Komunikasi dalam Islam yang Toleran

Ketika kekerasan atas nama agama kian akrab, tulisan ini sangat relevan.

Sebab, aku masih yakin bahwa Islam yang aku kenal tidaklah diwakili orang-orang berteriak Allahu Akbar sambil membunuh orang meski berbeda keyakinan. Karena itu, tulisan Syafiq Basri Assegaff, Dosen Ilmu Komunikasi dan Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, di Kompas ini sangat penting untuk disimpan dan disebarluaskan.

Continue reading “Komunikasi dalam Islam yang Toleran”

Perbanyak Semut untuk Menandingi Gajah


Kita tak punya modal melawan gajah. Maka, cukuplah perbanyak semut. Setidaknya dia akan memberikan pilihan.

Ini bukan soal hewan-hewan koleksi di kebun binatang. Ini soal strategi membuat wacana berbeda di antara media-media arus utama di Bali. Sebab, kurangnya media alternatif itu membuat suara-suara alternatif masyarakat sipil juga tak terlalu muncul di media.

Continue reading “Perbanyak Semut untuk Menandingi Gajah”

Kelas Beranda offers an alternative learning place

While sitting on the floor, Wayan Samah wrote about education in Bali in his notebook.

“The cost of education in Bali is too expensive for us. Therefore, we can’t get a formal school education,” he writes.

Continue reading “Kelas Beranda offers an alternative learning place”

Memberi Bintang untuk Anak Kesayangan

Seminggu berjalan, kami melihat bintang untuk Bani lumayan berhasil. Setidaknya hingga minggu ini.

Bintang itu kami berikan setelah selama empat bulan sekolah TK, Bani masih juga terlihat tak menikmati kelasnya. Dia sering tak bersemangat ketika masuk kelas. Dia akan menundukkan kepala, sekali-kali minta ditemenin hingga masuk kelas, atau bahkan tidak mau ditinggal.

Continue reading “Memberi Bintang untuk Anak Kesayangan”

Cerita Warga yang Tak Biasa

Secara resmi, kami sudah menutup kelas pukul 4.30, Minggu (6/6) sore itu. Kami harus mengakhiri materi tentang blog itu 30 menit lebih awal dari jadwal. Tapi, bukannya bubar, hampir seluruh peserta malah minta kelas dilanjutkan.

Maka, hari terakhir Kelas Jurnalisme Warga di Sloka Institute, pun berlanjut. Aku, dengan senang hati, menemani sembilan peserta yang masih mau belajar tersebut bersama Eka Dirgantara dan Intan Paramitha.

Continue reading “Cerita Warga yang Tak Biasa”

Dua Kejutan di Kota Persinggahan

Kafe tempat Karl Marx pernah membaca manifesto komunisme di Belgia itu membuatku senang bukan kepalang. Inilah kejutan kedua mampir di Brussels, Belgia.

Kejutan sebelumnya adalah Town Hall. Bangunan berumur lebih dari 600 tahun ini berada di tengah Grand Palace, kawasan paling populer di Brussels, ibukota Belgia. Jaraknya tak sampai lima menit jalan kaki dari stasiun pusat Brussels.

Bangunan gothic yang dibangun pada tahun 1402 ini tak langsung terlihat ketika kami keluar dari stasiun pusat Brussels. Dia tersembunyi di antara hotel, restoran, kafe, toko souvenir, dan bangunan lain di kawasan ini. Tapi, setelah melewati hiruk pikuk turis dan sekitar tiga gang, kami sampai kawasan Grand Palace.

Continue reading “Dua Kejutan di Kota Persinggahan”

Ironi Pengemis di Kota Paris

Paris adalah ironi. Ini mungkin generalisir berlebihan. Tapi, itulah yang aku simpulkan.

“Are you speak English?” tanya seorang perempuan paruh baya padaku ketika kami baru saja sampai di depan Notre Dame, Paris, Sabtu lalu. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu memberikan kartu pos padaku.

Continue reading “Ironi Pengemis di Kota Paris”

Keluarga Kecil di Sel Nomor 9

Lapas Anak Gianyar di Karangasem

Foto selebar tangan orang dewasa itu digantung di dinding kusam sel nomor 9 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Gianyar di Karangasem, Bali. Di dalamnya ada dua wajah: seorang kakek berumur 70an tahun dan anak perempuan sekitar 10 tahun. Foto itu menjadi salah satu penghias sel berukuran sekitar 5×3 meter persegi tersebut. Di sel itu, Roni dan dua temannya dikurung.

“Mereka yang menguatkan selama saya di sini,” kata Roni, 16 tahun, sambil menunjuk kakek dan adiknya di dalam foto tersebut. Remaja kelahiran Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengambil foto itu dari gantungan. “Saya harus bertemu mereka kalau keluar nanti. Kalau tidak ketemu mereka, hancur hidup saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Continue reading “Keluarga Kecil di Sel Nomor 9”

Bagaimana Perilaku Anda Ketika Berinternet?

Sanak Saudara di Dunia Maya,

Jangkang Research Institute dan Sloka Institute bekerjasama untuk mengadakan survei independen bertema ”Profil dan Perilaku Pengguna Internet di Bali”. Survei ini akan dilakukan pada pengguna internet di 9 kabupaten/kota di Provinsi Bali. Hasil dari survei ini diharapkan mampu memberikan gambaran dan informasi mengenai perilaku pengguna internet dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

Untuk sampai pada tujuan tersebut, kami mohon bantuan untuk mengisi dan menjawab setiap pertanyaan yang sudah tersedia di lembar kuesioner ini. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/i merupakan kunci keberhasilan survei ini. Atas kerjasama, dukungan dan bantuan dari Bapak/Ibu/Sdr/i, kami ucapkan terima kasih.

Salam
Jangkang Research Institute dan Sloka Institute

Continue reading “Bagaimana Perilaku Anda Ketika Berinternet?”

Hukuman itu Benar-benar Tak Sepadan

Mereka harus menghadapi dua kali hukuman. Pertama mereka dikurung dalam penjara. Itu tak mudah bagi mereka di usia yang masih anak-anak. Sehari-hari hanya bergerak di areal tak lebih dari luas lapangan sepak bola. Kedua, mereka juga harus menghadapi gelapnya harapan. “Mau kerja apa kalau kami pernah dipenjara. Pasti tidak ada yang mau menerima,” kata salah satu di antara mereka.

Aku menemui anak-anak itu hari ini di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Gianyar di Karangasem. Namanya memang begitu, Lapas Anak Gianyar. Ini satu-satunya Lapas anak di Bali. Lokasinya di Karangasem, sekitar 80 km di timur Denpasar.

Continue reading “Hukuman itu Benar-benar Tak Sepadan”