HIV/AIDS mortality rate steadily increasing, 72 dead this year

5 , , , , Permalink 0

Anton Muhajir, Contributor,  The Jakarta Post, Denpasar | Mon, 11/24/2008 12:26 PM | Bali

The number of deaths caused by HIV/AIDS in Bali has been steadily increasing year on year, with 72 people recorded as having died of the disease already this year.

Data from Sanglah Central Hospital’s VCT (Voluntary Counseling and Testing) clinic shows that the number of deaths by October was more than twice the number recorded in 2004.

Continue Reading…

HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities

1 , , , , Permalink 0
This article has published in The Jakarta Post Surfing Bali page.

HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities

Anton Muhajir ,  Contributor, Denpasar   |  Thu, 09/11/2008 11:04 AM  |  Surfing Bali

In response to a recent government regulation that designated state health workers as the only people officially allowed to distribute syringes and needles to IDUs (Injecting Drugs Users), Bali’s HIV/AIDS non-governmental organizations have developed a new strategy.

Prior to the issuance of the regulation, NGO outreach workers were responsible for distributing needles directly to local IDU communities that participated in government-condoned NEP (Needle Exchange Program) pilot projects.

Continue Reading…

Catatan Usai PNHR II Makassar

15 , , Permalink 0
Kerjaanku di Pertemuan Nasional Harm Reduction (PNHR) II di Makassar sudah usai dua hari lalu. Aku sudah di Bali lagi. Sekarang waktunya membuat catatan soal pertemuan nasional tersebut. Itung-itung jadi otokritik atas kerjaan selama di sana.

Namanya kritik, tentu saja berangkat dari sebuah masalah. Ini bukan berarti suka melihat masalah saja. Ada beberapa hal yang layak diapresiasi. Misalnya betapa para pengguna ataupun mantan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) terlibat sepenuhnya di kegiatan itu. Salut juga melihat mereka bekerja sampai pagi-pagi untuk mengurus sekitar 600 peserta pertemuan.

Continue Reading…

Membandingkan Darut Tauhid dengan Rumah Cemara

1 , Permalink 0
Pada hari ketiga Pelatihan Menulis Isu AIDS untuk Wartawan di Bandung, peserta pelatihan diberi tugas untuk liputan ke lapangan. Sekitar 20 peserta dibagi jadi empat kelompok dengan narasumber injecting drugs user (IDU), pekerja seks komersial (PSK), waria, dan man sex with man (MSM) alias gay. Aku sangat bernafsu untuk bisa masuk kelompok yang mewawancari PSK. Apa daya, pas diundi, aku malah dapat IDU, isu yang sudah sering aku tulis.

Di kelompokku ada teman dari Banten, Aceh, Makassar, Medan, dan Palembang. Dwi Wiyana, redaktur TEMPO yang juga pemateri pelatihan mengantarkan kami ke Rumah Cemara, tempat nongkrong junkie, bahasa lain IDU, di Bandung. Semula, aku tidak terlalu antusias. Sepertinya aku tidak akan dapat hal baru di isu HIV/AIDS di kalanga IDU ini. Untungnya sih begitu masuk kawasan ini, aku seperti nemu ironi menarik untuk jadi bahan tulisan.

Continue Reading…

Mau Makan di Tempat atau Bungkus?

18 , Permalink 0
Mendung tebal menggantung di atas kota ketika Merpati Boeing 737 dengan nomor penerbangan MZ 617 dari Bali yang kutumpangi hendak mendarat di Bandar Husein Sastranegara, Bandung. Setelah satu jam dari Surabaya, aku harus transit di sana 30 menit, kami tiba juga. Dari atas, Bandung terlihat sangat padat dengan bangunan. Ketika hendak mendarat, pesawat itu sepertinya sangat dekat dengan rumah-rumah, kantor, masjid, bahkan makam di sekitar bandara.

Melihat dekatnya bandara dengan pemukiman, aku jadi ingat kecelakaan pesawat di Medan dan Solo beberapa waktu lalu. Kalau tidak salah, salah satu alasan kecelakaan itu adalah karena dekatnya bandara dengan perumahan penduduk. Jadi, menurutku, bandara di Bandung masuk kategori berisiko karena dekatnya dengan permukiman warga. Aneh juga ya. Bukannya kota ini adalah pusat orang-orang pintar di bidang hal-hal semacam ini. *Aduh, kok nglantur..*

Continue Reading…

Resistant virus threatens people with HIV/AIDS

0 , , , , Permalink 0

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 02/08/2007 4:57 PM | Life

Anton Muhajir, Contributors, Denpasar

Thirty-four-year Agung has serious problems with his eyesight. His right eye is not functioning at all, while the vision in his left eye is filled with black dots. Agung works as a truck driver delivering gasoline from the Pesanggaran area of South Denpasar to places throughout the provincial capital of Bali.

For the last few months, Agung could no longer see things clearly. The father of one can see nothing but blurred images within a five-meter distance.

Continue Reading…

Photos reveal strength, optimism

0 , , , , Permalink 0

The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 05/26/2006 1:25 PM | Life

I Wayan Juniartha, The Jakarta Post, Denpasar, Bali

Anybody could sense the tristesse in his faltering voice. Yet, along with the anguish there was also a trace of hard-nosed realism to his words. Robbie Baria, a young photographer, both lamented and rejoiced at the weeks he had spent with a poor, HIV-infected housewife at Pemuteran, a coastal village in northern Bali.

“”The entire experience has deeply affected my life. It put me in face-to-face contact with the harsh reality of poverty and suffering. On the other hand, it also introduced me to an individual, who, above all else, refused to give in to one of the world’s brutal tragedies,”” he said.

Continue Reading…

Orphaned due to HIV/AIDS in North Bali village

0 , , , , Permalink 0

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/04/2005 9:05 AM | Life

Anton Muhajir, Contributor/Singaraja

Eleven-year-old Gede Edi Suantara was once a happy and healthy boy. His life turned dark and miserable when his beloved mother Kadek Widiasih died a year ago following his father who also died two years ago.

Raised by his uncle, Komang Sunetra, the orphaned boy is a depressed teenager. “”He was once a very smart boy who often got the top grade in his class. But since his mother died of HIV/AIDS, he drastically changed,”” the uncle said.

Continue Reading…

Mereka Tak Melakukan Apa-apa. Tapi Mereka yang Menderita…

2 , , Permalink 0
Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya Jumat pekan lalu aku bisa ke Desa Goris, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Desa ini berjarak 200 km lebih dari Denpasar ke arah utara. Perjalanan lebih dari tiga jam lewat darat. Maka perlu waktu sehari penuh untuk bisa ke desa ini. Karena itulah beberapa kali niatku tertunda. But, ya syukurnya kesampain juga.

Desa Goris, berada di jalur utara (pantura) Bali. Secara adminisitratif masuk kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Desa kecil ini terbelah oleh jalan raya antara Gilimanuk, pintu masuk Bali dari Jawa, dengan Singaraja, bekas ibukota Provinsi Bali. Toh, desa ini terlihat gersang. Tidak sepadan dengan mereka yang lalu lalang. Ketika aku datang, debu beterbangan. Apalagi kendaraan yang lalu lalang juga banyak. Suasana desa sangat panas.

Niatku datang ke desa ini karena aku udah dengar sebelumnya tentang anak-anak di desa ini. Dan itu memang benar adanya.

Aku ke desa itu untuk bertemu dengan anak-anak yang sudah yatim, piatu, atau yatim piatu. Orang tua mereka meninggal karena AIDS, sindrom yang menyerang kekebalan tubuh itu. Ada 14 anak di desa ini yang demikian. Ada Kadek Setiawan, 10 tahun yang bapaknya meninggal dua tahun lalu. Sulatra bapaknya Setiawan meninggal karena AIDS. Ketika masih hidup dia suka ganti-ganti pasangan dan tidak pakai pengaman. HIV yang diidapnya ditularkan pada Widiasih, istrinya. Setahun lalu, istrinya juga meninggal. Kadek kini tinggal bersama Made Yasa pamannya.

Kadek, tentu saja, tidak pernah ganti-ganti pasangan, atau pake jarum suntik bersama, atau berbuat hal yang berisiko tinggi kena HIV. Umurnya masih muda, baru 10 tahun. Tapi kini dia harus hidup sendiri karena perbuatan bapaknya. Ketika aku ajak ngobrol tak ada cahaya sama sekali di mata itu. Dia hanya menatap kosong. “Padahal dulu dia pinter,” kata pamannya.

Ada pula Sunanjaya dan Susanti, kakak beradik yang masih balita. Mereka kini diasuh neneknya. Mereka tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar norma, dan semacamnya namun mereka harus menanggung akibat yang begitu berat.

Untungnya 14 anak di desa itu tak ada satupun yang positif HV. Mereka kini didampingi Suryakanta, kelompok dukungan untuk anak2 yatim karena AIDS. Pengasuh mereka diberi babi untuk kemudian diternakkan. “Meski tidak besar, ternak babi bisa menghidupi mereka,” kata Planet yang mengunjungi mereka tiap akhir pekan.

Hari itu, aku dan teman-teman hanya bisa bertemu dan ngobrol dengan mereka. Belum banyak yang bisa kami lakukan selain bantuan sekadarnya. But, tatap mata mereka seperti mengharap kapan-kapan kami untuk kembali lagi..