Pelatihan untuk Difabel, Sembilan Tahun Berselang

Perlu upaya ekstra bagi Era untuk mengetik di komputer.

Tak hanya karena dia terlihat berpikir keras untuk menemukan kata-kata yang hendak dia ceritakan, tetapi juga karena jari-jarinya memang cacat.

Gadis 20an tahun itu hanya mengetik dengan kedua ibu jari. Ruas masing-masing jari di tangan kanan dan kiri Era hanya setengah. Bagian bawah saja. Bagian atasnya tak penuh seperti orang pada umumnya.

Era, gadis berambut ikal sebahu, itu salah satu peserta kelas jurnalisme warga Sabtu (25/8) lalu. Di sebelahnya ada Eka, gadis seumuran dia. Ada sebelas peserta termasuk mereka berdua di pelatihan setengah hari itu. Peserta lain dari Tabanan, Karangasem, Gianyar, dan bahkan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pagi itu kami bersama belajar tentang jurnalisme warga. Puspadi Bali, organisasi non-pemerintah yang mendampingi pendamping disabilitas, memintaku memberikan pelatihan tersebut.

Ini bagian dari pelatihan singkat menuju dunia kerja. Bahasa kerennya “Soft and Hard Skill Training”. Jurnalisme warga sendiri hanya salah satu. Selama tiga bulan, para penyandang disabilitas ini juga belajar beragam keterampilan, termasuk berbicara di depan umum, bahasa Inggris, komputer, dan lain-lain.

Pagi itu, selain belajar menulis ala jurnalisme warga, peserta juga belajar sedikit tentang fotografi ponse. Sayangnya, karena waktu pelatihan yang hanya sekitar tiga jam, kami tak sempat mempraktikkan keduanya: menulis dan foto ponsel.

Memberikan pelatihan ini, aku jadi ingat pertama kali memberikan pelatihan serupa pada 2009 silam.

Waktu itu, Bali Blogger Community (BBC) juga sedang giat-giatnya. Maklum, baru dua tahun berdiri. Anggotanya masih pada semangat 45 untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan.

Salah satu pelatihan adalah juga untuk teman-teman difabel. Puspadi saat itu masih bergabung dengan YAKKUM. Kantornya masih di Abiansemal, Badung. Lumayan jauh sih rasanya saat itu.

Kalau tak salah saat itu pelatihannya tak hanya sekali, tetapi sampai sebulan dengan tiap seminggu sekali pertemuan. Materinya pun lebih lengkap. Mulai dari dasar-dasar Internet, blog, dan sampai media sosial.

Memberikan pelatihan semacam ini selalu berkesan.

Beda banget antara memberikan pelatihan untuk orang-orang difabel dengan orang “biasa”. Perlu upaya lebih keras memastikan mereka bisa mengikuti dan di sisi lain juga terasa lebih keras perjuangannya.

Era hanya salah satu contohnya.

Ada lagi peserta yang tidak bisa melihat, seperti pernah kami adakan bersama teman-teman Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Ada pula pelatihan dengan anak-anak berkursi roda yang penuh antusias mewawancarai narasumber, difabel lain yang juga atlet khusus difabel.

Asyiknya, kita tidak pernah tahu bagaimana pelatihan semacam itu akan berdampak. Selesai memberi pelatihan kan seringkali, plung, hilang begitu saja kenangannya.

Toh, ada saja yang kadang masih ingat. Pernah, misalnya, ada yang tiba-tiba kontak dan bilang, “Aku yang dulu pernah ikut pelatihan di situ, Mas. Masak sih lupa…” Atau lebih menyenangkan lagi ketika dia bilang sudah bisa kirim email, nulis blog, atau masih mempraktikkan ilmu lain yang dipelajari dulu bersama kami.

Kalau sudah begitu, nyess rasanya. Senangnya tak terkatakan. Semoga juga yang kali ini bisa demikian..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.