Menunggang Kuda Troya Bermandi Cahaya

0 Permalink 0


Kota Probolinggo ternyata memberikan kejutan menarik.

Padahal niat kami hanya sekadar mampir di kota ini setelah kembali dari Bromo sebelum lanjut ke Lamongan, kampung halaman. Apalagi, sebatas yang kami tahu, pariwisata di kota ini tidak terlalu terkenal.

Namun, sore itu kami menemukan lokasi jalan-jalan yang asyik. Pake banget.

Nama tempatnya Bee Jay Bakau Resort (BJBR). Nama yang agak maksa sih. Campur-campur antara bahasa Inggris dan Indonesia. Cuma sekali lagi, tempatnya asyik.

Lokasi BJBR ini di pinggiran pantai sisi utara kota. Dari Terminal Probolinggo, kawasan di mana kami menginap, perlu sekitar 30 menit dengan bemo. Karena susah dapat transport daring, Grab ataupun Gocar, jadi kami naik bemo saja. Rp 100 ribu bolak-balik. Murah meriah.

BJBR memang ada di kawasan hutan bakau. Dulunya kawasan ini merupakan tempat muara sungai. Seperti muara sungai umumnya di Jawa, tempat ini pun dulunya kumuh. Banyak sampah berakhir di sini bercampur dengan lumpur.

Apa yang kami temukan sore itu berbeda sama sekali dari dulu.

Tempat ini sudah tertata rapi. Muara yang dulu jadi tempat sampah dan lumpur sudah berubah menjadi tempat wisata cantik kebanggan warga setempat.

Sejak dari pintu masuk, ikon-ikon wisata kekinian sudah menyambut: semacam pintu gerbang berbentuk jantung raksasa warna-warni. Pengunjung yang datang akan melewati pintu ini. Sambutan yang mengesankan di tengah hutan bakau.

Kami menyusuri jembatan kayu membelah hutan bakau. Panjangnya kira-kira 2 km dengan hutan bakau di kanan kirinya. Sepanjang jalan itu terdapat beberapa tempat seperti restoran, pondokan, atau sekadar tempat rehat.

Sebagai orang yang sering nulis lingkungan tetapi bukan ahli bakau, aku sih melihatnya bagus saja. Kenapa? Karena jalur pedestrian yang dibuat mengikuti alur tempat terbuka di tengah hutan. Bukan dengan membuat jalur baru yang memotong bakau.

Tempatnya juga terlihat bersih. Tempat sampah sepanjang jalan. Hutan bakau tetap terjaga dan malah tertata. Jalur jalan-jalan juga dominan di pinggir hutan bakau. Bagian kiri laut terbuka dan kanannya hutan bakau yang masih rapat dan rimbun.

Bagian paling asyik, menurutku ada di ujung jembatan kayu itu. Kuda troya raksasa setinggi kira-kira 7 meter. Kuda ini terbuat dari kayu. Berdiri persis di ujung jembatan. Untuk masuk ke perut dan menunggang kuda ini perlu bayar lagi, Rp 10.000. Ini biaya tambahan selain tiket masuk Rp 20.000 pas hari biasa, bukan akhir pekan atau liburan.

Dari punggung kuda troya ini terlihat hutan bakau lebih leluasa. Hamparan pohon bakau masih terlihat menghijau dan rapat di sisi selatan. Di sisi utaranya laut terbuka luas. Udara pantai yang menyegarkan..

Puas melihat luasnya hutan bakau kami turun di dermaga tempat di mana kuda troya berada. Petang itu, seiring gelap yang mulai turun, kami disambut bulan yang nyaris sempurna bulatnya. Kok ya pas banget kami dapat purnama.

Kami kembali menyusuri jembatan untuk keluar. Maghrib sudah lewat. Suasana makin gelap. Namun, itu justru menampilkan sisi lain BJBR yang tidak terlihat saat terang ketika kami datang tadi, pendar cahaya penuh warna-warni. Bentuknya juga unik-unik.

Tanpa kami sadari sebelumnya, petang memang waktu terbaik untuk menikmati tempat ini.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *