian kota di Jawa. Aku dan Bunda bahkan sudah berencana jalan-jalan ke Bandung kalau Bani nanti sudah ngerti dan bisa mengingat perjalanan itu. Alasannya, kami memang belum pernah ke Bandung. Juga karena sepertinya banyak tempat menarik untuk dikunjungi di kota sejuk itu. Terutama untuk, hmmm, tempat makan-makan! 🙂

Namun, pas dua pekan lalu ke Bandung, ternyata aku belum bisa menikmatinya dengan leluasa. Apa boleh buat. Niat jalan-jalan pun harus diubah. Intinya bagaimana jalan-jalan dengan waktu terbatas tapi bisa dapat sesuatu yang berbeda. Setelah tanya sama Rana Akbar, teman wartawan di Bandung, ternyata ada ide menarik: jalan-jalan ke museum-museum di Bandung saja.

Continue reading “Mengunjungi Museum di Bandung”

Perusakan atas Nama Pembangunan

Minggu-minggu ini berita tentang perusakan lingkungan di Bali terus menggangguku. Di danau Buyan, Bedugul banyak villa sedang di bangun. Padahal Buyan adalah salah satu dari empat danau terbesar di Bali yang tidak hanya mengaliri sawah-sawah di sekitarnya. Buyan juga tempat di mana petani Bali Hindu menghaturkan sembah pada penguasa air.

Lalu di Wongaya Betan, Tabanan juga baru saja diletakkan batu pertama pembangunan villa atas nama pariwisata. Villa yang katanya untuk terapi spiritual itu dibangun di kawasan hijau. Tidak hanya tempat petani bercocok tanam, tapi juga tempat masyarakat Bali menggantungkan sumber pangan selain Jatiluwih.

Continue reading “Perusakan atas Nama Pembangunan”

Antara Ahmadiyah dan Ahmoodiyah

Tulisan oleh-oleh dari Bandung dihentikan dulu untuk sementara. Besok lanjut tulisan terakhir. Saat ini waktunya menulis sesuatu yang lain. Biasanya sih isu paling hangat di Bali atau nasional menarik untuk dibahas di blog. Untuk isu lokal, masalah pembangunan villa di Wongaya Betan, Penebel, Tabanan sangat menarik untuk ditulis. Apalagi pada saat yang sama juga sedang hangat masalah pengurangan kawasan suci di Uluwatu. Sepertinya asik kalau menulis pariwisata di Bali yang mulai jadi benalu, menggerogoti Bali sedikit demi sedikit.

Tapi untuk isu pembangunan villa di kawasan hijau Wongaya Betan aku perlu bahan lebih lengkap lagi. Apalagi kemarin dapat bahan-bahan bagus. Nanti lah aku tulis kalau sudah banyak dapat data lagi.

Untuk isu nasional, masalah Ahmadiyah adalah hal yang paling menarikku untuk bikin tulisan. Karena hari ini habis Jumatan, maka aku menulis soal ini saja. Biar kesannya religius begitu. 😀

Continue reading “Antara Ahmadiyah dan Ahmoodiyah”