Bani Sang Juru Kunci

Jaket sudah kupakai. Tas sudah di punggung. Aku siap berangkat kerja pagi ini. Tapi pas aku cari-cari kunci motor ternyata tidak ada. Padahal aku ingat terakhir kali kunci itu ada di dapur, di tempat biasa.

Aku lalu mencarinya di semua tempat yang mungkin ada. Meja makan yang merangkap meja kerja di ruang depan. Dinding tempat biasa menggantung kunci. Bupet kecil di kamar utama. Meja kecil di kamar itu juga. Lemari. Saku celana. Saku jaket. Tapi nihil. Kunci itu tidak ada di sana.

Continue reading “Bani Sang Juru Kunci”

Happy Birthday, Our Beloved Bani

Tak ada kue ulang tahun yang mewah malam ini. Karena krisis keuangan internasional yang sedang terjadi di negara adi daya Amrik sana juga ternyata berimbas ke ekonomi mikro keluarga kami. Hehehe..

Kami membatalkan beberapa rencana. Pertama, niat untuk beli hutan hitam alias black forest di Tante Ninok tidak jadi. Maaf, ya, Tante. Kapan-kapan deh Bani beli kue ultah di Tante sekalian kapling hutan hitam di sana. Lumayan kan untuk mencegah dampak climate change pada keluarga. Hwahahaha..

Continue reading “Happy Birthday, Our Beloved Bani”

Demonstran Sejati Sejak Bayi

Ribuan orang di Bali ikut aksi menolak Rancangan Undang-undang Pornografi Rabu lalu. Bunda ikut di dalamnya. Sayang, Bani tak diajak serta. Padahal Bani juga punya beberapa alasan untuk menolak RUU ini.

Alasan itu, misalnya, buat apa punya tubuh bagus kalau bukan untuk diperlihatkan pada orang. Itu kan bagian dari cara mensyukuri nikmat Tuhan. Masak malah dilarang? Kalau orang lain terangsang, ya itu urusan dia. Jaga pikiran dong biar kalian tidak melihatnya dengan ngeres.

Continue reading “Demonstran Sejati Sejak Bayi”

Lalu, Dia Terlelap Bersamaku

Hampir pukul 1 pagi. Aku sedang nglembur untuk beberapa kerjaan yang lewat deadline. Asik di depan komputer.

Bani nangis, bangun di sela tidurnya. Jam biologisnya bekerja seperti biasa, minta susu. Kalau tengah malam begini, apalagi Bunda sudah terlelap, giliranku bikin susu.

Continue reading “Lalu, Dia Terlelap Bersamaku”

Nikmat Berbuka Bersama Nengah Panji Islam

Suara lonceng dipukul itu menandakan waktu berbuka telah tiba. Agak telat, sih. Jam di telepon genggamku sudah 18.22 Wita. Padahal waktu berbuka di Buleleng, setahuku 18.19 Wita.

Lalu minuman penutup puasa segera tiba. Lima gelas es untuk kami berlima. Aku, Bani, Bunda, Joker, dan Ervi. Di antara kami berlima, hanya aku yang puasa. Tapi, tanpa wajah berdosa, empat lainnya menghabiskan minuman segar itu juga. Hehe..

Continue reading “Nikmat Berbuka Bersama Nengah Panji Islam”

Oyu Sambil Monyongin Bibir

Lama juga gak nulis soal Bani. Jadi ya kali ini soal Bani saja. Tapi mulai dari mana ya? Umur? Ah, basi banget.

Baiklah. Aku mulai dari kata apa saja yang sudah bisa diucapkannya, meski tidak jelas benar. Oyuu adalah kata aneh yang diucapkan Bani dengan memonyongkan bibir ke depan. Kata ini dia ucapkan pertama kali ketika kami dalam perjalanan antara Salatiga – Jogja usai main ke sekolah alternatif Qaryah Thayyibah Juni lalu.

Kata ini selalu diucapkan Bani kalau ditanya, “Bilang apa?” usai dia mendapat sesuatu dari orang lain. Oyuu adalah bahasa Bani untuk Thank you. Aneh juga. Meski sudah diajarin berkali-kali untuk bilang “Terima kasih”, Bani lebih suka bilang “Oyu” sambil monyongin bibir itu tadi.

Continue reading “Oyu Sambil Monyongin Bibir”

Pagi di Sawah Seberang Kali

Baru sekitar pukul 6.30 pagi. Tapi Wira, tetanggaku anak kelas II SD yang lagi libur sekolah hari ini, sudah berterika-teriak di depan rumah. “Ooom, jadi ke sawah kan?”

Hari Minggu lalu, aku, Bani, Wira, Wayan, dan Bondres main ke sawah pagi-pagi. Tiga anak kecil, mereka kelas I dan II SD, tetangga di gang kecil Jalan Subak Dalem Denpasar Utara itu ternyata senang bukan kepalang. Mereka nyebur sawah, mengejar bebek, cari belut, dan seterusnya.

Continue reading “Pagi di Sawah Seberang Kali”

Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran

Setelah sempat panas, hari ini suhu badan Bani kembali turun. Meski batuknya masih saja mengganggu, Bani terlihat lebih sehat. Dan, seperti ditulis Bunda, Bani memang lagi seneng-senengnya jadi pengikut setia ayahnya. Hehe..

Mumpung ngomongin Bani, aku jadi pengen nulis soal anakku ini. Lama juga tidak nulis soal Bani. Apalagi kemarin (23/5) adalah persis 20 bulannya Bani.

Memang tidak terasa. Bani Nawalapatra, anak kami sudah berumur 20 tahun bulan. Rasanya baru kemarin dia dibawa keluar dari ruang operasi. Seperti baru kemarin aku menanam ari-arinya yang kubungkus dengan kertas koran berisi bola dunia dan pulpen. Tapi ya begitulah. Anakku pelan-pelan tumbuh sebagaimana dia seharusnya tumbuh.

Continue reading “Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran”

Ketika Bani Sakit Lagi

Sore ini suhu tubuh Bani kembali panas. Padahal tadi pagi panasnya sudah normal. Dia juga sudah main sama aku setengah hari tadi. Bahkan, setelah hampir lima hari tidak mandi, tadi pagi akhirnya Bani mandi juga meski pakai air hangat. Tapi, entah kenapa, sore ini suhu tubuhnya kembali panas.

Aku jadi khawatir. Soalnya sudah sejak Minggu lalu Bani sakit. Tubuhnya panas. Batuk-batuk. Dan sering banget muntah. Bawaannya juga cengeng. Nangis terus.. Parahnya lagi dia malas minum susu, menolak makanan, juga obat.

Continue reading “Ketika Bani Sakit Lagi”