Perusakan atas Nama Pembangunan

14 Permalink 0
Minggu-minggu ini berita tentang perusakan lingkungan di Bali terus menggangguku. Di danau Buyan, Bedugul banyak villa sedang di bangun. Padahal Buyan adalah salah satu dari empat danau terbesar di Bali yang tidak hanya mengaliri sawah-sawah di sekitarnya. Buyan juga tempat di mana petani Bali Hindu menghaturkan sembah pada penguasa air.

Lalu di Wongaya Betan, Tabanan juga baru saja diletakkan batu pertama pembangunan villa atas nama pariwisata. Villa yang katanya untuk terapi spiritual itu dibangun di kawasan hijau. Tidak hanya tempat petani bercocok tanam, tapi juga tempat masyarakat Bali menggantungkan sumber pangan selain Jatiluwih.

Dan, hari ini, ketika aku dan Agung Wardana, teman aktivis Walhi Bali, ketemu dengan Pak Nyoman Sadra di Ashram Candi Dasa, Karangasem, berita tentang perusakan lingkungan itu juga yang kami dengar. Pak Sadra mengabarkan pantai di Candi Dasa yang kini direklamasi dengan alasan pelestarian lingkungan. Padahal reklamasi itu sendiri sudah menyalahi aturan. Pembangunan di pantai, paling tidak harus berjarak 25 meter dari garis pasang. Toh, ini tetap dijalankan. Ketika kami bertiga ke pantai itu, traktor dan alat berat lain sedang sibuk menguruk pantai dengan batu dan pasir

Lalu dari titik di mana pantai sedang direklamasi itu, kami melihat bukit di dekat Padang Bai justru sedang dikeruk. Bukit-bukit yang menghijau itu sebagian terlihat kosong, memutih karena tanahnya diambil. Kata Pak Sadra, di sana juga akan berdiri hotel bintang lima. Atas nama pariwisata, orang-orang itu merusak alam seenaknya. Aduh..

14 Comments
  • suryacx
    April 28, 2008

    pertamax…..

    yah alam sudah rusak…
    skarang memperbaiki sudah terlambat….

    kita hanya bisa menjaga agar tidak tambah rusak….

    ReplyReply

    [Reply]

  • rey
    April 28, 2008

    hmm,, pemikiran kita sama. Sekarang terlihat banyak gedung, bangunan, beton di tempat yang dahulunya adalah alam indah. Jangan eksploitasi alam. ini tergantung pemerintah juga sebagai pemegang kebijaksanaan.. jangan dengan mudah mengijinkan orang membangun..
    SELAMATKAN BALIKU!!!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Wahyu Blue
    April 28, 2008

    mimih.. ternyata sudah sampai parah begitu yach bli.. kapan yach “bapak2” yang di atas sana sadar.. biar bikin aturan yang lebih keras.. biar ngga lebih parah lagie keadaannya.. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    April 28, 2008

    namanya juga Indonesia..

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    April 28, 2008

    wah artikel yang keren bli :mrgreen:
    saia kira kita harus melihat dari presfektif yang cerdas dengan argument yang berdasar. sependapat dengan bli cuma point saia disini,

    1. harusnya semua pihak melihat jangka panjangnya terhadap dampak lingkungan di sekitar, dampak sosio kulturnya, jangan hanya profit doank di pikirin.
    2. manusia bali itu manusia yang welcome banget terhadap budaya luar,dan saia rasa akan bertambah nilainya jika kita menjaga budaya moyang kita, titipan leluhur kita,pesan dll , adi luhung budaya, bahasa seni dll :mrgreen: sehingga kita menjadi personal yang kuat dan kolektif yang kuat secara berkesinambungan , bukan maen kopi paste budaya dari luar sono.
    3. tampa pariwasata bali bisa hidup koq, kenapa kita tidak belajar dari bangsa jepang,tanahnya penuh dengan batuan.tapi bisa mengekspor beras keluar.
    4. yang bisa merubah bali bukan orang laen, tapi orang bali itu sendiri. ada istilah jele melah gumi gelah artinya kita harus bangga dengan tanah sendiri/asal kita , kenapa harus malu dengan “membedaki” diri agar kelihatan lebih “cantik”, cih !! semu.
    5. viva la bali hehehe

    sebenernya masih banyak optionalnya tapi ga enak ma bli anton, besok aja kali ya….hahaha matur nuhun bli 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    April 28, 2008

    Di deket rumah saya ada villa, tapi saya cukup respek dengan pembangunannya, karena hampir semua pohon besar tetap dibiarkan dan dipelihara. Tanah yang dibangun villa itu pun sebelumnya adalah tanah yang tidak produktif. 🙂
    Mudah2an villa2 yg lain juga bisa menggunakan konsep seperti itu

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Wardana
    April 28, 2008

    Mantap, ton!

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @Agung Wardana: apanya yg mantap? 🙂 makasih, gung. besok2 ajak lg ya. biar nulisnya lbh sangar lg. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @wira: waaah, keren dong kalo gitu. semoga semua villa begitu. cuma sayangnya kok banyakan yg enggak. 🙂 tp lebih penting dr itu adalah: tidak apa2 membangun asal tidak di kawasn yg terlindungi.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @imsuryawan: hehe. sebagian aja kok. banyak jg yg enggak gitu. 😉

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    April 28, 2008

    beton dimana mana…..

    tarzan pasti bingung….

    ReplyReply

    [Reply]

  • komang
    April 29, 2008

    heran juga makin banyak villa yang dibangun padahal jumlah turis yang datang katanya tidak sebanya dulu lagi. mau disewain sama siapa, sama nyamuk. sama wong samar?

    ReplyReply

    [Reply]

  • ady gondronk
    May 1, 2008

    inilah mungkin dampak otonomi daerah yang kebablasan bos…
    pemkab buat kebijakan semau dewe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 9, 2008

    @ ick: tarzannya ganti bergelantungan di tiang beton. 😀

    @ komang: sama wong edan aja, mang. 😀

    @ ady gondronk: begitulah. otonomi daerah malah menciptakan raja2 kecil memang..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *