ACMSEA, Bayi Baru untuk Memperluas Advokasi

0 , , , Permalink 0

Senang sekali bisa menjadi salah satu bidan.

Kali ini kami melahirkan jaringan baru pegiat media komunitas Asia Tenggara, Alliance of Community Media in Southeast Asia (ACMSEA). Semoga tak sekadar lahir lalu mati. ๐Ÿ˜

Tempat kelahiran ACMSEA di Chiang Mai, kota kreatif di Thailand bagian utara. Kota dekat perbatasan dengan Myanmar ini dikenal juga sebagai tempat tumbuh suburnya komunitas, termasuk media-media komunitas.

Lahirnya ACMSEA sekaligus menutup program yang berjalan sejak tahun lalu, Southeast Asia Community Media Network. Program ini mempertemukan 30 media komunitas dari tujuh negara Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar, Thailand, dan Kamboja.

BaleBengong menjadi salah satu program yang dilaksanakan CFI, lembaga dari Perancis yang mendukung pengembangan media di negara-negara Selatan. Kami ikut bersama tiga media komunitas lain dari Indonesia: DeGorontalo, Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), dan Noong Bandung.

Pelaksana program ini di tingkat regional adalah Foundation for Community Educational Media (FCEM), lembaga yang berkantor di Bangkok. Karena itu, semua kegiatan diadakan di Thailand, dua kali di Bangkok dan sekali di Chiang Mai.

Ada tiga kegiatan utama program Southeast Asia Community Media Network. Pertama, berbagi pengalaman masing-masing pada Juli 2017 di Bangkok. Kedua, pelatihan mengelola media komunitas pada Oktober 2017. Terakhir, penutupan dan pembentukan jaringan media komunitas Asia Tenggara.

Selama kegiatan penutupan di Chiang Mai pada 15-17 Januari 2018 para peserta memang sudah diarahkan untuk mendiskusikan bagaimana jaringan baru ini akan terbentuk. Selama tiga hari kami mendiskusikan semua isu tentang jaringan ini, seperti nilai bersama, bentuk jaringan, struktur, program kerja, sampai nama jaringan.

Pada hari pertama kami mengevaluasi program yang sudah berjalan sekaligus mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru melalui jaringan. Ada diskusi bersama Southeast Asian Press Alliance (SEAPA), Global Voice, dan JRKI. Hasil diskusi lalu jadi bekal membahas topik selanjutnya: prinsip dan nilai jaringan.

Pada hari kedua kami membahas pengurus dan badan pekerja. Pengurus ini akan bekerja hingga tiga bulan ke depan untuk menyiapkan kongres pertama jaringan, sebagai forum tertinggi untuk membentuk pengurus permanen dalam satu kali periode kepengurusan.

Ndilalah aku jadi korban. Ditodong sebagai koordinator pengurus sementara ini.

Pada hari ketiga kami membahas nama aliansi dan rencana program lebih detail. Beberapa pilihan nama muncul sampai kemudian kami sepakat dengan nama ACMSEA, dibaca e-s-em-si. Tok. Tok. Tok! Nama pun diresmikan.

Terus apa kemudian?

Aku sih berharap jaringan ini bisa memperluas advokasi terutama untuk media-media komunitas di kawasan Asia Tenggara. Sebab, setahuku, selama ini belum ada jaringan advokasi khusus untuk media-media komunitas di kawasan ini. Padahal, sebagaimana kami diskusikan sejak tahun lalu, media-media komunitas di Asia Tenggara masih menghadapi banyak tantangan.

Isunya berbeda-beda.

Mari mulai dari yang paling parah, Vietnam. Aktivis dari negara ini harus pergi diam-diam untuk bisa ikut pertemuan. Sebagian aktivisnya terpaksa tinggal di luar negeri karena alasan keamanan. Ada pula yang terpaksa mengakali dengan tidak langsung ke negaranya lewat jalur udara agar tidak mudah terdeteksi.

Rezim komunis di Vietnam memang kejam. Mereka dengan tega bisa langsung menangkap dan memenjarakan aktivis yang dianggap membahayakan negara.

Media komunitas di Kamboja setali tiga uang. Negara ini memang makin lalim termasuk menangkapi pihak oposisi dan memenjarakan mereka. Diskusi politik yang diadakan teman-teman media komunitas pun terpaksa tiarap setidaknya sampai pemilihan umum Maret 2018 nanti.

Filipina, Thailand, Myanmar, Malaysia? Mereka tak jauh beda. Indonesia relatif lebih bebas tetapi tetap saja makin hari makin serem ketika pengguna Internet makin sering jadi korban kriminalisasi.

Dengan kondisi begitulah, semoga bayi baru bernama ACMSEA ini bisa menjadi jaringan untuk memperluas advokasi. Kalau ada yang bermasalah, setidaknya ada yang mulai memberikan solidaritas dan syukur-syukur memberikan tekanan kepada negara.

Pertanyaan selanjutnya: sejauh mana punya amunisi untuk konsisten melakukan advokasi? Nah, itu pekerjaan rumah lain lagi. Kita lihat sambil jalan saja nanti.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *