Pemandangan Langka Ujung Timur Pulau Bunga

Di sisi kanan kami ada kebun kering dengan model terasering, di sisi kiri ada pantai, di depan sana ada gunung berapi. Keren sekali….

Kami baru balik dari Dusun Hokobopo, Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Aku dan Ibrahim, teman dari Yayasan Ayu Tani, selesai liputan tentang petani kacang mete di ujung timur pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Continue reading “Pemandangan Langka Ujung Timur Pulau Bunga”

Foto Kampung Bareng Ponakan

Mampir kampung kelahiran minggu lalu, 13-15 Juni 2010 setelah liputan di Jogja, Solo, dan Boyolali. Singgah di Mencorek, Brondong, Lamongan lewat darat dari Solo, Jombang, Tuban, dan Lamongan sambil menikmati rusaknya jalan.

Ini beberapa foto, terutama pas jalan-jalan di Pelabuhan Nelayan, Jompong, Brondong, Lamongan bareng tiga ponakan: Zaki, Asrul, dan Ditya. Foto-foto lain ada di flickr. Menurutku, objek di sana asik juga untuk dipotret. 🙂

Continue reading “Foto Kampung Bareng Ponakan”

Menanti Sajian Khas Negeri Sendiri

Garuda Indonesia harusnya lebih banyak menyediakan menu khas negerinya sendiri daripada menyuguhkan roti.

Karena belum makan malam, aku mengharapkan ada suguhan makan di penerbangan antara Surabaya – Denpasar, Selasa malam kemarin. Aku berharap pramugari cantik itu menyajikan satu porsi nasi lengkap dengan lauk ayam atau ikan laut. Apa daya, dia tak menyajikan menu yang aku harapkan.

Continue reading “Menanti Sajian Khas Negeri Sendiri”

Emmerich Setelah 70 Tahun Kehancuran

Pada masa Perang Dunia II, Emmerich am Rein luluh lantak karena pengeboman. Kini, kota di pinggiran Jerman itu tetap menawan.

Menghabiskan sisa satu hari sebelum meninggalkan Belanda, aku memutuskan berkunjung ke Emmerich am Rein, kota kecil dekat perbatasan Belanda dan Jerman. Aku memilih kota di distrik Cleves, Provinsi Dusseldorf ini dengan pertimbangan dekatnya lokasi, mepetnya waktu, murahnya biaya.

Continue reading “Emmerich Setelah 70 Tahun Kehancuran”

Patung-patung Tua yang Bercerita

Godfrey of Bouil

Semula aku hanya berniat melihat Manneken Pis, patung anak kecil sedang kencing ikon Belgia. Ternyata aku malah menemukan banyak patung lain di antara menawannya lansekap ibukotanya, Brussels.

Tak banyak yang aku persiapkan ketika berencana berkunjung ke Brussels, Belgia. Aku hanya berniat mampir tak lebih dari setengah hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Leuven, kota berjarak sekitar 30 km dari Brussels.

Tujuan utamaku ke Belgia memang bukan untuk jalan-jalan tapi berkunjung ke kantor pusat Vredeseilanden, lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Leuven. Lembaga ini memiliki kantor regional di tujuh negara termasuk VECO Indonesia, tempatku kerja paruh waktu.

Continue reading “Patung-patung Tua yang Bercerita”

Dua Kejutan di Kota Persinggahan

Kafe tempat Karl Marx pernah membaca manifesto komunisme di Belgia itu membuatku senang bukan kepalang. Inilah kejutan kedua mampir di Brussels, Belgia.

Kejutan sebelumnya adalah Town Hall. Bangunan berumur lebih dari 600 tahun ini berada di tengah Grand Palace, kawasan paling populer di Brussels, ibukota Belgia. Jaraknya tak sampai lima menit jalan kaki dari stasiun pusat Brussels.

Bangunan gothic yang dibangun pada tahun 1402 ini tak langsung terlihat ketika kami keluar dari stasiun pusat Brussels. Dia tersembunyi di antara hotel, restoran, kafe, toko souvenir, dan bangunan lain di kawasan ini. Tapi, setelah melewati hiruk pikuk turis dan sekitar tiga gang, kami sampai kawasan Grand Palace.

Continue reading “Dua Kejutan di Kota Persinggahan”

Menjadi Tikus Keliling Paris

Bergaya di Menara Eifel

Bermodal 4,5 euro, kami keliling Paris dari bawah tanah. Sayang, karcis dan bukuku hilang.

Begitu keluar dari stasiun metro di kawasan Museum Leuvre Sabtu pekan lalu, kami semua langsung girang bukan kepalang. Persis di depan kami berdiri museum tempat menyimpan lukisan Monalisa karya Leonardo di Vinci itu. Kami semua berseru kompak, “Waaaoow..”

Bagian museum yang kami lihat pagi itu tingginya sekitar 10 meter. Bangunan ini awalnya adalah benteng. Karena itu bentuknya seperti kotak raksasa dengan ukiran-ukiran di bagian depan yang sangat detail. Warnanya dominan putih susu.

Continue reading “Menjadi Tikus Keliling Paris”

Tari Bali di Ulang Tahun Ratu Belanda

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 km selama hampir 1 jam dari Stasiun Pusat (Central Station) Amsterdam, kami sampai juga di Taman Vondel (Vondelpark) di sisi selatan kota. Begitu tiba di taman ini, kami disambut tari khas Bali, pendet. What a surprise..

Semula saya ragu kalau gadis berusia sekitar 10 tahun itu sedang menari Bali. Pertama, ini di Amsterdam di mana buanyak sekali orang dari berbagai negara. Kedua, karena gerak tubuh gadis itu jauh dari gemulai penari Bali. Tarian gadis itu lebih mirip breakdance karena patah-patah tidak lemah gemulai.

Continue reading “Tari Bali di Ulang Tahun Ratu Belanda”

Mudahnya Masuk Negeri Belanda

Yes. Akhirnya kami sampai juga di Belanda Sabtu pagi sekitar pukul 9 waktu Belanda. Setelah terbang selama sekitar 14 jam, termasuk transit dua jam di Kuala Lumpur, Malaysia, pesawat Malaysia Airlines kami mendarat di Bandara Schipol, Belanda.

Ada 18 orang dalam rombongan ini. Kami semua anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang akan mengikuti kursus new media di Hilversum, Belanda. Kursus di Radio Nederland Training Centre (RNTC) ini diadakan oleh AJI Jakarta dan Neso Indonesia.

Continue reading “Mudahnya Masuk Negeri Belanda”

Madu di Gunung, Garam di Kota

Ada dua oleh-oleh yang bisa dibawa sepulang dari Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU) di Nusa Tenggara Timur, madu dan garam. Keduanya dijual di tepi jalan. Harganya juga murah meriah.

Oya, tapi sebelum dilanjut, aku juga baru tahu. Sebenarnya ada oleh-oleh yang lebih menarik dari sekadar madu dan garam. Oleh-olehnya berupa aneka rupa kerajinan lokal yang dijual tak jauh dari pasar terbesar di Kefa. Sayangnya aku baru tahu ketika sudah meninggalkan kota itu. Jadi aku cuma bisa bawa madu sebagai oleh-oleh.

Continue reading “Madu di Gunung, Garam di Kota”