Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi

Ketika pertama kali dikasih tahu Lode, istriku, aku tak terlalu peduli. “Kok bisa sih kamu pakai RBT BCL,” katanya. RBT singkatan dari ring back tone, nada tunggu yang terdengar si penelpon jika dia menelpon kita. Kalau RBT normal yang terdengar adalah suara panjang, tuuut, maka dengan adanya RBT tersebut suaranya akan berganti.

Adapun BCL singkatan dari Bunga Citra Lestari, model yang juga penyanyi dan artis sinetron. Sukses jadi bintang shitnetron, eh, sinetron, BCL kemudian ikut menyanyi dengan lagu yang bertema sendu. Kecantikan BCL sih memang jelas masuk selera semua orang. Tapi lagunya, aduh, nanti dulu. Aku jelas tidak suka dengan lagu-lagunya.

Continue reading “Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi”

Tulisan Berkurang, Kegiatan Bertambah

Ini sekaligus semacam refleksi, meskipun terlambat, tentang blogging ataupun kegiatan Bali Blogger Community (BBC) selama tahun 2009. Sebab tema ini pula yang kami diskusikan pada siaran di Radio Bali FM, Minggu malam kemarin. Siaran bertema Refleksi Blogging di Tahun 2009 tersebut merupakan siaran perdana di tahun 2010.

Aku ikut siaran semalam bersama dr Oka Negara dan Winarto. Januari ini merupakan bulan keempat sejak siaran perdana pada 4 Oktober lalu. Wah, tak terasa. Ternyata sudah empat bulan BBC siaran di Bali FM tiap Minggu malam.

Continue reading “Tulisan Berkurang, Kegiatan Bertambah”

Mujahir Goreng yang Bikin Ketagihan

Selain keindahannya, Danau Batur di Kintamani, Bangli juga menghasilkan ikan muhajir, eh, mujahir yang bisa dipanen sepanjang musim. Ikan tawar ini dibudidayakan petani setempat menggunakan keranda keramba di danau. Karena itu, salah satu yang membuat Kintamani tersohor adalah menu ikan mujahir gorengnya.

Ini pula yang membedakan Danau Batur dengan Bedugul. Meski di Bedugul ada tiga danau, namun tak satu pun dari danau itu yang digunakan untuk budidaya ikan mujahir. Di Bedugul saya belum pernah menemukan warung yang menjual ikan mujahir goreng. Padahal di  Kintamani justru banyak sekali.

Continue reading “Mujahir Goreng yang Bikin Ketagihan”

Berkaca, Berencana, Bekerja!

Rapat Akhir Tahun Sloka Institute

Kami mengakhiri tahun 2009, untuk kemudian mengawali tahun 2010, di tepi Danau Batur, Desa Toyabungkah, Kecamatan Kintamani, Bangli. Ibaratnya sambil menyelam minum air. Sebab tak hanya lari dari keriuhan Denpasar saat perayaan pergantian tahun, kami sekalian merencanakan program Sloka Institute setidaknya untuk satu tahun ke depan.

Lokasi ini berada di dekat Danau Batur, Kintamani. Perlu waktu sekitar 1,5 jam dari Denpasar untuk ke tempat ini. Dari Penelokan, titik di mana wisatawan biasa menikmati Danau dan Gunung Batur, kami turun menempuh jalan agak berkelok. Di akhir turunan ini di Desa Kedisan, akan ada pertigaan. Toyabungkah ke arah kiri melewati batu-batu hitam berukuran sampai setinggi 2-3 meter sepanjang jalan. Ini jadi pemandangan tersendiri menuju lokasi.

Continue reading “Berkaca, Berencana, Bekerja!”

Selebihnya, Biarkan Koin yang Bicara

Koin untuk Prita

Selasa ini, ribuan koin seberat 18,5 kg telah aku kirimkan lewat jasa titipan kilat Tiki Denpasar. Dari sisi nominal, koin itu mungkin tak banyak, Rp 1.955.776 plus 2 dollar dan 40 cent Singapura. Namun lihatlah maknanya: kami semua peduli pada orang-orang kecil korban peradilan..

