Semuanya Susah: Makan, Listrik, dan Bensin

Salah satu bagian menarik dari perjalanan ke sebuah tempat adalah menikmati makanan setempat. Begitu pula dalam perjalanan ke Timor Tengah Utara (TTU), kabupaten di Nusa Tenggara Timur ini. Sayangnya, aku harus kecewa karena tak menemukan makanan khas tersebut.

Cara paling gampang mencari makanan khas itu, tentu saja, adalah warung. Tapi tak ada sama sekali warung yang menjual makanan khas. Sepanjang perjalanan dari Kupang ke Kefamenanu, ibukota Kabupaten TTU, aku sudah terus bertanya ke sopir yang menjemputku. Begitu pula pada orang-orang yang aku temui pas di Kefa. Jawabannya sama: tidak ada warung yang menjual masakan khas Kefa.

Continue reading “Semuanya Susah: Makan, Listrik, dan Bensin”

Hangatnya Salam, Pahitnya Sirih

Makan Sirih di TTU

Setelah menempuh perjalanan naik turun dan berkelok-kelok dengan sepeda motor sekitar satu jam dari Kefamenanu, kami mulai masuk kawasan hutan. Agus, teman dari Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) yang menyetir sepeda motor itu bercerita sedikit horor. “Hutan ini ada yang menunggu. Kita harus sopan kalau lewat sini. Kalau tidak, kita akan dapat masalah,” kurang lebih begitu katanya.

Agus melanjutkan cerita. Mantan Petugas Lapangan di Desa Tuntun, Kecamatan Mimaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pernah pulang malam, sekitar pukul 8. Di tengah hutan, motornya tiba-tiba mati tanpa dia tahu apa sebabnya. Maka, dia menghaturkan rokok dan bilang permisi pada penunggu hutan lebat itu. Ajaib. Motornya hidup kembali.

Continue reading “Hangatnya Salam, Pahitnya Sirih”

Kini Petani yang Memegang Kendali

Petani TTU

Pelajaran menarik dari liputan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur 4-6 Desember lalu adalah tentang bagaimana petani membalik posisi mereka. Dari yang semula tergantung pada tengkulak dan dicurangi pembeli kini mereka yang memegang kendali atas politik dan ekonomi.

Semua kekuatan itu diperoleh setelah mereka sadar bahwa kekuatan-kekuatan mereka terlalu kecil kalau melawan dengan jalan masing-masing. Maka mereka pun memadukan kekuatan-kekuatan kecil itu jadi satu kekuatan bersama, organisasi petani.

Continue reading “Kini Petani yang Memegang Kendali”

Welcome to Kawin Kontrak Room..

Perbatasan Timor Leste

Setelah selesai liputan tentang organisasi petani di Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), teman dari Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) menyampaikan penawaran menarik. “Mau ke perbatasan Timor Leste gak? Tidak jauh, kok. Hanya sekitar 8 km,” katanya.

Yap. Tentu saja kesempatan yang harus digunakan. Belum tentu besok-besok akan ke sini lagi.

Continue reading “Welcome to Kawin Kontrak Room..”

Bersembahyang Sambil Jalan-jalan ke Menjangan

Pulau Menjangan

Seekor menjangan berdiri di pasir menyambut kami ketika baru berlabuh di dermaga selatan Pulau Menjangan Rabu (14/10) kemarin. Hewan seukuran anjing besar itu sepertinya masih muda. Sebab selain wajahnya yang masih imut-imut juga karena dia belum bertanduk sama sekali.

Menjangan itu berdiri di atas pasir putih. Dia sesekali melihat ke arah kami. Dia terlihat mencari air untuk minum karena berkali-kali memasukkan mulutnya ke air laut. Hewan pemakan rumput itu terlihat agak aneh di antara pasir, karang, dan air membiru di pulau yang sedang kering kerontang karena enam bulan tanpa hujan tersebut.

