Soekarno Father of Sweet Skull

4 , , , Permalink 0

Seokarno Founding Father Holy Sweet

Nemu foto ini pas lagi pilih-pilih foto kuliner.

Foto diambil di stand pameran Pesta Kesenian Bali Juni 2009 lalu. Di pameran ini, semua memang campur aduk termasuk dua kaos bergambar yang saling berbeda ini. Satunya Bapak Pendiri Bangsa, Soekarno. Satunya lagi tengkorak manis ini. 🙂

Megibung as Part of Social Revolution

26 , , , , Permalink 0

Semua seperti melebur malam itu. Komang Bowo, yang aku pikir anak baik-baik, seperti halnya Noviar, ternyata berubah menjadi brutal. Mereka tertular penyakit gak tau malu dari Putu Hendra alias Saylow, babi jenius non longor di Bali Blogger community (BBC). Mereka berpose layaknya penari jaipong dengan balutan kebaya dan sarung yang ketat memperlihatkan lekuk tubuh.

Ah, bukannya merangsang hasrat laki-laki, mereka malah menantang nafsu kami untuk menimpuki. Hahaha..

Continue Reading…

Ketik Reg Spasi Idiot!

14 , , , Permalink 0
Makin hari memang makin aneh-aneh saja iklan di TV. Kali ini soal banyaknya iklan tentang SMS yang bagiku sama sekali tidak masuk akal. Anehnya, hal-hal tak logis ini membordardir penonton TV tiap hari.

Iklan SMS itu beraneka rupa. Tapi pada dasarnya membujuk kita untuk berlangganan layanan tertentu dengan mengirim REG spasi bentuk layanan ke nomor tertentu. Secara sekilas, aku lihat layanan yang ditawarkan itu mulai dari ramalan nasib, jodoh, musik, tato, game, sampai agama. Semua campur aduk ada di sana.

Continue Reading…

Inilah Zaman Tuyul Pakai Wifi

20 , , Permalink 0
Desas-desus itu terbukti juga. Aku dan Bunda membuktikannya Sabtu pekan lalu. Kami melihat dengan mata kepala sendiri. Bungkusan kecil, seukuran jempol kaki, berwarna oranye di bawah meja itu membuatku yakin akan ketidakjelasan zaman kaliyuga ini. Hehe..

Sekitar dua bulan sebelumnya, dari Bunda aku mendengar cerita Ike dan Saylow. Ada satu cafe di daerah Renon yang pakai jampi-jampi atau semacamnya. Intinya pakai kekuatan supranatural untuk menarik pengunjung. Jampi-jampi itu berupa bungkusan kecil yang ditaruh di bawah meja. Lucunya, cafe itu juga menyediakan free wifi.

Continue Reading…

Tak Perlu Bayar Karena Teman

18 , Permalink 0
Kami sudah bersiap memulai diskusi tentang tampilan intranet di tempatku kerja paruh waktu. Tapi, ternyata ada yang tidak beres. LCD kantor dibawa keluar kota. Dan, kami hanya punya satu alat untuk menayangkan tampilan dari komputer ke layar tersebut. Padahal, agak aneh kalau diskusi tentang tampilan intranet tanpa melihatnya langsung ke layar.

Maka, salah satu teman mencoba menghubungi salah satu lembaga internasional lain di Bali. Karena sama-sama lembaga internasional, biasanya kan mudah tuh untuk pinjam alat-alat. Eh, ternyata staf di lembaga itu juga tidak bisa meminjamkan dengan segera karena bosnya masih rapat.

Continue Reading…

Satu Bahasa, Banyak Aksennya

6 , Permalink 0
Ketemu banyak orang dari beragam latar belakang memang menyenangkan. Aku bisa belajar banyak hal pula dari mereka. Begitu pula selama International Editor Meeting majalah tempatku kerja part time di hotel Mercure Sanur sejak Minggu lalu. Salah satu yang kupelajari adalah soal bahasa.