Ribuan koin itu mengalir dari berbagai kelompok di Denpasar. Anak-anak SD dan guru, pemuda partai politik, mahasiswa, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), ibu rumah tangga, blogger, dan lain-lain. Mereka mengumpulkannya melalui beberapa simpul antara lain Sloka Institute, Bali Orange Communication, Manikaya Kauci, dan lain-lain.

Continue reading “Selebihnya, Biarkan Koin yang Bicara”

Madu di Gunung, Garam di Kota

Ada dua oleh-oleh yang bisa dibawa sepulang dari Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU) di Nusa Tenggara Timur, madu dan garam. Keduanya dijual di tepi jalan. Harganya juga murah meriah.

Oya, tapi sebelum dilanjut, aku juga baru tahu. Sebenarnya ada oleh-oleh yang lebih menarik dari sekadar madu dan garam. Oleh-olehnya berupa aneka rupa kerajinan lokal yang dijual tak jauh dari pasar terbesar di Kefa. Sayangnya aku baru tahu ketika sudah meninggalkan kota itu. Jadi aku cuma bisa bawa madu sebagai oleh-oleh.

Continue reading “Madu di Gunung, Garam di Kota”

Semuanya Susah: Makan, Listrik, dan Bensin

Salah satu bagian menarik dari perjalanan ke sebuah tempat adalah menikmati makanan setempat. Begitu pula dalam perjalanan ke Timor Tengah Utara (TTU), kabupaten di Nusa Tenggara Timur ini. Sayangnya, aku harus kecewa karena tak menemukan makanan khas tersebut.

Cara paling gampang mencari makanan khas itu, tentu saja, adalah warung. Tapi tak ada sama sekali warung yang menjual makanan khas. Sepanjang perjalanan dari Kupang ke Kefamenanu, ibukota Kabupaten TTU, aku sudah terus bertanya ke sopir yang menjemputku. Begitu pula pada orang-orang yang aku temui pas di Kefa. Jawabannya sama: tidak ada warung yang menjual masakan khas Kefa.

Continue reading “Semuanya Susah: Makan, Listrik, dan Bensin”

Hangatnya Salam, Pahitnya Sirih

Makan Sirih di TTU

Setelah menempuh perjalanan naik turun dan berkelok-kelok dengan sepeda motor sekitar satu jam dari Kefamenanu, kami mulai masuk kawasan hutan. Agus, teman dari Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) yang menyetir sepeda motor itu bercerita sedikit horor. “Hutan ini ada yang menunggu. Kita harus sopan kalau lewat sini. Kalau tidak, kita akan dapat masalah,” kurang lebih begitu katanya.

Agus melanjutkan cerita. Mantan Petugas Lapangan di Desa Tuntun, Kecamatan Mimaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pernah pulang malam, sekitar pukul 8. Di tengah hutan, motornya tiba-tiba mati tanpa dia tahu apa sebabnya. Maka, dia menghaturkan rokok dan bilang permisi pada penunggu hutan lebat itu. Ajaib. Motornya hidup kembali.

Continue reading “Hangatnya Salam, Pahitnya Sirih”

Kini Petani yang Memegang Kendali

Petani TTU

Pelajaran menarik dari liputan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur 4-6 Desember lalu adalah tentang bagaimana petani membalik posisi mereka. Dari yang semula tergantung pada tengkulak dan dicurangi pembeli kini mereka yang memegang kendali atas politik dan ekonomi.

Semua kekuatan itu diperoleh setelah mereka sadar bahwa kekuatan-kekuatan mereka terlalu kecil kalau melawan dengan jalan masing-masing. Maka mereka pun memadukan kekuatan-kekuatan kecil itu jadi satu kekuatan bersama, organisasi petani.

Continue reading “Kini Petani yang Memegang Kendali”