Kegagapan ala Orang Viet di Selatan

Dari jendela Thai Airways, ironi itu terlihat.

Di bawah sana, dari pesawat yang membawa kami dari Bangkok, Thailand ke Hanoi, Vietnam rumah-rumah terlihat menjulang tinggi. Di Bali, tinggi rumah rata-rata tak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Tapi di Vietnam tidak. Rumah atau gedung tingginya sekitar 15-20 meter.

Dari jendela yang sama menjelang pesawat mendarat di Noi Bai Hanoi, terlihat pembangunan jalan tol ataupun gedung-gedung. Selain para pekerja, mesin penderek (crane) bisa menjadi penanda betapa Vietnam sekarang sedang menggeliat dalam pembangunan.

Namun, rumah-rumah menjulang tinggi dan mesin penderek adalah dua hal yang bertolak belakang. Inilah yang menyambutku ketika tiba di Vietnam hari ini.

Continue reading “Kegagapan ala Orang Viet di Selatan”

Di Negeri Ini Kekayaan adalah Kutukan

Kejadian sekitar empat tahun lalu itu mendadak muncul di ingatan.

Waktu itu aku menemani seorang teman dari Belanda yang datang ke Bali. Kami berkunjung ke salah satu petani organik di Tabanan. Ketika melihat salah satu pohon kakao, teman itu berseru, “Wow, akhirnya aku melihat pohon coklat juga.”

Continue reading “Di Negeri Ini Kekayaan adalah Kutukan”

Kopi di Bajawa, Kakao di Nangapenda

Hari ketiga di Flores kali ini.

Tujuan pertama adalah petani kopi di Desa Beiwae, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Aku sudah pernah ke kawasan penghasil kopi arabika ini sekitar tahun 2008. Tapi, sekarang agak berbeda dibanding empat tahun lalu.

Continue reading “Kopi di Bajawa, Kakao di Nangapenda”

Papalaka, Kekuatan Bersama Mama-mama

Bau tak sedap menguap kuat.

Di hidung tercium bau seperti kotoran atau sampah. Agak-agak kecut dan busuk. Namun, bau tak sedap itu sama sekali tak menghalangi semangat ibu-ibu di Desa Malanusa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada dua hari lalu.

Continue reading “Papalaka, Kekuatan Bersama Mama-mama”

Petani Menjadi Murid Sekaligus Guru

Akhirnya sampai juga di Mbay, Flores bagian utara.

Perjalanan dari Ende, di ujung selatan Flores, ke Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Barat ini sekitar 3 jam. Rutenya sama dengan jalan di Flores pada umumnya, naik turun dan berkelok-kelok.

Meskipun sudah berkali-kali ke Flores, ini pertama kali aku ke Mbay. Sebagai kota baru, dulu bagian dari Kabupaten Ngada sebelum jadi kabupaten sendiri, Mbay tak jauh berbeda dengan Labuan Bajo, Manggarai Barat. Keramaian dan kemajuan keduanya masih kalah meskipun dibandingkan dengan ibukota kecamatan atau malah kelurahan di Jawa atau Bali.

Continue reading “Petani Menjadi Murid Sekaligus Guru”

Ironi di Balik Sejahteranya Singapura

“Singapura bukan tempat yang enak buat hidup.”

Jawaban senada itu datang dari empat orang berbeda di tempat berbeda dan dalam waktu berbeda pula. Amat mengejutkan bagiku.

Empat orang itu dua orang Indonesia, satu warga Singapura sendiri, dan satu lagi orang Belanda. Keempatnya memberikan jawaban senada. Bagi mereka, Singapura itu memang tertib, aman, sejahtera. Namun, terlalu banyak aturan di negeri ini. Biaya hidup juga amat mahal. Makanya terasa mengekang dan membosankan.

Tapi, aku nyatakan sejak awal, pendapat ini amat umum karena hanya berdasar pada obrolan santai. Juga mengandalkan pengamatan selama tiga hari di sana.

Continue reading “Ironi di Balik Sejahteranya Singapura”

Google, Antara Privasi dan Partisipasi

Raksasa internet ini menawarkan keduanya, privasi dan partisipasi.

Dua hal itu yang aku pelajari selama sekitar tiga jam diskusi bersama tim Google di kantor mereka di Singapura Kamis lalu. Dua staf Google, Robin Moroney dan Mike Orgill, bercerita tentang bagaimana Google memberikan keduanya pada pengguna internet.

Continue reading “Google, Antara Privasi dan Partisipasi”

Kesenangan yang Transparan di Kantor Google

Tak ada ruang kerja di kantor Google Asia Pasifik ini.

Hanya ruang bersenang-senang di mana-mana. Tak perlu sekat antar-ruangan, sesuatu yang amat lazim ditemui di perkantoran ala Indonesia. Karena terbuka, jadi setiap orang bisa lihat apa saja yang dikerjakan teman di sebelahnya. Amat transparan.

Continue reading “Kesenangan yang Transparan di Kantor Google”

Singapura, Negeri Penuh Mata dan Denda

Puluhan mata waspada menyambut begitu kami turun dari kereta.

Mata-mata itu diwakili close circuit television (CCTV) yang ada di setiap pojok. Bahkan, di stasiun Kallang, tempat di mana kami turun hari ini, CCTV itu seperti mengintimidasi. Persis di depan pintu saat kami baru turun dari kereta.

Continue reading “Singapura, Negeri Penuh Mata dan Denda”