Making citizen journalism works

Citizen journalism team after visit unieuws.nl. (Photo: Edy Can)

Yesterday, we visited RTV Utrecht. It is a media centrum in Utrecht, the Netherlands. We, five of participants of media online training in Hilversum, discussed and explored mainly about citizen journalism website. It was very interesting to know more about how it’s website, uniews.nl, works.

Here is the presentation we have based on the visit. This material compiled by us: Edy, Komang, Imung, Iman, and me. We presented the material in Corner Room today.

Media visit to RTV Utrecht

Balinese girl triumphs at international photo contest

Dressed in a white traditional Balinese kebaya (blouse) and long blue skirt, Wayan Mertayani says she never thought she could win the Anne Frank Foundation international photo contest in Amsterdam.

The work of the 14-year old girl was chosen from among 200 contestants from across the world. This year’s competition was themed “What’s Your Dream?”

Continue reading “Balinese girl triumphs at international photo contest”

What a flat of the Netherlands

Dutch people are very egalitarian. There is no hierarchy among them. It’s as flat as their landscape, daily life, and food.

Beside my wife and son, one person whose I often remember during my short-stay in the Netherlands is Mr. Rogier, big boss in my part time office, VECO Indonesia. His full name is Rogier Eijkens. He is Dutch.

Continue reading “What a flat of the Netherlands”

Yes, Weed (I) Can’t

Setelah mondar-mandir melihat beberapa bangunan menarik di Hilversum, menikmati pasar murah, sampai memotret tanda dilarang blow job di toilet umum, aku dan salah satu teman akhirnya mampir di coffee shop. Di dalamnya, para penghisap ganja guyub berbicara dalam Bahasa Arab diiringi irama musik Timur Tengah. What?

“Pengajian kok sambil ngisep ganja?” aku tertawa sendiri di pikiranku.

Continue reading “Yes, Weed (I) Can’t”

Tari Bali di Ulang Tahun Ratu Belanda

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 km selama hampir 1 jam dari Stasiun Pusat (Central Station) Amsterdam, kami sampai juga di Taman Vondel (Vondelpark) di sisi selatan kota. Begitu tiba di taman ini, kami disambut tari khas Bali, pendet. What a surprise..

Semula saya ragu kalau gadis berusia sekitar 10 tahun itu sedang menari Bali. Pertama, ini di Amsterdam di mana buanyak sekali orang dari berbagai negara. Kedua, karena gerak tubuh gadis itu jauh dari gemulai penari Bali. Tarian gadis itu lebih mirip breakdance karena patah-patah tidak lemah gemulai.

Continue reading “Tari Bali di Ulang Tahun Ratu Belanda”

Let's Stoned, Drunk, and Horny in Amsterdam

Di Belanda, atau setidaknya Amsterdam, agama dan kesenangan bukan hal yang dipisahkan. Mereka berdampingan. Maka, bar-bar yang menyajikan ganja (coffee shop) bisa berdampingan dengan gereja, perempuan berjilbab lalu lalang –atau bahkan melihat-lihat– toko peralatan seks (sex shop), desah rayuan perempuan di Red Light District bersahutan dengan genta gereja..

Coffee shop dan Red Light sepertinya memang jadi merk dagang Amsterdam. Buktinya, aneka souvenir di ibu kota Belanda ini berisi tulisan atau pesan tentang dua hal tersebut. Kaos-kaos tentang ganja dan gemerlap dunia malam tak hanya mudah ditemukan tapi juga mendominasi toko-toko souvenir yang berderet-deret sepanjang jalan.

Continue reading “Let's Stoned, Drunk, and Horny in Amsterdam”

Mudahnya Masuk Negeri Belanda

Yes. Akhirnya kami sampai juga di Belanda Sabtu pagi sekitar pukul 9 waktu Belanda. Setelah terbang selama sekitar 14 jam, termasuk transit dua jam di Kuala Lumpur, Malaysia, pesawat Malaysia Airlines kami mendarat di Bandara Schipol, Belanda.

Ada 18 orang dalam rombongan ini. Kami semua anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang akan mengikuti kursus new media di Hilversum, Belanda. Kursus di Radio Nederland Training Centre (RNTC) ini diadakan oleh AJI Jakarta dan Neso Indonesia.

Continue reading “Mudahnya Masuk Negeri Belanda”

Oalah. Ternyata Sumba Itu…

Tiap kali mendengar nama Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terlintas di kepalaku selama ini adalah pantai. Tidak tahu juga. Mungkin karena beberapa teman pernah bercerita soal ombak di sana yang bagus untuk selancar. Setahuku, turis juga suka datang ke pulau ini untuk menikmati ombaknya.

Maka, ketika akhirnya aku ke sana Rabu lalu, aku masih mikir soal pantai ini. Aku bayangkan akan bisa tinggal di dekat pantai menikmati deburan ombak. Lalu, pada pagi harinya bisa liputan. Kalau ini yang terjadi maka akan jadi kombinasi yang tepat antara bekerja dan jalan-jalan.

Tapi, apa yang aku alami ternyata jauh dari yang aku bayangkan.

Continue reading “Oalah. Ternyata Sumba Itu…”

Remembering an innovative rights advocate

Published @ Asia Catalyst Blog

After three weeks of hospitalization, Bali and Indonesia’s best-known drug user rights advocate I Gusti Ngurah Wahyunda passed away in early March. Wahyu, 31 years old, was the founder of the Indonesian Drug User Solidarity Association (IDUSA) and coordinator of Ikatan Korban Napza (IKON), a network of drug victims in Bali.

I honor him as a friend, activist, and an innovative fighter who built a movement to defend the human rights of drug users.

Continue reading “Remembering an innovative rights advocate”

Keluarga Kecil di Sel Nomor 9

Lapas Anak Gianyar di Karangasem

Foto selebar tangan orang dewasa itu digantung di dinding kusam sel nomor 9 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Gianyar di Karangasem, Bali. Di dalamnya ada dua wajah: seorang kakek berumur 70an tahun dan anak perempuan sekitar 10 tahun. Foto itu menjadi salah satu penghias sel berukuran sekitar 5×3 meter persegi tersebut. Di sel itu, Roni dan dua temannya dikurung.

“Mereka yang menguatkan selama saya di sini,” kata Roni, 16 tahun, sambil menunjuk kakek dan adiknya di dalam foto tersebut. Remaja kelahiran Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengambil foto itu dari gantungan. “Saya harus bertemu mereka kalau keluar nanti. Kalau tidak ketemu mereka, hancur hidup saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Continue reading “Keluarga Kecil di Sel Nomor 9”