Untung Bani Nangis Pagi Ini

Pas aku mau berangkat ke tempat kerja part time hari ini, Bani agak rewel. Padahal dia biasanya dengan senang hati dada-dadain tangan sambil bilang, “Mmmuah!”. Maka dengan senang hati aku anterin jalan-jalan dulu.

Kami jalan-jalan keluar gang lalu belok kiri ke arah sawah-sawah. Jalan Subak Dalem, di mana kami tinggal, masuk kawasan baru di Denpasar Utara. Jadi masih banyak sawah. Seperti biasa, kami naik motor. Bani di depan berdiri dengan girang.

Sampai sekitar 3/4 panjang jalan beraspal itu, kami berhenti. Biasanya sih aku melihat gunung Agung atau gunung Batukaru dari sini. Dengan sawah-sawah yg masih hijau di latar depan dan gunung-gunung itu di latar belakang. Aku menikmati suasana begini paspagi, sekitar pukul 7, atau sore, sekitar pukul 6.30. Tapi karena hari ini agak mendung, jadi dua gunung itu tertutup mendung. Juga kabut.

Maka, aku melihat ke kiri. Dan, waaaaah, ada pelangi. Ternyata keren banget..

Menatap Puing, Mengingat Rusuh

Sore tadi aku jalan-jalan sama Bani ke Taman Kota Denpasar dekat Lapangan Lumintang Denpasar utara. Meski namanya keren, “Taman Kota”, tempat ini tak lebih dari lapangan kosong dengan pohon-pohon yang baru ditanam. Ada beberapa petak tanah luas dengan semak-semak tidak terurus di pinggir lapangan.

Meski tidak seramai di Lapangan Puputan Renon atau Puputan Badung, namun sore itu puluhan orang lain juga sedang berjalan-jalan di sana. Ada yang sekadar lari, jalan-jalan, sepak bola, main skate board, atau malah jalan-jalan sama anjing. Aku dan Bani sih jalan sambil cuci mata. Mumpung tidak ada Bunda, jadi kami bebas jadi laki-laki. Hehehe..

Jalan-jalan di tempat itu, aku masih bisa melihat puing-puing sisa kerusuhan di Denpasar pada 1999 lalu. Maka, sambil jalan-jalan sore itu, aku jadi inget peristiwa tujuh sembilan tahun lalu itu.

Continue reading “Menatap Puing, Mengingat Rusuh”