Matinya Regenerasi Komunitas Blogger (Bali)

2 , , Permalink 0

Perempuan Bali Blogger
Mari merayakan Hari Blogger Nasional sambil mengelus dada.

Hari ini, blogger Indonesia merayakan Hari Blogger Indonesia. Hari Blogger diperingati pertama kali pada tujuh tahun silam. Ketika itu para blogger dari berbagai daerah berkumpul di Jakarta dalam Pesta Blogger Indonesia.

Sebelum marak media sosial semacam Facebook dan Twitter, blog memang pernah menjadi tren. Menulis di blog, berkunjung ke blog orang lain, saling berkomentar, dan seterusnya pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Menjadi candu malah.

Maraknya blog diikuti dengan lahirnya berbagai komunitas blog di kota-kota dari timur ke barat Indonesia. Bali Blogger Community (BBC) salah satunya.
Di antara komunitas blogger lain di Indonesia, Bali Blogger mungkin bisa disebut sebagai generasi kedua.

Menurutku, generasi pertama komunitas blogger Indonesia itu semacam Loenpia Semarang, Cah Andong Jogjakarta, dan Anging Mamiri Makassar.

Setelah itu bermunculan berbagai komunitas blogger termasuk Bali, Surabaya, Palembang, Medan, Palangkaraya, dan seterusnya. Tiap daerah punya komunitas blogger masing-masing. Mereka hidup. Dinamis. Banyak kegiatan.

Seperti halnya ngeblog, komunitas blogger pernah begitu mewarnai dunia maya dan nyata. Tapi, itu dulu. Ya, sekitar 4-5 tahun lalu.

Saat ini, dari pengamatan sekilas, komunitas blogger sepertinya antara ada dan tiada. Beberapa komunitas sih masih aktif. Tapi, jumlahnya tak terlalu banyak. Sebatas yang aku lihat hanya AM dari Makassar dan Plat M Madura. Komunitas ini sih memang paling hidup. Mereka selalu berhasil membuat iri.

Selebihnya, sekali lagi antara ada dan tiada.

Cara paling mudah mungkin dari website mereka. Tugu Pahlawan Surabaya kemasukan spammer entah dari mana dengan tulisan tidak jelas. Cah Andong Jogjakarta menulis terakhir empat tahun lalu seperti juga komunitas Wong Kito Palembang. Flobamora dari NTT menulis terakhir April lalu.

Aku tidak memeriksa detail semua komunitas blogger daerah di Indonesia. Tapi, komunitas-komunitas di atas mungkin bisa mewakili.

Mati surinya komunitas blogger lokal bisa juga dilihat dari pengurusnya yang itu-itu saja. Nama-nama yang muncul masih orang lama, orang sama yang aktif sejak awal berdirinya. Sepertinya kurang regenerasi.

Bukti paling nyata dari tidak updatenya website dan tidak ada regenerasi ya di Bali. Hampir delapan tahun berdiri, makin sepi saja kegiatan komunitas ini. Paling hanya ulang tahun atau kegiatan rutin Bloody Valentine. Selebihnya sepi sekali, di mailing list atau group sekali pun.

Tak ada lagi keriuhan dan kehangatan yang dulu kami nikmati bersama.

Agak putus asa juga sih. Sudah mencoba beberapa cara, misalnya mendorong anak-anak muda untuk lebih aktif, nyatanya yang muda-muda kurang mau mengurus. Membuat jadwal pengisi website Bali Blogger pun tak jalan juga.

Pada akhirnya ya biarkan saja. Pasrah. Begitulah risiko komunitas. Ada tidak adanya tergantung mereka yang ikut di dalamnya. Jika memang makin sepi, berarti memang sudah tidak menarik lagi. Yang penting tidak mati saja. ?

Jadi, selamat merayakan Hari Blogger Nasional. Selamat menunggu matinya komunitas blogger di kota masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published.