Keluarga Kami yang Tak Lengkap Lagi

0 , Permalink 0

Sampai lupa kapan Lebaran paling lengkap bagi kami.

Sudah lama sekali rasanya keluarga kami berkumpul bersama dalam formasi lengkap di kampung halaman, Mencorek. Kalau tak salah terakhir kali saat aku masih SD.

Artinya, sudah lebih dari 25 tahun lalu. Saking lamanya, aku bahkan tak punya ingatan jelas tentang waktu itu.

Kami delapan bersaudara. Empat laki-laki. Empat perempuan.

Seperti umumnya warga kampung, desa hanyalah tempat kelahiran. Ketika dewasa, kami pun pergi meninggalkan desa kelahiran di mana kami hanya menyimpan kenangan. Kami (pernah) menyebar ke banyak tempat: Jakarta, Malaysia, Bekasi, Dumai, Bengkalis, Batam, Surabaya, Bali, dan Malang.

Kak Alhan, saudara paling tua, merantau ke Jakarta sejak lulus Madrasah Aliyah. Hingga saat ini tinggal di sana dengan tiga anaknya. Yuk Tim, kakak kedua sudah tidak ada. Kehilangan terbesar bagiku hingga saat ini.

Kak Hid, sudah merantau ke Malaysia sejak SMA. Satu-satunya saudara yang tidak lulus SMA ini sekarang tinggal di Bengkalis, dekat perbatasan dengan Malaysia. Yuk Day, kakak keempat, sekarang di Batam bersama suami dan tiga anaknya.

Aku di Bali sejak 18 tahun lalu.

Tumik tinggal di Surabaya setelah lulus kuliah di Malang. Ya’i, adik terakhir, bekerja di Malang sambil menyelesaikan kuliahnya.

Di kampung hanya Tulik, adikku persis, bersama suami dan empat anaknya. Dia satu-satunya saudara yang tinggal bersama Emak. Bapak sudah meninggal Desember 2014 lalu.

Keluarga kami sudah tidak lengkap lagi. Sudah tidak mungkin bisa berkumpul lagi meskipun saat Lebaran. Selain karena Bapak dan Yuk Tim yang sudah tidak ada juga karena tidak tiap Lebaran kami bisa mudik semua dengan beragam alasan.

Namun, Lebaran ini rasanya paling lengkap setelah tidak adanya kedua orang tercinta kami. Kecuali Yuk Day, semuanya mudik. Meskipun tak lengkap, senang sekali rasanya bisa kumpul kembali.

Tak lama sih. Hanya sekitar lima hari. Tapi, senang sekali rasanya bisa makan bersama lagi di rumah tempat kami lahir. Bisa manggang ikan lagi. Bisa jalan-jalan. Juga bisa berfoto sama Emak dengan tempat pembuatan garam, sesuatu yang menghidupkan kami hingga saat ini.

Dua hari setelah Lebaran semua kembali ke perantauan yang kini sudah jadi rumah kecil kami masing-masing. Tak tahu kapan kami bisa kumpul seperti ini lagi.

 

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.