Continue reading “Bersembahyang Sambil Jalan-jalan ke Menjangan”

Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden

Prince William Tall Ship

Bulan Oktober selalu mengingatkanku pada Daniel Braden, pemuda asal London, Inggris. Kami tidak pernah bertemu secara fisik. Aku hanya membaca namanya di monumen Bom Bali di jalan Legian Kuta. Braden adalah salah satu dari 202 korban peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 lalu.

Namun kematian Braden melahirkan semangat baru bagi pacarnya, Jun Hirst, tentang perlunya membuat dialog lintas budaya antar-remaja. Menurut Jun, yang juga lahir dari keragaman Jepang – Inggris, peledakan bom di Kuta lahir dari fanatisme pada identitas diri dan kebencian pada identitas orang lain.

Continue reading “Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden”

Aksen “a” Para Penunggang Kuda

Bahasa Jawa itu punya banyak dialek atau logat. Satu tempat berbeda dialek dengan tempat lain. Karena beda dialek ini, dua orang yang berbicara pun kadang bingung pada makna kata lawan bicaranya satu sama lain meski sama-sama ngomong Bahasa Jawa.

Ini aku alami pula ketika di Bromo, Probolinggo. Pembicaraan sesama penunggang kuda yang memandu perjalanan ke puncak Bromo terdengar asing bagiku. Padahal mereka semua berbincang dalam bahasa Jawa, bahasa yang aku akrabi bahkan sejak aku belum lahir.

Continue reading “Aksen “a” Para Penunggang Kuda”

Semburat Jingga dari Atas Awan

Kabut tebal menyambut perjalanan kami pagi pukul 4 pagi itu. Jarak pandang kurang dari 5 meter. Sinar lampu sepeda motor yang kami tumpangi tak berdaya melawan pekatnya kabut pagi itu.

Tebalnya kabut itu sudah terasa sejak aku meninggalkan penginapan di Cemorolawang, Probolinggo, di kawasan Bromo. Kabut itu bercampur dengan asap yang keluar dari mulutku tiap kali menghembuskan nafas.

Continue reading “Semburat Jingga dari Atas Awan”

Sekilas Mengenal Hindu Tengger

Setiap perjalanan adalah upaya untuk berdialog tentang sebuah kebudayaan. Begitu pula perjalanan sepanjang lautan pasir menuju Gunung Bromo. Suko, pemuda 23 tahun yang sudah jadi pemandu kuda selama tujuh tahun, bisa menjadi teman perjalanan sekaligus pemandu yang menyenangkan. Dia fasih menjelaskan tiap hal yang aku tanyakan tentang kebudayaan masyarakat setempat.

Salah satu yang membuatku tertarik ke Bromo, Probolinggo adalah para penunggang kuda dan lautan pasirnya. Maka begitu sampai di Cemorolawang, salah satu desa gerbang menuju Gunung Bromo, aku langsung cari kuda untuk menuju Bromo.

Continue reading “Sekilas Mengenal Hindu Tengger”

Napak Tilas Dian Sastro Ngesot

Jalur Probolinggo – Cemorolawang akhirnya jadi pilihanku untuk menuju Bromo. Jalur ini satu dari setidaknya empat jalur yang bisa ditempuh jika ingin ke Gunung Bromo. Tiga jalur lain ke Bromo Pasuruan – desa Wonokitri, desa Ngadas dari jalur Malang dan desa Burno dari Lumajang. Untuk sampai di Cemorolawang dari terminal Probolinggo perlu waktu 1,5 jam naik angkutan umum dengan jalan menanjak berkelok-kelok sekitar 30 menit terakhir. Tarif angkutan ini Rp 20 ribu – Rp 25 ribu.

Gunung ini secara administratif masuk Kabupaten Probolinggo. Cemorolawang adalah desa terakhir yang aku temui sebeum turun ke lautan pasir menuju Gunung Bromo. Di dusun yang masuk desa Ngadisari, Kecamatan Sukopuro ini ada fasilitas untuk turis seperti hotel, restoran, bahkan ATM BNI.

Continue reading “Napak Tilas Dian Sastro Ngesot”