Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan

Lima laki-laki itu menari membawa api di tangan kanannya. Kedua tangan merentang. Api menyala dari tambang yang dibakar. Lalu, dengan posisi di bawah lengan kiri, api itu digerak-gerakkan. Dari ujung jari ke bahu. Mereka membakar tangan itu!

Tapi tidak ada sakit. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi yang dibakar kedua tangannya pun hanya tersenyum. Peserta lain, yang tangannya dibakar, malah berseru, “Rasanya dingin.”

Continue reading “Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan”

Untung Ada Coto Makassar

Here I am. Di Makassar dengan ketidakjelasan. Apa yang harus aku kerjakan? Serba salah. Mau nolak, teman yang ngajak. Setelah bersedia, tidak jelas tanggung jawabnya. Bahkan ketika aku sudah sampai di tempat acara, aku belum juga tahu apa saja yang harus aku kerjakan. Duh..

Sekira dua minggu lalu seorang teman, kini bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, telepon. Minta tolong aku bantu mengurus media selama Pertemuan Nasional Harm Reductin (PNHR) di Makassar, 14-18 Juni ini.

Continue reading “Untung Ada Coto Makassar”

Sudahlah, Jangan Terlalu Berharap pada Media

Di antara sekian isu yang menarik pada Focus Group Discussion (FGD) pagi ini adalah diskusi soal media. FGD untuk mencari Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) itu diadakan Bappenas, UNDP, dan JPPR. Tujuannya kurang lebih untuk mencari tahu seberapa demokratiskah Bali dibanding provinsi lain. Aku membantu jadi moderator. Eh, bukan membantu ding. Dibayar. 😀

Ada tiga aspek untuk mengukur IDI ini. 1) Kebebasan Sipil, 2) Political Right, dan 3) Democratic Institution. Tiap aspek punya beberapa variabel dan tiap variabel pun punya indikator. Pada aspek Democratic Institution misalnya ada variabel independensi media terhadap pemerintah daerah.

Variabel ini melengkapi lima variabel lain seperti peran DPRD, Pemilu yang Bebas dan Adil, Peradilan yang Independen, Peran Partai Politik, dan Peran Birokrasi.

Continue reading “Sudahlah, Jangan Terlalu Berharap pada Media”

Xenophobia itu Ada di Mana Saja

Apa boleh buat, liyan (the others) masih saja dianggap sebagai sesuatu yang harus diwaspadai karena dianggap sebagai ancaman. Atau malah dijadiin musuh. Atau, bila perlu, dilenyapkan. Maka, begitu pula yang terjadi di negeri tercinta bernama Indonesia ini.

Kalau ada orang berbeda jalan, dan dianggap tersesat, maka tidak ada cara lain selain dikuamplengi alias dicak-cak. Aduh, kasihan bener. Inilah nasib mereka yang memilih jalan bernama Ahmadiyah. Selalu saja dikuyo-kuyo, dianggap sesat dan harus kembali ke jalan yang benar.

Padahal, salah benar itu kemudian larinya pada jumlah.

Continue reading “Xenophobia itu Ada di Mana Saja”

Ternyata Lembap, Bukan Lembab

Lagi ngedit tulisan di tempat kerja part time. Di salah satu tulisan aku menemukan kata “kelembapan”. Maka aku ganti huruf “p”-nya dengan huruf “b”. Jadinya “kelembaban”, bukan “kelembapan”.

Tapi, karena beberapa kali muncul dalam bentuk “Lembap” (dengan P), bukan “Lembab” (dengan B), maka aku pun penasaran. Aku cek di kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Terbitan Balai Pustaka. Oalah, ternyata benar. “Lembap”, bukan “Lembab”..

Ketika aku cek di kata “Lembab”, ternyata dirujuk ke “Lembap”. Kata sifat ini artinya (1) mengandung air (hawa dsb); tidak kering benar (tembakau dsb). (2) tidak nyaring bunyinya (seperti gendang yang kendur).

Menghentikan Waktu yang Sudah Berlalu

Tentu saja setiap orang ingin jadi abadi. Atau setidaknya dikenang oleh orang lain. Atau, paling mentok, mengenang tentang dirinya sendiri. Banyak caranya. Orang zaman batu, pada zaman bahuela membuat coretan-coretan di dinding gua untuk mengenang sesuatu. Ada pula yang membuat arca, artefak, atau malah yang paling gila popularitas alias megalomania ya bikin semacam piramida, Taj Mahal, candi borobudur, dan seterusnya.

Waktu berlalu. Manusia toh tetap saja ingin mencoba menghentikan waktu itu, meski dia tidak mampu. Maka, manusia kemudian menemukan cara lain. Misalnya dengan gambar, foto, atau tulisan. Manusia tidak bisa menghentikan waktu. Tapi dia bisa mengabadikan kenangan dengan cara itu.

Continue reading “Menghentikan Waktu yang Sudah Berlalu”

Kok Pada Sepi ya?

Minggu tengah malam. Aku buka blogku. Ah, ternyata sudah empat hari aku tidak nulis. Hari-hari ini aku lagi keranjingan penyakit lama: main game War Craft III: Frozen Thorne. Main game ini membuatku melek sampai pagi, seperti kebiasaan sekitar empat tahun lalu, sama Toni dan Nusa.

Kebiasaan ngenet, ngeblog juga jadi berkurang.

Lalu, malam ini aku jalan juga ke beberapa blog teman. Ah, ternyata mereka juga lama tidak posting. Hmm, ada apa ya? Kok sepertinya banyak teman yang dulu suka nulis, sekarang jadi agak males. Seperti aku juga..

Di Mana Suara Para Korban?

Dengan suara meledak-ledak, Rizieq Shihab yang lebih dikenal dengan nama Habib Rizieq, itu mengacungkan tangan. “Kami siap berperang!” katanya ketika disorot wartawan. Aku melihatnya di TV, sore kemarin seusai belanja di Rimo Denpasar, sambil lalu saja.

Lalu, ketika sampai rumah, aku melihat hal yang tak jauh berbeda. Ketua Front Pembela Islam (FPI), milisi bersurban yang membawa nama agama, itu begitu bersemangat menantang polisi yang hendak menangkap anggota FPI.

Ah, inilah wajah TV hari-hari ini. Penuh dengan teriakan perang. Seolah-olah perang itulah yang mereka inginkan.

Continue reading “Di Mana Suara Para Korban?”

Tangkap dan Penjarakan Anggota FPI!

Minggu [1/6] pukul 21:27 Wita. Sebuah SMS masuk, mengganggu batas antara lelap dan sadarku. Pengirim SMS itu Dogi, teman di penanggulangan AIDS. Dia meneruskan SMS berantai dari teman-teman di Jakarta.

“Dek ini dari Mas Gun. tolong sampaikan ke semua teman wartawan: Guntur Romli, penulis dan aktivis kebebasan beragama, luka parah akibat penyerbuan FPI terhadap aksi damai aliansi kebebasan beragama di monas siang tadi. sekarang dirawat di RSPAD dan harus dioperasi. kekerasan berkedok agama harus dilawan! mohon bantuan kawan2 media untuk menyebarluaskan kisah duka ini. untuk detail silakan kontak nong darol (081611xxxxx). salam. arif zulkifli.”

Continue reading “Tangkap dan Penjarakan Anggota FPI!”