Tiap Orang adalah Pembawa Pesan

0 , , Permalink 0

informing the web

Dua kegiatan berbeda ini membawa pesan sama, tiap orang adalah pembawa pesan itu sendiri.

Kegiatan pertama adalah 4M Jakarta, pertemuan dua hari tentang jurnalisme, media baru (new media), dan media sosial pada 23-24 September. Kegiatan ini diadakan lembaga dari Perancis, Canal France International (CFI) bekerja sama dengan AJI Indonesia.

Selama dua hari, para praktisi media baru dari kawasan Asia Tenggara berbagi pengalaman dan ide tentang jurnalisme di dunia digital. Misalnya dari Kompas.com, Rappler.com, dan lain-lain. Peserta antara lain dari Malaysia, Filipina, Thailand, Timor Leste, dan tentu saja Indonesia. Ada peneliti, aktivis, blogger, juga jurnalis.

Aku ikut sebagai peserta dan salah satu pembicara yang berbagi pengalaman tentang jurnalisme warga.

Sebenarnya tema diskusi dua hari itu tidak baru-baru amat. Sudah sering didiskusikan dalam diskusi-diskusi tentang media baru ataupun jurnalisme di era digital. Misalnya, tentang kian berkembangnya media dalam jaringan (daring), makin kaburnya batas etika jurnalistik di media daring, serta tantangan media baru untuk bersaing dengan warga yang aktif di media sosial.

Tapi ada juga beberapa hal baru yang aku ikuti. Misalnya, tentang kian berkembangnya media-media berbasis komunitas, termasuk untuk kelompok minoritas seperti di Thailand Selatan dan Papua Barat. Di daerah-daerah konflik tersebut, media komunitas tak hanya menggunakan bentuk media lama seperti tabloid dan radio tapi juga media daring.

Internet memudahkan penyebaran media-media advokasi – bahasa halus dari perlawanan – kelompok minoritas. Di Thailand Selatan, kelompok Melayu menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami dari pemerintah. Di Papua Barat, orang-orang Papua mengabarkan diskriminasi dan intimidasi yang mereka alami dari tentara.

Dan, seperti biasa, terima kasih pada teknologi informasi. Melalui perangkat ponsel dilengkapi kamera dan aplikasi media sosial, para warga dengan mudah bisa membagi informasi yang mereka miliki. Kadang sepele, tapi banyak pula yang informasi gawat seperti penembakan oleh polisi dan tentara.

Tak cuma media komunitas, media arus utama pun kian mengandalkan informasi dari warga bersenjata ponsel dan media sosial tersebut. Jurnalisme tak lagi domain eksklusif milik para wartawan.

Kini, tiap orang adalah pembawa pesan.

Pesan sama muncul dalam kegiatan kedua yang aku ikuti, pelatihan mengemas pesan secara efektif. Kegiatan dua hari ini diadakan Perkumpulan Indonesia Bersatu (PIB) dengan VECO Indonesia, tempat kerjaku.

Peserta pelatihan adalah teman-teman dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) mitra VECO Indonesia, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Aliansi Petani Indonesia (API), Aliansi Organis Indonesia (AOI), dan lain-lain. Selama dua hari, selain menggali ide dan pengalaman dari praktisi yaitu tim kampanye Jokowi – JK dan perusahaan periklanan, para peserta juga mendiskusikan konsep kampanye masing-masing lembaga.

Media-media kampanye konvensional masih digunakan. Misalnya poster, selebaran, brosur, dan lain-lain. Media ini menjadi alat untuk menyampaikan pesan kampanye melalui teks, foto, dan grafis.

Namun, media sosial juga makin penting untuk digunakan. Dan, menurutku, ini sangat efektif. Setidaknya untuk memberitahu dan semoga nantinya bisa mempengaruhi.

Contohnya adalah Mas Tejo Wahyu Jatmiko, pemandu diskusi. Penggiat PIB ini rajin sekali mengunggah dan membagi foto tentang pangan lokal. Apa saja. Tempe, tahu, sambal, sayur asem, bebek pepes, dan semacamnya. Aku sering ngiler melihat foto-foto yang disertai teks kampanye tentang pangan lokal tersebut.

Bagiku, foto-foto dan status Mas Tejo di Facebook tersebut membawa pesan yang sangat jelas dan efektif untuk mempengaruhi dibandingkan media konvensional seperti poster dan brosur. Hal serupa kini bisa dilakukan siapa saja yang bekerja untuk membawa pesan.

Media sosial memudahkan tiap orang untuk menyampaikan pesan.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.