Pura, antara Sakral vs Komersial

Apakah pura boleh menjadi tempat yang dikunjungi turis? Atau untuk sembahyang saja?

Polemik itu muncul setelah Gubernur Bali mengusulkan agar ada larangan bagi turis yang akan berkunjung ke pura. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Continue reading “Pura, antara Sakral vs Komersial”

Gaulnya Sejarah Bali di Mata ABG

Kata pertama ketika mendapat buku ini adalah, “Gila!”

Ungkapan tersebut campuran antara rasa kagum dan jengah. Kagum karena ternyata ini ada anak baru gede alias abege yang masih SMA tapi sudah menulis buku tentang Bali. Ketika anak-anak seumurannya lebih banyak menggalau dan menggaul, Nilam Rahma Hanjayani, lahir pada 8 Maret 1996, sudah menulis buku ini.

Kerennya lagi, Nilam ini bukan orang Bali ataupun Hindu. Dia juga tidak tinggal di Bali. Tapi, ternyata dia bisa menuliskan tentang hal amat penting bagi orang-orang Hindu di Bali, jejak sejarah pura-pura di sepanjang Sungai Pakerisan, Bali.

Continue reading “Gaulnya Sejarah Bali di Mata ABG”

Laporan Warga tentang Kecelakaan Lion Air

Berikut adalah pengumpulan informasi tentang kecelakaan pesawat Lion Air Sabtu lalu melalui aplikasi media sosial Storify.

Pengumpulan informasi ini hanya untuk menunjukkan bagaimana peran warga sekarang dalam memberitakan sebuah peristiwa. Tak ada lagi monopoli media arus utama. Bahkan, dalam kasus tertentu, pewarta warga justru menjadi penyampai pertama.

Continue reading “Laporan Warga tentang Kecelakaan Lion Air”

Menjaga Bara Kelompok Sipil Pulau Dewata

Ada diskusi menarik hari ini dengan teman-teman aktivis LSM di Bali.

Diskusi ini diadakan Yayasan Manikaya Kauci (YMK) yang berulang tahun ke-21. Mengaca pada umurnya, maka YMK ini salah satu organisasi non-pemerintah di Bali yang lahir ketika Soeharto dan Orde Baru masih jaya-jayanya, tahun 1992.

Continue reading “Menjaga Bara Kelompok Sipil Pulau Dewata”

Mengembalikan Jurnalisme kepada Publik

Awalnya dari rasa jengah: ke mana perginya jurnalisme berkualitas di Bali saat ini?

Pernyataan di balik pertanyaan tersebut mungkin terlalu dini. Tapi, setidaknya ada beberapa penanda makin hilangnya jurnalisme berkualitas di Bali. Tiga hal yang menandai tersebut adalah tema berita, penyampaian berita, dan etika jurnalis.

Dari sisi tema berita, sebagian besar media di Bali lebih banyak memberikan seputar intrik dan konflik elite politik. Penyampaian berita kemudian lebih banyak hanya bersifat talking news, semata tentang omongan-omongan elite. Dalam bahasa sarkastik, ada yang menyebutnya sebagai jurnalisme ludah, apa pun omongan elite politik akan diberitakan. Tidak perlu verifikasi. Tak ada keberimbangan. Bahkan, berita seringkali malah hanya menjadi alat adu domba.

Continue reading “Mengembalikan Jurnalisme kepada Publik”

Berbagi Kegalauan tentang Bali Sekarang

Hanya menulis tentang diskusi malam ini.

Ceritanya, aku diminta oleh Sukma Arida untuk jadi salah satu pembedah buku terbarunya, Pandora Bali, Refleksi di Balik Gemerlap Turisme. Selain aku, pembedah lain adalah Made Andi Arsana, Dosen Teknik Geodesi dan Geomatik Universitas Gajah Mada (UGM) yang sedang ambil program doktoral di Australia.

Continue reading “Berbagi Kegalauan tentang Bali Sekarang”

Mengantar Makanan, Menguatkan Kekeluargaan

Bisa jadi ini kebetulan.

Tapi kok ya bisa beruntun begitu. Setelah membaca tulisan Winata di BaleBengong tentang tradisi memunjung, kali ini aku mengalaminya sendiri. Padahal, seumur-umur aku jadi orang Lamongan tak pernah mendengar istilah ini sebelumnya.

Continue reading “Mengantar Makanan, Menguatkan Kekeluargaan”