Dengan suara meledak-ledak, Rizieq Shihab yang lebih dikenal dengan nama Habib Rizieq, itu mengacungkan tangan. “Kami siap berperang!” katanya ketika disorot wartawan. Aku melihatnya di TV, sore kemarin seusai belanja di Rimo Denpasar, sambil lalu saja.
Lalu, ketika sampai rumah, aku melihat hal yang tak jauh berbeda. Ketua Front Pembela Islam (FPI), milisi bersurban yang membawa nama agama, itu begitu bersemangat menantang polisi yang hendak menangkap anggota FPI.
Ah, inilah wajah TV hari-hari ini. Penuh dengan teriakan perang. Seolah-olah perang itulah yang mereka inginkan.
Tidak hanya TV. Aku baca koran sejak kemarin hingga hari ini pun tidak jauh beda. Ini masih lanjutan soal penyerangan FPI pada aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) 1 Juni lalu. Semua media hanya memberitakan masalah ini dari dua sisi semata: hitam putih.
Parahnya lagi, orang-orang seberti Rizieq Shihab dan Munarman, yang suka koar-koar mengajak perang (entah siapa yang diajak, entah perang merebutkan surga sebelah mana, entah perang atas nama apa) pun diberi tempat oleh semua media. Dan bagian paling provokatif, ajakan perang, itulah yang dikutip.
Tidak hanya suara orang-orang hilang akal seperti FPI, media juga sibuk sekali memberitakan tentang penyerbuan-penyerbuan pada markas FPI. Hampir semua media memberitakan ini. Di The Jakarta Post misalnya aku lihat ada orang demo sambil bawa poster dengan tulisan mengajak orang FPI untuk carok, tantangan duel khas Madura.
Beberapa TV malah menyiarkan beberapa anggota Barisan Anshor Serba Guna (Banser), semacam organisasi sayap Nahdhatul Ulama (NU), yang mempersiapkan diri dengan melatih ilmu kebal. Mereka siap berperang dengan FPI.
Ya, tentu saja orang-orang itu sudah hilang akal sehatnya. Mereka yakin bahwa dengan perang itulah mereka menemukan surga. Tapi mengapa media juga memberi tempat pada mereka? Inilah yang tak kumengerti..
Penyerbuan oleh FPI pada AKKBB membuat sekitar 30 orang luka-luka. Kejadiannya sudah empat hari lalu. Dan, aku tidak menemukan satu pun berita tentang para korban. Kenapa ya tidak ada yang mewawancari Guntur Romli, misalnya. Atau memberitakan kondisi psikologis anak-anak atau ibu-ibu yang diserbu preman berjubah itu.
Semua media hanya memberitakan konflik, lupa pada korban.
Tapi memang begitulah media. Sudah bawaan orok, media memang lebih suka memberitakan konflik. Itu pula yang kupelajari sejak belajar jurnalisme dari nol. Konflik adalah modal untuk masuk media. Dengan cara itu pula media menangguk untung. Maka, makin banyak konflik, media pula yang akan menangguk untung. Ironis..
Leave a Reply