Malam Perayaan Suara-suara Warga

0 , Permalink 0

Pesta malam ini termasuk sederhana.

Kami, sekitar seratus orang, berkumpul di halaman Taman Baca Kesiman (TBK) Denpasar. Tidak hanya ngobrol dan makan-makan tapi juga mendengar suara yang jarang terdengar.

Meskipun diadakan malam-malam, nama acaranya Citizen Journalism Day. Dia menjadi puncak dari kegiatan selama kurang lebih sebulan dari kegiatan besar Citizen Journalism Award.

Kegiatan ini untuk pertama kali kami adakan. Pengennya sih memberikan apresiasi untuk para kontributor BaleBengong yang rajin menulis ataupun baru menulis. Biar lebih banyak peminatnya, kami sekalian lombakan saja.

Ada 44 karya dalam empat kategori yaitu teks, foto dan ilustrasi, video, dan suara. Kategori terakhir itu yang pertama kali kami berikan ruang, karya-karya jurnalistik dalam format audio.

Semua karya kemudian dinilai tiga juri dari latar belakang berbeda: I Wayan Juniarta, wartawan; Asana Viebeke, pegiat filantropi dan pendukung utama kegiatan; serta Roberto Hutabarat, aktivis dan mantan pegiat pers mahasiswa.

Aku sendiri kebagian mengedit semua naskah tersebut sebelum diterbitkan di BaleBengong. Jadi, meskipun bukan juri, aku tetap bisa membaca dan menilai karya-karya tersebut.

Kami memang sengaja edit karya-karya peserta sebelum diterbitkan. Itu sudah standar di BaleBengong. Karena itu pula, dalam lomba ini, kriteria gaya bahasa tidak masuk dalam penilaian.

Membaca karya-karya itu, senang sekali rasanya. Bahagia dan bangga.

Dari sisi jumlah memang “hanya” 44 karya. Tapi, isinya amat berkualitas dan beragam. Hal lebih penting, karya-karya itu bisa menyampaikan suara-suara yang selama ini tak terdengar, sesuatu yang sejak lama kami perjuangkan lewat media jurnalisme warga.

Ada yang menulis isu-isu sensitif, semacam agama dan identitas di Bali. Ada juga tentang desanya yang mengalami krisis air, tetangga yang tak lagi bebas mengakses pantai karena pembangunan lapangan golf, juga warung kopi langganannya.

Hal terbaik dari semua karya itu, menurutku, adalah kedekatan pembuatnya dengan apa yang mereka ceritakan. Pada saat yang sama, ada pembelaan yang kuat terhadap “korban-korban” dalam narasi itu.

Begitulah seharusnya media jurnalisme warga, bercerita tentang kelompok rentan disertai pembelaan.

Malam itu, sebagian pembuat karya itu bertemu di Taman Baca Kesiman. Kami sekalian buat bareng dengan perayaan ulang tahun ke-9 Bali Blogger Community (BBC). Toh yang kerja juga orang-orangnya sama.

Lengkap rasanya. Ada makan-makan. Ada reunian. Ada hahahihi. Ada juga diskusi bergizi.

Selain para kontributor BaleBengong dan blogger, ada juga warga-warga yang selama ini melakukan kerja-kerja “tak biasa” atau bahkan “luar biasa” namun tak banyak terdengar.

Ada tiga orang yang malam itu dinominasikan warga lainnya. Kadek Armika, arsitek yang membawa layang-layang Bali ke even-even skala internasional. Linda Anugerah, pekerja kemanusiaan yang membantu banyak orang. Ida Bagus Kade Suwartama, Kelian Dusun Masean, Jembrana yang menggagas penggalian korban-korban pembantaian 1965.

Tiga orang ini melakukan hal-hal luar biasa tanpa pamrih. Sebagai warga, mereka menggunakan kekuatannya untuk mengabdi pada sesama. Karena itu, mereka mendapatkan Penghargaan Warga Bersuara.

Pesta malam itu ditutup dengan penampilan band Mr HIT yang digawangi Agung Yudha serta duo ajaib Aya dan Laras dari Nusa Penida. Sayangnya aku tak bisa ikut sampai selesai karena harus lanjut ke pelatihan jurnalisme warga Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kapan-kapan semoga bisa menikmati merdu dan kerennya suara mereka. Tahun depang barangkali..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.