Pertemuan selama enam hari ini menggunakan bahasa Inggris, tentu saja. Namun karena sebagian besar bukan penutur asli (native speaker) bahasa Inggris, maka sangat terasa bedanya dibanding penutur asli. Bisa jadi karena si penutur memang tidak sepenuhnya bisa ngomong bahasa ini dengan baik, bisa jadi juga karena aksennya yang memang tidak ramah di telingaku sehingga susah kumengerti. Tapi, kemungkinan besar adalah karena kemampuanku mendengar bahasa Inggris (listening) memang payah. Makanya aku susah mengerti. 🙁

Continue Reading…

Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan

24 , Permalink 0
Susahnya hidup di dunia yang serba maskulin ini adalah perempuan selalu jadi objek. Atau malah jadi komoditas, sesuatu yang bisa diperjualbelikan. Itu pula pengalamanku ketika di Bandung, yang bisa jadi mewakili Sunda itu. Seperti halnya Bali, yang terkenal sebagai pusat perempuan seksi, meski bodi mengalahkan wajah alias BMW (hehehe), Bandung dan Manado memang terkenal juga sebagai pusat perempuan cantik.

Bisa jadi ini memang stereotip, sifat yang kadung dilekatkan pada kelompok tertentu. Misalnya bahwa cewek Sunda itu suka berdandan. Stereotip cewek Sunda, termasuk Bandung, ini sudah sering aku dengar. Namanya stereotip, jadi ya belum tentu benar. Tapi, sebatas pengalamanku lima hari di Bandung, itu memang ada benarnya. Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti semua cewek memang begitu adanya (generalisasi). Tapi pandangan sepintas dan sekilas saja. Tidak usah terlalu ditanggapi serius.

Continue Reading…

Globalisasi di Balik Kaos Oblong

9 , Permalink 0

Lama tidak menulis resensi di blog. Makanya aku posting aja deh resensi ini. Biarin saja resmi banget bahasanya.

Agak lucu juga nemu buku ini. Sekitar sebulan lalu aku dapat kaos oleh-oleh dari bos di kantor yang baru pulang dari Belgia. Seumur hidup sampai sekarang, baru kali ini aku dapat kaos dengan logo fair trade di belakangnya. Ada logo Max Havelaar dan keterangan bahwa kaos itu diproduksi dengan menerapkan prinsip-prinsip fair trade.

Menurut organisasi fair trade sedunia International Federation of Alternative Trade (IFAT), fair trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling menghormati. Tujuannya untuk menciptakan keadilan, pembangunan berkelanjutan, melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair serta memihak pada hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan.

Continue Reading…

Ilmu Jaringan: Ketika Fisika dan Sosiologi Bertemu

1 , Permalink 0
Artikel keren di Kompas soal teori jaringan sosial. Aku ambil mentah-mentah dari website Fisikanet.

Ilmu Jaringan: Ketika Fisika dan Sosiologi Bertemu

Roby Muhamad (Columbia University)

HAL yang menarik dari ilmu jaringan adalah ia mempelajari hal-hal yang terjadi di seputar kita. Bagaimana krisis moneter 1997 dapat menyebar hampir ke seluruh Asia? Bagaimana gerakan mahasiswa 1998 berhasil menumbangkan pemerintahan, tetapi gagal di waktu lain? Bagaimana perselisihan antardua orang dapat bereskalasi menjadi sebuah konflik regional? Bagaimana penyakit menular menyebar menjadi epidemik? Bagaimana ide atau tren budaya menyebar?

MESKIPUN pertanyaan- pertanyaan di atas tampak berbeda-beda, sebenarnya itu semua adalah variasi dari satu pertanyaan: bagaimana perilaku individu berkumpul (aggregate) menjadi perilaku kolektif? Masalah ini kita sebut sebagai masalah agregasi yang merupakan salah satu masalah paling besar dan mendasar dalam seluruh ilmu. Sebagai contoh, otak manusia bisa dikatakan hanya sebagai kumpulan miliaran sel saraf yang saling terhubungkan membentuk jaringan elektrokimia. Tapi bagi kita yang memilikinya tentu otak lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran, ingatan, kepribadian yang tidak bisa dijelaskan jika kita menganggap otak hanya sebagai kumpulan sel saraf.

Continue Reading…